Sinopsis Lie To Me Episode 2

LIE TO ME
EPISODE 2


Berita bahwa Ki Joon sudah menikah itu menyebar dengan cepat di kalangan staff Hotel dan tentunya berita ini membuat para staff wanita di Hotel merasa patah hati. Bahkan ada seorang koki wanita yang pingsan saat mendengar kabar bahwa Ki Joon sudah menikah.

Staff Hotel : Kau sudah dengar kabar bahwa Direktur Kita sudah menikah?


Petugas resepsionis juga ikut membicarakan rumor Ki Joon yang sudah menikah. Petugas A bertanya-tanya, "Mengapa selama ini dia merahasiakan pernikahannya?" Petugas B menjawab, "Mungkin karena Kepala Direktur(Bibi Ki Joon) menentang pernikahannya itu. Pertunangannya yang terdahulu juga gagal dikarenakan Kepala Direktur." Petugas A mengangguk-anggukan kepala mengerti. Saat kedua petugas resepsionis itu mau masuk kedalam Lift, tiba-tiba saja yang keluar dari dalam lift itu adalah Ki Joon, otomatis kedua petugas resepsionis itu terkejut dan membungkukan kepala memberikan salam pada Ki Joon. Ki Joon belum tau bahwa berita itu sudah tersebar luas sehingga dia tidak begitu menanggapinya.


Ki Joon masuk kedalam ruangannya dan Park Hoon mengikutinya dari belakang. Ki Joon bertanya, "Apakah kau mendengar rumor yang beredar mengenai aku?" Park Hon balas bertanya, "Apakah rumor mengenai pernikahanmu itu?" Ki Joon terkejut mendengarnya, "Kau bahkan mendengarnya juga? Siapa sebenarnya yang menyebarkan rumor itu?" Park Hoon tidak menjawab dan dia justru menatap Ki Joon dengan tatapan penuh selidik, "Kau tidak benar-benar menikah kan? Hmm Mungkin kau menikah tanpa sepengetahuanku." Ki Joon kesal, "YA PARK HOON!! Aku tidak menikah!" Park Hoon tersenyum, "Mengapa kau tiba-tiba naik darah begitu? Tapi jika aku menjadi kau juga ini terasa tidak masuk akal." Ki Joon kesal, "Aku memiliki istri tanpa aku ketahui siapa istriku itu." Park Hoon bertanya, "Apakah kau penasaran? Apakah mungkin gadis itu?" Ki Joon terkejut, "Apakah ada yang mengatakan bahwa dia menikah denganku?" Park Hoon menganggukan kepalanya dan masih tetap tersenyum menggoda Ki Joon. Ki Joon kesal dan memukul meja, "Siapa sebenarnya orang itu??" Park Hoon menjawab, "Percayakan padaku, aku akan menangani masalah ini." Saat Park Hoon akan pergi, Ki Joon tiba-tiba menahannya, "Tunggu sebentar..."


Ah Jung berjalan ke arah kantornya dengan lesu, "Huh aku sedang tidak ingin bekerja!" Terlihat ada mobil yang berhenti di dekat Ah Jung dan turunlah Ki Joondari mobil itu. Ah Jung tersentak kaget melihat Ki Joon, "Hyun Ki Joon?" Ki Joon menghampiri Ah Jung dan bertanya, "Apa kau ini istriku?" Ah Jung bingung dengan pertanyaan Ki Joon itu.


Ah Jung dan Ki Joon pun pergi ke sebuah cafe untuk membicarakan rumor yang beredar mengenai mereka berdua. Ah Jung justru tertawa saat mendengar rumor bahwa dia menikah dengan Ki Joon. Ki Joon kesal dan bertanya, "Huh apa kau pikir hal ini sangat lucu? YA! Gong Ah Jung!" Ah Jung pun berhenti tertawa dan bertanya, "Kau mengapa begitu serius? Ini hanya lelucon saja. Siapa yang menyebarkan itu? Benar-benar menggelikan." Ki Joon terus menatap Ah Jung dengan tajam dan Ah Jung pun bertanya kesal, "Kau tidak berfikir bahwa aku yang menyebarkan rumor ini kan? Itu Bukan aku!" Ki Joon tetap memandang tajam pada Ah Jung, "Ini adalah rencanamu sejak awal kan? Saat kedatanganmu untuk mengembalikan uang itu terasa ganjil. Apa kau juga berpura-pura terkena racun alkohon huh?" Ah Jung kesal, "Hey Direktur Hyun Ki Joon! Walaupun ini terdengar memalukan karena dikatakan oleh diriku sendiri, tapi aku ini cukup populer. Apa alasanku untuk mengedarkan rumor itu?"

Ki Joon berkata, "Jika kau tidak menyelesaikannya maka aku akan menuntutmu. Aku akan menuntutmu atas kasus memfitnah!" Ah Jung kaget, "Menikah denganku itu merusak reputasimu?" Ki Joon berkomentar, "Itu bukanlah masalah yang penting!" Ah Jung berkata dengan cepat, "Itu sangat penting bagiku! Apa kau punya bukti bahwa aku lah yang menyebarkan rumor itu? Jika kau memilikinya maka perlihatkan padaku." Ki Joon terdiam karena memang dia tidak memiliki bukti sama sekali. Ah Jung tersenyum menang, "Kau menyelidiki tanpa bukti." Ki Joon bersikukuh bahwa Ah Jung bersalah, "Aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak akan tinggal diam! Aku akan mengambil tindakan hukum." Ah Jung berkomentar, "Aku pikir kau lah yang memulai menyebarkan rumor ini." Ki Joon marah dan membentak, "Apa kau sudah selesai berbicara hah??"


Rekan-rekan Ah Jung datang ke cafe yang sama dengan yang didatangi oleh Ah Jung dan Ki Joon. Mereka pun terkejut saat melihat Ah Jung sedang duduk dengan wajah serius bersama seorang laki-laki(Ki Joon) dan mereka pun memutuskan untuk mencuri dengar pembicaraan yang sedang dibicarakan oleh Ah Jung itu. Ki Joon melihat rekan-rekan Ah Jung yang sedang mengintip dan dia pun mengicilkan suaranya saat berbicara dengan Ah Jung, "Dengarkan baik-baik! Aku memberi pilihan padamu untuk menjelaskannya sendiri! Jadi persiapkanlah dirimu baik-baik di pengadilan" Ah Jung tersenyum sinis, "Kau lah yang lebih baik bersiap-siap untuk mengumpulkan bukti!" Ki Joon pun pergi meninggalkan cafe itu dengan cepat.


Setelah Ki Joon pergi, rekan-rekan Ah Jung pun menghampiri Ah Jung dan bertanya, "Ya! Siapa itu?" Ah Jung menjawab asal, "Pengikutku!"



Ki Joon keluar dari cafe itu dengan penuh kekesalan. Park Hoon yang sudah menunggu di luar cafe pun langsung menghampiri Ki Joon, "Bagaimana? Apa dia mengakuinya?" Ki Joon menjawab, "Penjahat itu mengatakan bahwa aku lah penjahatnya! Dia bilang bahwa aku lah yang menyebarkan rumor itu!" Park Hoon berkomentar, "Aku kan sudah katakan padamu agar aku saja yang mengaturnya." Ki Joon kesal, "Carikan pengacara untukku. Yang terbaik!" Park Hoon bertanya, "Untuk apa?" Ki Joon menatapnya tajam dan Park Hoon pun berkata, "Ah Tidak. Silahkan masuk ke mobil."


Park Hoon datang ke kantor pengacara. Di kantor pengacara itu terlihat sedang ada masalah karena ada seorang wanita tua yang memukuli pengacara yang gagal membuatnya memenangkan kasus. Park Hoon hanya melihat kejadian itu dari arah belakang kerumunan orang-orang. Jae Bum yang seorang pengacara juga ada di kantor itu dan dia melihat Park Hoon. Jae Bum bertanya, "Yang kau butuhkan adalah seorang pengacara? Hmm aku pengacara." Park Hoon melihat penampilan Jae Bum dari atas sampai bawah dan dia pun akhirnya setuju.

Park Hoon masuk kedalam ruangan Jae Bum. Jae Bum bertanya, "Jadi apa masalahnya? Perceraian?" Park Hoon meneliti rungan Jae Bum itu dan Jae Bum berkata, "Jangan khawatir. Cukup katakan saja padaku." Park Hoon berkomentar, "Sebenarnya ini belum pasti juga. Yang aku maksud itu... Hmm ini bukan tentang diriku, tapi temanku. Hmm temanku ini bertemu dengan seorang wanita yang menyebarkan rumor dengan mengatakan bahwa wanita itu telah menikah dengan temanku. Apa cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini?" Jae Bum berkomentar, "Wanita itu benar-benar gila. Mengapa bukan temanmu yang datang kemari?" Park Hoon menjawab, "Itu karena dia sibuk." Jae Bum mengerti dan kemudian meminta Park Hoon untuk menceritakan kasus ini lebih detail.



Jae Bum dan Park Hoon pun keluar dari ruangan Jae Bum. Jae Bum berkata, "Tolong katakan pada temanmu itu jika dia mau membawa kasus ini ke pengadilan maka cari saja aku." Saat Park Hoon akan pergi, Jae Bum menahannya dan berkata, "Sepertinya kau harus menambah biaya konsultasi karena waktu konsultasinya ini terlalu lebih 18 menit." Park Hoon terdiam, "Hah? 18 menit? Ah baiklah." Park Hoon memberikan salam lalu dia pergi meninggalkan ruangan Jae Bum.


Setelah Park Hoon pergi, datanglah So Ran sambil marah-marah pada Jae Bum, "Sayang!! Apakah kau begitu sibuk hingga tidak menjemputku?" Jae Bum panik dan segera membawa koper yang di bawa oleh So Ran, "Maafkan aku. Aku sungguh ingin menjemputmu tadi." So Ran marah, "Apakah otakmu itu bahkan tidak bisa mengingat hal kecil itu hah??" Jae Bum menjawab, "Sejujurnya tadi aku ada klien. Apakah kau tidak lihat ada seseorang yang keluar dari ruanganku huh? Aku bahkan tidak makan siang itu karena aku bekerja tanpa henti." So Ran bertanya, "Kasus apa yang sedang ditangani?? Katakan padaku." Jae Bum berkata, "Ah itu... Bagaimana mungkin aku menceritakan kasus klienku pada orang lain?" So Ran kembali marah, "Tidak ada rahasia diantara pasangan itu!!!" Jae Bum kebingungan, "Aku tidak bisa mengatakannya. Ini adalah kode etik seorang pengacara." So Ran membentak dan akhirnya Jae Bum pun buka mulut, "Ya mengenai seorang wanita yang menyebarkan rumor telah menikah dengan klienku." So Ran berkomentar, "Huh apa bagusnya dengan mengatakan telah menikah?"



Ki Joon dan Park Hoon keluar dari dalam lift dan menuju ke Lobby Hotel. Para staff terlihat terkejut saat melihat kedatangan Ki Joon ke lobby hotel. Ki Joon berhenti di tengah lobby dan berkata dengan keras sehingga para staff hotel pun dapat mendengarnya, "Aku tidak tau mengapa ada rumor seperti itu! Aku akan menemukan siapa yang telah menyebarkan rumor tersebut dan jika ketemu, maka aku akan segera mengambil tindakan hukum!" Para staff hanya terdiam dan pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ki Joon bertanya, "Mengapa tidak ada yang berkomentar?" Park Hoon menjawab, "Ini adalah masalah yang membutuhkan waktu, bukan masalah yang dapat selesai dengan cepat." Ki Joon berfikir sesaat, "Sepertinya memang memerlukan waktu. Jadi kalian sebaiknya mencari clue siapa wanita yang telah menyebarkan rumor itu."

Park Hoon bertanya, "Apakah kau akan membawa kasus ini ke pengadilan?" Ki Joon menjawab, "Tentu saja." Park Hoon dengan cepat berkata, "Kau tidak bisa melakukannya! Maksudku... Kau tidak boleh terlaru keras pada wanita itu."Ki Joon kesal, "DIAM!" Para staff pun kaget mendengar bentakan Ki Joon. Ki Joon lalu menarik Park Hoon ke daerah yang lebih sunyi namun para staff tetap bisa mendengar pembicaraan Park Hoon dan Ki Joon. Ki Joon bertanya, "Apa maksudmu itu?" Park Hoon menjawab, "Apakah kau tidak berfikir untuk berbicara baik-baik dari pada langsung membawanya ke pengadilan?" Ki Joon berkomentar, "Aku juga ingin seperti itu namun wanita itu sungguh keras kepala!"


Park Hoon bertanya, "Kau pikir orang-orang akan lebih percaya pada siapa?" Ki Joon dengan cepat menjawab, "Tentu saja orang-orang akan percaya padaku." Para staff hotel yang mendengar itu langsung menggelengkan kepala tanda mereka tidak percaya pada Ki Joon dan sepertinya Park Hoon juga tidak percaya pada Ki Joon. Ki Joon yang melihat mimik Park Hoon pun bertanya, "Apakah kau pikir bahwa orang-orang akan lebih percaya pada wanita itu?" Para Staff dengan cepat menganggukan kepalanya. Park Hoon berkomentar, "Bagaimana mungkin ada asap tanpa api? Orang-orang akan berfikir bahwa kalian ini tidak ada hubungan jika wanita itu yang mengatakan. Mengapa kau tidak....." Ucapan Park Hoon di potong secara tiba-tiba oleh Ki Joon, "Kau lakukan saja yang aku pinta untuk menghubungi pengacara!"


Ada seorang laki-laki yang berjalan menuruni tangga dan laki-laki itu adalah temannya Ki Joon. Teman Ki Joon pun menyapa Ki Joon, "Hey Hyun Ki Joon! Kau tidak lupa bahwa minggu ini kita ada pesta kan? Jangan katakan bahwa kau terlalu sibuk!" Ki Joon menjawab, "Aku akan datang." Teman Ki Joon itu lalu berkata, "Ah dan pastikan kau membawa istrimu. Semuanya juga sudah tau bahwa kau sudah menikah." Ki Joon kaget, "Apa? Itu tidak benar! Ini semua hanya rumor saja!!" Teman Ki Joon berkata, "Ya ya ya aku tau. Kau menutupunya karena Bibi-mu tidak menyetujuinya kan? Ah kau tidak perlu menyembunyikannya dari kami. Kami akan selalu ada di sampingmu. Aku pergi ya." Teman Ki Joon berjalan pergi sambil berteriak di tengah Lobby Hotel, "Cinta itu selamanya. FIGHTING!!!!" Ki Joon kesal dan balas berteriak. "Sudah kukatakan itu semua tidak benar!!!!"


Ki Joon dan Park Hoon kemudian masuk kedalam lift. Park Hoon berkata, "Boss..." Ki Joon yang sedang kesal pun berkata pada Park Hoon, "Jangan katakan apapun!!" Park Hoon pun terdiam mendengar perintah Ki Joon.



Ah Jung sedang melihat-lihat foto yang diambil saat Festival Kebudayaan Korea. Tiba-tiba saja pintu ruangan yang sepi itu terbuka lebar dan datanglah Ki Joon yang langsung menyeret Ah Jung ke ujung ruangan, "Kau kan yang menyebarkan rumor bahwa Hyun Ki Joon adalah suamimu hah?? Jujurlah padaku! Kau telah merencanakan semuanya kan???" Ah Jung panik dan berusaha melepaskan dirinya dari Ki Joon, "Aku sudah katakan bukan aku!! Mengapa kau tetap memaksa?" Ki Joon marah, "Pembohong! Aku akan membongkar kebohonganmu itu!" Ah Jung lalu berkata, "Bukti!! Apakah kau ada bukti??? Perlihatkan padaku!!" Ki Joon lalu menunjuk layar proyektor yang ada di ruangan itu, "Itu buktinya!!"

Di layar proyektor itu tiba-tiba muncul rekaman saat Ah Jung berada di salon bersama dengan Jae Bum dan So Ran. Pada saat itu Ah Jung berkata, "Apakah kalian tidak tau? Aku sudah menikah."



Ah Jung langsung terbangun dari mimpinya. Ah Jung bertanya-tanya dengan panik, "Apa karena itu? Tidak... Tidak... Tidak mungkin! Aku tidak mengatakan siapa yang aku nikahi. Oh benar-benar aku tidak mengatakan siapa yang aku nikahi!!" Tiba-tiba HP Ah Jung berbunyi dan itu merupakan telfon dari Ki Joon, "Hallo. Aku Hyun Ki Joon, ayo kita bertemu." Ah Jung panik dan langsung mematikan HPnya. Ah Jung berkata pada dirinya, "Bagaimana ini... Hyun Ki Joon akan datang!"



Sementara itu Ki Joon bingung dengan Ah Jung yang langsung mematikan telfon. Ki Joon bergumam kesal, "Bagaimana bisa dia mutup telfonku?!" Ki Joon melihat supirnya yang sedang menyetir dan dia bertanya pada supirnya, "Hm kau tidak mendengar apa yang katakan kan?" Supir Ki Joon menjawab, "Tidak dengar." Ki Joon pun langsung bernafas lega.


Ah Jung pergi ke kamar mandi dan diam di balik bilik kamar mandi. Ah Jung berkata, "Mengapa harus Hyun Ki Joon?? Mengapa dia??? Mengapa dia terus menekanku? Harusnya dia memberikan waktu untuk berfikir!! Tunggu... Apakah dia benar-benar akan datang kemari? Oh Tidak!!" Ah Jung keluar dari bilik kamar mandi dengan terburu-buru sehingga ia menabrak salah satu rekan kerjanya. Rekan kerja Ah Jung bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" AH Jung dengan terburu-buru menjawab, "Ah maafkan aku... maaf..." Ah Jung dengan segera pergi dari kamar mandi dan menuju lobby kantor.



Di lobby kantor itu Ah Jung sedang berjalan menuju pintu keluar, namun langkah Ah Jung itu langsung terhenti karena dia melihat Ki Joon yang sedang berjalan masuk ke dalam kantornya itu. Ah Jung pun memilih untuk bersembunyi di balik poster besar yang ada di lobby kantor.


Ki Joon menghampiri resepsionis yang ada di lobby kantor Ah Jung itu, "Bisa tolong kau bantu untuk hubungi Nona Ah Jung dari Bagian Kebudayaan?" Resepsionis itu kemudian menjawab, "Nona Ah Jung sudah selesai bekerja." Ki Joon bertanya kembali, "Apa dia sudah meninggalkan kantor?" Resepsionis itu menjawab, "Dia sedang dalam perjalanan turun." Ki Joon melihat ke arah pintu keluar, "Itu pintu keluarnya kan? Kalau begitu tidak apa-apa jika aku menunggu di lobby kan?" Resepsinois itu pun mengangguk sebagai jawaban 'Iya'.


Ah Jung terlihat begitu panik saat melihat Ki Joon yang menunggu di tengah lobby. Ah Jung berkata, "Aku tidak bisa diam disini terus. Ayo berfikir.... berfikir..."

Rencana 1 Ah Jung:
Ah Jung menatap poster besar yang dijadikan sebagai tempat bersembunyi dan dia pun mulai bergerak ke arah pintu keluar sambil menutupi tubuhnya dengan poster besar itu. Terlihat beberapa orang yang melihatnya dan tertawa, sementara Ki Joon sama sekali tidak menyadari poster besar yang terus berpindah-pindah itu. Namun Ah Jung menolak rencana itu karena itu hanya akan membuat dirinya malu di depan rekan-rekan kerjanya.

Rencana 2 Ah Jung:
Ah Jung berusaha lari secepat mungkin menuju pintu keluar namun Ah Jung berhasil ditangkap oleh Ki Joon yang gerakannya lebih cepat dari pada Ah Jung. Ah Jung berkomentar, "Tidak... Tidak... Aku tidak bisa melakukan ini karena dia pasti lebih cepat geraknya dari pada aku."

Rencana 3 Ah Jung:
Ah Jung keluar dari balik poster besar itu sambil berteriak dan menunjuk Ki Joo, "Lihat laki-laki itu!! Laki-laki itu yang terus menindasku!!" Teman Ah Jung yang melihat itu berkomentar, "Ah maaf aku tidak memiliki kekuatan besar untuk melawan pria itu jadi sebaiknya kau melaporkannya pada polisi saja." Ah Jung membatalkan menggunakan rencana ke 3 karena teman-temannya itu pasti akan menolak untuk membantu dirinya melawan Ki Joon.



Ah Jung kehabisan ide dan terus bersembunyi di balik poster besar itu. Tiba-tiba ada yang bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?" Ah Jung terkejut karena ternyata yang bertanya itu adalah Kepala Atasan. Ah Jung keluar dari persembunyiannya itu dengan ragu-ragu, "Hmm aku dari bagian kebudayaan sedang mengatasi masalah anak-anak dan sedang membuat satu project." Kepala Atasan bertanya, "Oh benarkah? Apakah itu ide yang bagus?" Ah Jung melirik ke arah Ki Joon yang sedang menatap kearahnya juga dan kemudian Ah Jung berkata pada Kepala Atasan, "Kau pasti sangat sibuk, bagaimana jika kita membicarakannya sambil berjalan keluar?" Ah Jung pun berjalan disisi Kepala Atasan menuju pintu keluar sambil terus membicarakan project yang sedang di rancangnya. Sementara itu Ki Joon terus melihat ke arah Ah Jung yang berjalan ke pintu keluar.


Saat sampai di pintu keluar, Ah Jung langsung masuk kedalam mobil Kepala Atasan dan meninggalkan Ki Joon yang masih terus menatapnya. Ki Joon berkomentar, "Hmm sepertinya dia menjalankan tugasnya dengan baik."



Ah Jung meminta pada supir Kepala Atasan untuk menurunkannya di sebuah jalan. Kepala Atasan bertanya, "Apakah kau tinggal disini?" Ah Jung menjawab, "Ah tidak. Aku hanya ingin mampir di rumah kenalanku sebentar." Kepala Atasan lalu berkomentar, "Ah mengenai ide-mu itu kurasa itu bukan ide yang buruk. Kau cobalah buat laporan program itu." Ah Jung tersenyum dan turun dari mobil. Saat mobil kepala Atasan sudah pergi, Ah Jung berkata, "Apa? Membuat laporan? Aku sudah benar-benar gila... Bagaimana ini? Aku mendapatkan masalah kembali..."



Ah Jung berjalan dan mendatangi sebuah cafe. Seorang wanita bernama Shim Ae Kyung sepertinya sudah mengenai Ah Jung dan dia pun bertanya pada Ah Jung, "Ada apa?" Ah Jung menjawab lemah, "Huh aku terlalu lelah. Ah kepalaku sakit..." Ae Kyung pun kemudian pergi berjalan ke arah Dapur dan meninggalkan Ah Jung.



Suk Bong yang bekerja di cafe itu pun bertanya pada Ae Kyung, "Siapa wanita itu?" Ae Kyung menjawab, "Bukan wanita jahat."



Ah Jung terus mengomel kesal, "Bagaimana pun kerasnya aku berfikir, aku masih tidak mengerti mengapa harus Hyun Ki Joon?? walaupun aku ini bukan apa-apa, namun mengapa harus dengan laki-laki kasar itu?" Omelan Ah Jung itu membuat Sang Hee yang duduk di sudut cafe itu pun terbangun. Sang Hee menatap ke arah Ah Jung dan berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu Ah Jung. Ah Jung juga melihat Sang Hee dan sepertinya pernah bertemu di suatu tempat. Mereka berdua mulai ingat dan Ah Jung langsung berkata, "Kau pencuri itu!" Sementara Sang Hee berkata, "Surat pengunduran diri!" Sang Hee tersenyum dan berkomentar, "Apakah ini takdir?" Ah Jung kesal mendengarnya.

Ae Kyung datang menghampiri Ah Jung dan melihat Ah Jung yang sedang berbicara dengan Sang Hee. Ae Kyung bertanya, "Apakah kalian saling kenal?" Ah Jung menjawab, "Tidak." Sementara Sang Hee menjawab, "Ya." Ah Jung menatap Sang Hee dengan kesal dan kemudian berkata pada Ae Kyung, "Aku mau pergi ke tempat yang tenang, aku pergi." Melihat kepergian Ah Jung itu, Sang Hee justru tersenyum.



Ah Jung keluar cafe dan mengomel, "Hari ini mengapa aku mendapatkan banyak kesialan??" Sang hee berlari menghampiri Ah Jung sambil terus tersenyum, "Hey takdirku ayo jalan bersama." Ah Jung kesal, "Jangan membicarakan masalah takdir dengan begitu mudahnya." Sang Hee kemudian berkata, "Hey bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku? Karena aku lah maka sekarang kau tidak menjadi pengangguran. Jika aku tidak mengambil surat pengunduran dirimu itu maka kau pati sudah melemparkan surat itu pada bossmu. Jadi aku ini adalah penyelamatmu kan?" Ah Jung terlihat tersenyum sekilas, "Huh kau sebaiknya selamatkan saja hidupmu sendiri." Ah Jung pun berjalan pergi.

Sang Hee tersenyum dan berkata pada dirinya sendiri, "Hmm jika dia berjalan pergi maka ini sebuah kebetulan saja, namun jika aku mengejarnya maka ini lah takdir." Sang Hee kemudian berteriak memanggil Ah Jung, "Gong Ah Jung!!" Ah Jung yang sedang berjalan pun berhanti berjalan dan berbalik menatap Sang Hee. Sang Hee kemudian bertanya, "Surat pengunduran dirimu itu, apa yang harus kulakukan dengan itu?" Ah Jung terlihat berfikir.



Di cafe, Ae Kyung terlihat sedang membicarakan Sang Hee bersama dengan Suk Bong. Ae Kyung bertanya pada Suk Bong, "Apa? Dia sedang di cari oleh keluarganya?" Suk Bong balas bertanya, "Apakah kau pikir jika laki-laki itu adalah seniman miskin?" Ae Kyung menjawab, "Aku berfikir begitu karena aku dengar dia tinggal bersamamu." Suk Bong berkata, "Dia itu berasal dari keluarga yang jika di sebutkan namanya maka akan membuat orang-orang kagum." Ae Kyung bertanya, "Lalu mengapa dia tidak pulang ke rumah? Apakah dia diusir?" Suk Bong menjawab, "Bukan. lebih tepatnya karena dia terlalu malu untuk kembali." Ae Kyung bingung dan terus bertanya, "Kenapa? Apa alasannya?" Suk Bong menjawab, "Hmm rahasia." Ae Kyung kesal mendengar jawaban Suk Bong itu. Suk Bong bertanya. "Tapi mengapa mereka(Sang Hee dan Ah Jung) bisa saling kenal?" Ae Kyung menjawab, "Karena sesuatu yang disebut takdir." Suk Bong tertawa mendengarnya. Ada tamu yang datang ke cafe itu dan Ae Kyung pergi meninggalkan Suk Bong untuk menghampiri para tamu. Suk Bong kemudian berkomentar, "Mungkin kita ini juga sebuah takdir..."



Sang Hee pergi ke sebuah kedai makan bersama dengan Ah Jung. Sang Hee mengomentari makanan di kedai itu, "Hmm rasa sup di kedai ini tidak pernah berubah, tetap sama seperti saat aku sering datang kemari bersama temanku." Ah Jung kemudian berkata, "Surat pengunduran diri itu kau harus mengembalikannya padaku. Barangku ada di orang yang tidak aku kenal dan aku merasa tidak nyaman." Sang Hee kemudian tertawa dan berkata, "Apakah kau bahkan tidak akan menanyakan namaku?" Ah Jung menjawab, "Kita ini ada di sebuah hubungan yang kurasa tidak perlu saling bertukar nama." Sang Hee tersenyum, "Hyun Sang Hee. Kau harus ingat namaku, walaupun kau tidak tertarik untuk tau." Sang Hee kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ah Jung di kedai itu. Ah Jung berkata, "Hmm Hyun Sang Hee? Mengapa begitu banyak nama marga Hyun? Aish mengapa harus ada Hyun Ki Joon??"


Ki Joon sedang rapat dengan beberapa penanam saham dan mereka membahas mengenai investasi mereka di China.


Selesai rapat itu, Ki Joon pergi makan bersama dengan Bibinya. Pada awalnya mereka berdua membahas masalah bisnis dan Bibi mengharapkan agar Ki Joon bekerja dengan sangat baik dalam project ini karena ini merupakan project yang besar. Namun kemudian raut wajah Bibi terlihat khawatir dengan Sang Hee yang sampai sekarang tidak ada kabar. Ki Joon berkata, "Aku sudah menelfonnya berkali-kali. Dia sekarang tinggal dengan teman kampusnya Suk Bong." Bibi bertanya, "Mengapa dia tidak kembali juga?" Ki Joon menjawab, "Dia sepertinya tidak nyaman ada di sekitarku." Bibi berkomentar, "Tentu saja. Jika kau jadi dia maka kau juga tidak akan nyaman kan?? Karena mementingkan diri sendiri maka adik kaka bertengkar karena masalah pernikahan. Tingkah kalian sungguh bodoh hanya karena wanita! Sungguh memalukan." Ki Joon terdiam mendengar perkataan Bibinya itu.



Ki Joon kembali ke kantornya dan dia mengingat kata-kata dari Bibinya itu. Ki Joon membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah figura yang di dalamnya terdapat selembar foto. Di foto itu terlihat ada Ki Joon, Sang Hee dan seorang wanita yang duduk diantara mereka berdua.


HP Ki Joon berbunyi dan itu merupakan telfon dari Ah Jung. Ah Jung berkata, "Ini Gong Ah Jung, bagaimana jika kita berbicara sebentar? Secara pribadi. Hey apakah kau mendengarkan aku?" Ki Joon bangkit dari duduknya dan bertanya, "Dimana kau sekarang?"



Ki Joon datang ke sebuah danau dan dia berusaha mencari Ah Jung namun dia tidak melihatnya. Sementara itu Ah Jung dari arah pinggir Danau sedang melambaikan tangannya berusaha memanggil Ki Joon. Ki Joon pun menghampiri Ah Jung yang berpenampilan aneh pada hari ini. Ki Joon bertanya, "Mengapa kau ingin aku datang kesini?" Ah Jung menjawab, "Bukan disini. Ayo kita berbicara saat kita mengendarai itu." Ki Joon menatap ada kapal bebek untuk di danau. Ah Jung berusaha menarik Ki Joon menuju kapal bebek itu namun Ki Joon menolak. Ki Joon melihat daerah sekitar danau yang cukup ramai dan dia pun akhirnya setuju untuk membicarakan hal itu di kapal bebek.



Ah Jung berusaha untuk mengkayuh kapal bebek itu sementara Ki Joon memperhatikan kapal bebek yang penuh dengan sampah dan sangat kotor. Ah Jung berkomentar, "Kau cepatlah bantu untuk mengkayuhnya!! Kita akan berbicara saat kita sudah sampai ditengah-tengah danau itu. Kita akan membicarakannya saat orang-orang tidak melihat kita." Ki Joon pun tidak ada pilihan lain selain ikut membantu mengkayuh kapal bebek itu.

Setelah dirasa kapal bebek mereka ada di tengah danau dan tidak akan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka maka Ah Jung pun mulai mengatakan apa alasan dia memilih danau itu sebagai tempat pertemuan mereka, "Aku tidak tau bagaimana ada rumor yang beredar mengenai kita. Jika kita bertemu di hotel atau di coffee shop maka orang-orang akan berfikir bahwa hal itu cukup aneh." Ki Joon bertanya, "Jadi itu sebabnya kau memintaku datang kemari?" Ah Jung menjawab, "Ya. Orang-orang kenalanku tidak pernah datang ke tempat ini dan sepertinya orang disekitarmu juga tidak suka datang ke tempat seperti ini, jadi ini adalah tempat yang paling aman di Seoul untuk kita bertemu." Ki Joon kesal, "Kalau begitu mengapa tidak di gunung saja sekalian?" Ah Jung menjawab, "Di gunung banyak pendaki gunung. itu lah sebabnya disini lebih baik."

Ah Jung lalu membahas masalah rumor yang mengatakan dia telah menikah dengan Ki Joon, "Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak pernah mengatakan telah menikah denganmu. Sungguh aku tidak pernah mengatakannya." Ki Joon ingin marah namun dia ingat kata-kata Park Hoon, "Jangan marah! Pikirkan dengan baik-baik. Fighting!!" Ah Jung berkata, "Namun aku juga tidak mengatakan bahwa aku tidak terlibat dalam rumor ini." Ki Joon bertanya, "Maksudmu?" Ah Jung tersenyum pahit, "Kau mengerti kan bahwa... hmm ya hanya lelucon. Jika aku mengatakan aku belum menikah maka itu terdengar aneh. Jadi aku mengatakan pada temanku bahwa aku sudah menikah. Hm mungkin ini alasannya. Waktu itu aku mengatakannya tanpa memikirkannya dahulu" Ki Joon terkejut, "Jadi intinya kau mengatakan sudah menikah, namun kau tidak pernah mengatakan bahwa kau menikah denganku?" Ah Jung tersenyum, "Ya. Kau sungguh cerdas."


Terlihat di kapal bebek lainnya ada pasangan yang sedang bertengkar dan si perempuan terjatuh ke danau. Ah Jung yang melihatnya sangat terkejut dan langsung melompat ke danau untuk menyelamatkan perempuan itu. Ki Joon terkejut melihat tindakan Ah Jung itu. Ki Joon pun ikut melompat ke danau untuk menolong perempuan itu karena si perempuan itu tidak menggunakan pelampung.




Kejadian Ah Jung dan Ki Joon yang melompat ke dalam danau untuk menyelamatkan perempuan itu pun menarik perhatian orang-orang di sekitar Danau. Si perempuan itu berhasil di selamatkan dan langsung di bawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulans. Sementara itu Ah Jung dan Ki Joon di berikan tepuk tangan yang meriah dari orang-orang. Ah Jung tersenyum dan melambaikan tangan pada orang-orang yang bertepuk tangan itu, sementara Ki Joon berusaha menutupi wajahnya dengan selimut yang di berikan.

Ah Jung dan Ki Joon pun kemudian berjalan menjauhi kerumunan orang-orang yang berkumpul. Ki Joon tiba-tiba bertanya, "Kau tadi mengapa tiba-tiba melompat hah?" Ah Jung menjawab, "Lalu apa yang harus kulakukan? Membiarkannya begitu saja?" Gi Jung menjawab, "Ada kapal lain di sekitar situ, bahkan ada seorang laki-laki yang memakai pelampung yang bisa menyelamatkannya. Kau tidak perlu menyelamatkannya!" Ah Jung berkata, "Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Ki Joon marah, "Kau bukankah bilang bahwa kita harus berhati-hati agar tidak dilihat orang banyak hah?? Apa ini yang namanya hati-hati?" Ah Jung panik, "Apa yang harus kulakukan? Aish..."

Ki Joon yang kesal dengan Ah Jung pun langsung berjalan pergi meninggalkan Ah Jung. Ki Joon mencari kunci mobilnya namun dia tidak menemukannya. Ah Jung yang melihat itu pun ikut mencari kunci mobilnya di dalam saku celana dan ternyata ada. Ah Jung berkata pada Ki Joon, "Sepertinya kau kehilangan dompet, HP dan bahkan kunci mobilmu. Masuklah ke mobilku, aku akan mengantarkan kamu." Ki Joon justru membalas tawaran baik Ah Jung itu dengan mengumpat "Kau cepet pergi dari arah pandanganku!" Ah Jung bertanya, "Kau tidak akan menyesal menolak tawaranku ini hah? Baiklah aku pergi..." Ki Joon melihat ke arah kerumunan orang-orang yang masih menatap ke arahnya dan dia pun berjalan ke arah mobil Ah Jung dan langsung masuk. Ah Jung yang melihat sikap Ki Joon itu pun langsung tertawa.


Di dalam mobil, Ki Joon terlihat tidak nyaman karena mobil yang terlalu sempit itu. Ki Joon bertanya, "Mengapa membeli mobil seperti ini?" Ah Jung kesal, "Huh sudah bagus aku memberikan tumpangan padamu." Ki Joon berkomentar, "Sudah kukatakan aku tidak perlu tumpangan darimu." Ah Jung kesal, "Kalau begitu harusnya kau tunggu saja di danau tadi itu. Dan biarkan orang-orang melihat penampilanmu yang seperti itu. Aku hanya mengatakan apa yang akan orang-orang pikirkan. Kalau aku salah maka maaf." Ki Joon berkomentar, "Ya kau salah!" Ah Jung hanya tersenyum sekilas.



Ah Jung mengantar Ki Joon ke rumah Ki Joon dan dia berkata, "Aku tidak akan meminta ongkos telah mengantarmu kemari." Ah Jung bersin dan kemudian Ki Joon berkata, "Kau turunlah." Ah Jung menolak, "Tidak apa-apa. Aku akan segera pulang dan mengeringkan pakaianku." Ki Joon berkomentar, "Mari kita lanjutkan pembicaraan yang tadi." Ah Jung mengeluh sebentar namun dia setuju untuk mampir di rumah Ki Joon.

Ah Jung turun dari mobilnya dengan menggunakan masker dan juga kacamata, Ki Joon yang melihat penampilan Ah Jung pun terkejut. Ki Joon bertanya, "Mengapa penampilanmu seperti itu?" Ah Jung menjawab, "Kita harus berhati-hati. Bahkan dinding juga memiliki telinga." Ki Joon berjalan masuk dan berkata, "Tidak ada siapapun di rumah." Ah Jung terkejut, "Bahkan pembantupun tidak ada?" Ki Joon tidak menjawab dan berjalan masuk kedalam rumahnya sementara Ah Jung mengikutinya dari belakang.


Pakaian Ah Jung sedang dikeringkan dan sementara itu dia menggunakan handuk kimono. Ah Jung melihat-lihat rumah Ki Joon dan merasa terkesal. Ah Jung lalu bertanya pada Ki Joon yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca buku, "Berapa harga tanah per meternya?" Ki Joon menjawab, "Untuk Pegawai negeri seperti kau itu rasanya tidak mungkin membelinya." Ah Jung kesal, "Siapa bilang aku mau membelinya? Aku mau mencari suami yang tinggal di tempat seperti ini." Ki Joon menatapnya tajam dan Ah Jung melanjutkan ucapannya, "Hmm hanya bercanda. " Ki Joon menutup buku yang di bacanya dan berkata, "Mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang belum selesai tadi." Ah Jung bingung dengan raut wajah Ki Joon yang serius, "Mengapa kau begitu serius hah? Hm baiklah aku akan menyelesaikannya. Hmm mengenai penjelasan bahwa kita menikah ini terlalu sulit untuk di jelaskan ya?" Ki Joon berkata, "Tidak sulit namun orang-orang sulit percaya padaku." Ah Jung tertawa, "Apakah tidak ada satu orang pun yang percaya padamu?" Ki Joon kesal, "Gong Ah Jung!!"

Ah Jung berkata, "Kalau begitu kau hanya perlu mengumpulkan orang-orang dan aku akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Bukankah itu solusi yang cepat?" Ki Joon menatap Ah Jung dengan tajam, "Apakah kau selalu semudah itu dalam menyelesaikan masalah?" Ah Jung menjawab, "Apa masalah harus di selesaikan dengan rumit? Karena aku yang memulainya maka aku juga harus mengakhirinya." Ki Joon bertanya bingung, "Mengapa kau melakukannya? Jika menurutmu kau tidak salah maka mengapa kau harus menyelesaikan semua ini?" Ah Jung menjawab, "Karena aku juga korban. Apa kau pikir aku ini mau dianggap sudah menikah denganmu hah?" Ki Joon menatap Ah Jung kesal.

Petugas laundry datang dan memberikan pakaian Ah Jung yang sudah selesai dikeringkan. Ah Jung segera mengambil pakaian itu dan mengganti bajunya.


Ki Joon mengantarkan Ah Jung keluar rumahnya dan Ah Jung berkata, "Aku pergi. Sampai jumpa nanti." Ah Jung segera berlari ke mobilnya. Ki Joon berteriak pelan, "Kau lepaskan maskermu itu, kau bisa membuat orang-orang takut." Ah Jung menjawab, "Yang penting keamanan!" Setelah kepergian Ah Jung itu, Ki Joon bergumam, "Kau korban??"


Ah Jung pergi ke sebuah taman dan dia melihat Ayahnya yang sedang terduduk lesu. Ah Jung pun menghampiri Ayahnya dan duduk di sampingnya, "Huh tidak apa-apa jika tidak menelfon namun kau bahkan tidak memasak dan justru datang kemari." Ayah Ah Jung berkata pelan, "Ah Jung... Ayah hari ini sedang merasa tidak nyaman." Ah Jung bertanya, "Kenapa? Karena temanmu itu di penjara kembali? Berapa banyak yang dia ambil hingga tertangkap?" Ayah Ah Jung menghembuskan nafas lemah, "Hampir semua temanku memiliki catatan kriminal." Ah Jung bertanya, "Hah? Bukankah teman-temanmu justru lebih sukses dari padamu?" Ayah Ah Jung menjawab, "Ya itu sebabnya." Ah Jung berkata, "Untuk orang lain kesuksesan itu adalah sebuah kehormatan. Teman-temanmu itu ada dari kalangan pejabat, apa kau tidak iri?" Ayah Ah Jung bertanya, "Apa kau berharap aku d penjara juga? Aku tidak ingin di penjara."

Ayah Ah Jung tersenyum, "Gong Ah Jung, kau harus menjaga baik-baik dirimu." Ah Jung balas tersenyum, "Tanpa kau mengatakannya juga aku akan menjaga diriku baik-baik. Apakah kau pikir aku akan bernasib tragis seperti teman-temanmu yang lain?" Ayah Ah Jung menjawab, "Putriku tidak mungkin bernasib seperti mereka. Aku percaya putriku walaupun dia sedikit kurang ajar. Tapi... Apakah kau tidak membuat masalah apapun?" Ah Jung kaget dan menjawab, "Tidak... Aku tidak membuat masalah apapun."


Ki Joon masuk keruangannya dan Park Hoon ikut berjalan di belakangnya. Ki Joon bertanya, "Apakah belum ada kabar apapun dari Sang Hee?" Park Hoon menjawab, "Belum ada. Kemarin aku khawatir karena aku tidak bisa menghubungimu." Ki Joon berkata, "Aku kehilangan HPku. Tolong carikan yang sama dan dengan nomor yang sama." Park Hoon lalu bertanya, "Apakah pembicaraanmu dengan wanita itu berjalan lancar?" Ki Joon justru balas bertanya, "Tentang apa?" Park Hoon bingung, "Aku sudah mengatakan banyak hal padamu dan kau masih ingin membawa kasus ini ke pengadilan?" Ki Joon menjawab, "Tidak. Aku tidak bertengkar dengannya. Mungkin telah terjadi salah paham. dan mungkin dia bukan biang onar." Park Hoon terlihat kebingungan, "Kau baru satu hari bertemu dengannya dan kau sudah bisa mengatakan hal yang baik tentang wanita itu?" Ki Joon bertanya, "Apa maksudmu?" Park Hoon menjawab, "Tidak..."


Manager Park masuk kedalam lift dan di lift itu ada Ki Joon. Manager Park berkata, "Mereka ingin kita membantu dalam shooting drama. Bagaimana menurutmu? Apa kau ingin menolaknya?" Ki Joon menjawab, "Kita diskusikan saja dulu." Manager Park terdiam kemudian. Ki Joon bertanya, "Mengapa kau jadi seperti ini? Aku sudah katakan bahwa aku tidak menikah." Manager Park tertawa pelan dan bertanya, "Apa hubungannya denganku?" Ki Joon menjawab, "Ya!! Kita ini masih berteman kan?" Manager Park menjawab, "Aku tidak mengenal kata teman di kantor." Ki Joon menatap kesal pada Manager Park.


So Ran dan teman-temannya itu sedang membicarakan tentang Ah Jung. Rae Yeon berkata, "Suami Ah Jung itu adalah Hyun Ki Joon pemilik World Hotel." Tentu saja So Ran terkejut mendengarnya, "Hyun Ki Joon??" Rae Yeon menjawab, "Ya. Laki-laki itu lah yang waktu itu di temui oleh Ji Eun di Hotel World. " Bo Yeon ikut berkomentar, "Kami awalnya tidak percaya, namun sepertinya hal ini adalah kenyataan." Rae Yeon kembali berkata, "Kami sudah mengkonfirmasinya saat kau pergi ke Canada." So Ran bertanya, "Apakah kalian tau dari Ah Jung?" Rae Yeon menjawab, "Tidak. Kita tidak tau nomor telfonnya sehingga kita tidak menelfonnya. Ah apa kau tau Chun Young? Dia bilang, dia datang ke upacara pernikahan Ah Jung." Bo Yeon berkata, "Huh bagaimana mungkin dia mengundang Chun Young dan kita tidak diundang sama sekali?? Dia keterlaluan." So Ran tersenyum licik, "Huh apakah kalian percaya dengan kata-kata Chun Young? Dia bahkan pernah mengaku datang ke pernikahan Angelina Jolie dan Brad pitt."

Rae Yeon berkata, "Tapi masa Chun Young berbohong pada kita?" So Ran tetap tidak menerima omongan teman-temannya itu, "Apa kalian ini bodoh?? Seorng Chaebol(Konglomerat) pasti salah meminum obat jika mau menikah dengan seseorang seperti Ah Jung!!" Rae Yeon bertanya, "Apa sih yang salah dengan Ah Jung? Kau selalu saja merendahkan Ah Jung, bahkan kau sudah seperti ini sejak sekolah." So Ran menjawab, "Itu karena dia memang pantas di pandang rendah. Apakah kalian pikir bahwa Ah Jung ini sungguh hebat hah?" Rae Yeon menjawab, "Tapi Ah Jung itu lebih baik dari pada kau saat kuliah. Kau tau hasil ujiannya kan? Bahkan dia lulus tes Pegawai Negeri." So Ran tetap tidak menerima pendapat teman-temannya itu, "Itu hanya karena keberuntungan!! Bukankah kita semua tertawa saat mendengar Ah Jung ingin menjadi Pengawai Negeri?"

Rae Yeon berkata, "Yoo So Ran, kau itu iri pada Ah Jung!" So Ran tidak terima mendengar hal itu. Bo Yeon berusaha menenangkan kedua temannya ini, "Ya, mengapa kalian bertengar?? Jangan bertengkar hanya karena masalah ini." Rae Yeon kembali berkata, "Seorang teman harusnya memberikan selamat pada temannya yang sukses." So Ran kesal, "Ya Cinderella telah menikah dengan Chaebol. Jangan terlalu termakan drama di televisi, bangunlah dan hadapi dunia kenyataan!!!" So Ran mengambil tas dan pergi begitu saja meninggalkan 2 temannya. Rae Yeon yang melihat kepergian So Ran pun langsung menggerutu kesal, Bo yeon langsung menenangkannya, "Tenanglah. Coba untuk memahaminya, siapapun juga akan iri pada Ah Jung."


So Ran sedang mengendarai mobilnya sambil terus menggerutu mengenai Ah Jung, "Hyun Ki Joon pemilik World Hotel?? Dia harusnya mencar pasangan yang sederajat!! Ini bukanlah drama di tv!!! Omo... perutku.. Gong Ah Jung adalah cinderella? Tidak mungkin..."



Sang Hee mencari surat pengunduran diri Ah Jung yang di tulis di tisu itu di saku bajunya dan akhirnya dia menemukannya. Suk Bong tiba-tiba saja berlari ke kamar mandi karena sakit perut dan dia meminta pada Sang Hee untuk membukakan pintu karena ada kurir pengantar barang yang datang. Sang Hee menyimpan surat pengunduran diri Ah Jung itu di atas meja dan kemudian pergi ke luar untuk menerima barang. Di dalam kamar mandi persediaan tisu habis dan Suk Bong pun mengambil selembar tisu yang ada di atas meja tanpa mengetahui bahwa tisu itu adalah surat pengunduran diri Ah Jung.

Sang Hee kembali masuk kedalam rumah dan bingung karena surat pengunduran diri Ah Jung itu tidak ada di atas meja. Suk Bong keluar dari kamar mandi dan sudah merasa lega. Sang Hee menatap Suk Bong, "Hyung... kau tidak mengambilnya kan?" Suk Bong bingung dengan yang di maksud oleh Sang Hee.



Sang Hee bertemu dengan Ah Jung di cafe dan dia mengatakan bahwa surat pengunduran diri Ah Jung itu di jadikan tisu toilet oleh Suk Bong. Ah Jung terkejut mendengarnya dan langsung menatap Suk Bong dengan kesal. Sang Hee pun berusaha menenagkan Ah Jung, "Ini semua salahku. Maaf." Ah Jung langsung keluar dari cafe itu dan Sang Hee pun mengikutinya.

Ah Jung berjalan keluar cafe dengan kesal. Sang Hee berkata, "Aku akan menggantinya dengan traktir makan. Bagaimana?" Ah Jung menolaknya, "Tidak perlu." Sang Hee terus memanggil Ah Jung namun Ah Jung tidak mempedulikannya. Tiba-tiba Sang Hee pun menarik Ah Jung kedalam pelukannya dan hal itu membuat Ah Jung tersentak kaget. Sang hee memeluk Ah Jung di tempat yang cukup banyak orang sehingga orang-orang pun saling berbisik-bisik saat melihat Ah Jung dan Sang Hee yang berpelukan. Setelah Sang Hee merasa Ah Jung sudah tenang maka Sang Hee pun melepskan pelukannya, "Kau sudah merasa lebih baik?" Wajah Ah Jung terlihat memerah dan dia berkata, "Apakah kau tau bahwa ini bisa di bilang sebagai kejahatan?" Sang Hee berkata, "Sekarang serahkan saja smeuanya padaku. Aku akan menghiburmu sepanjang hari." Ah Jung berkata, "Maaf tapi aku tidak tertarik."

Orang-orang di tempat itu membicarakan Sang Hee dan pembicaraan itu terdengar oleh Ah Jung, "Wow pria itu tumbuh dengan sangat keren dan tampan." Ah Jung melihat penampilan Sang Hee dari atas hingga bawah dan kemudian tersenyum, "Apakah kau sibuk malam ini?" Sang Hee tersenyum senang, "Sudah kuduga kau akan menerima ajakanku." Ah Jung berkata, "Jangan salah paham. Aku hanya memberikan kesempatan padamu untuk menebus kesalahanmu itu." Ah Jung kembali menatap penampilan Sang Hee dan dia tersenyum.


Sore harinya Sang Hee berdiri di pinggir jalan dan datanglah mobil Ah Jung. Sang Hee berkata pada Ah Jung, "Kita sudah terlambat dua puluh menit." Ah Jung hanya tersenyum dan meminta Sang Hee masuk kedalam mobilnya. Ah Jung berkata, "Aku ingin menelfonmu namun kau bahkan tidak memiliki HP. Meskipun aku tau jika kau ini pengangguran, tapi bukankah sangat aneh jika kau bahkan tidak memiliki HP?" Sang Hee melihat penampilan Ah Jung dan dia berkomentar, "Bukankah kita akan pergi ke pesta? Kau tidak bisa berpenampilan seperti itu. Cepat hentikan mobilnya di sebelah sana." Ah Jung menatap Sang Hee bingung namun akhirnya dia setuju.



Sang Hee dan Ah Jung pun datang ke salah satu butik pakaian dan Sang Hee memilihkan gaun untuk Ah Jung. Ah Jung menatap pantulan dirinya di cermin dan dia terlihat senang dengan penampilannya yang baru itu.

Sang Hee dan Ah Jung pergi ke kasir untuk membayar baju yang di beli Ah Jung itu. Kasir berkata, "Total semuanya 2,2 juta won." Ah Jung terkejut mendengarnya. Sang Hee berkomentar, "Bukankah pegawai negeri berpenghasilan banyak?" Ah Jung menatap Sang Hee kesal, "Di muka bumi maka seorang pegawai negeri berpenghasilan banyak hah?" Ah Jung terpaksa mengeluarkan kartu kreditnya dan dia terlihat tidak mau menyerahkan kartu kreditnya itu pada sang kasir namun sang kasir berhasil mengambil kartu kredit itu dari tangan Ah Jung.


Selesai berbelanja Ah Jung dan Sang Hee pun berjalan keluar dari butik itu. Ah Jung berata, "Huh gajihku... Namun tidak apa, ini adalah kesempatanku untuk mempertahankan harga diriku." Sang hee berkomentar, "Awalnya aku ingin membelikannya untuk menebus kesahanku." Ah Jung denagn cepat berkata, "Tenanglah aku bukan tipe orang yang memeras pengangguran sepertimu." Sang Hee tersenyum dan berkata, "Baiklah aku akan tetap disampingmu selama di pesta. Ngomong-ngomong dimana pesta itu diadakan?" Ah Jung menjawabnya dengan santai, "World Hotel." Sang Hee terkejut mendengarnya.


Pesta yang di maksud oleh Ah Jung ini adalah pesta yang di adakan oleh teman-teman Ki Joon. Ki Joon sengaja mengundang Ah Jung untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi itu pada teman-temannya. Ki Joon sudah dtaang terlebih dhaulu ke pesta itu dan dia terlihat jengah karena semua teman-teman yang dihampirinya selalu mengucapkan selamat pada Ki Joon atas pernikahan Ki Joon. Teman Ki Joon yang pada saat itu bertemu di Lobby Hotel berbisik pada Ki Joon, "Kau tidak perlu menutupinya. Bukankah aku sudah bilang bahwa kami semua selalu akan ada disisimu?" Ki Joon berkata, "Aish... Kau juga akan segera tau yang sebenarnya." Ki Joon melihat jamnya dan bingung karena Ah Jung belum datang juga.



Ah Jung akhirnya sampai di World Hotel dan dia segera keluar dari mobilnya. Sementara itu Sang Hee tetap duduk di mobil dan terlihat enggan keluar. Ah Jung terpaksa menarik Sang Hee untuk keluar dari mobilnya. Sang Hee berusaha menutupi wajahnya agar para staff Hotel tidak mengetahui kedatangannya. Ah Jung yang tidak tau bahwa Sang Hee adalah adik dari Ki Joon justru mengolok-ngolok Sang Hee, "Kenapa kau begitu tegang? Ah itu karena kau pertama kalinya datang ke Hotel mewah ini kan?" Sang Hee tiba-tiba berkata, "Ah aku ada janji malam ini. Aku harus segera pergi." Ah Jung kecewa mendengarnya, "Apa? Kau sengaja melakukan ini kan?" Sang hee menjawab, "Tidak. Aku minta maaf tidak bisa ikut denganmu." Ah Jung menatap Sang Hee dengan penuh kekesalan dan dia pun langsung masuk kedalam Lobby Hotel tanpa mempedulikan Sang Hee.

Saat berjalan di Lobby Hotel, tiba-tiba saja Sang Hee datang kembali dan berjalan di samping Ah Jung. Ah Jung berkata, "Huh bukankah kau ada janji?" Sang Hee terus berusaha menutupi wajahnya dan berkata, "Tenang saja aku tidak akan membuatmu malu." Ah Jung melihat Sang Hee yang berusaha menutupi wajahnya dan dia pun bertanya, "Kau bertingkah aneh. Apa kau canggung jalan bersamaku?" Sang hee menjawab, "Ya. Aku merasa canggung karena kau cantik." Ah Jung tersenyum malu mendengarnya.


Ah Jung dan Sang Hee keluar dari lift dan Park Hoon langung menyambut kedatangan Ah Jung itu. Sang Hee terkejut melihat Park Hoon dan dia pun berusaha menutupi wajahnya dan kabur dari sisi Ah Jung. Ah Jung yang melihat kepergian Sang Hee pun terkejut dan mengejarnya namun dia tidak berhasil mengejarnya. Sang Hee terus berlari pergi dan dia menggerutu, "Menjadi kesatria itu ternyata tidak mudah...."


So Ran tiba-tiba saja meminta Jae Bum untuk mengantarkannya ke World Hotel. Jae Bum bertanya, "Untuk apa kita datang kemari?" So Ran menjawab, "Untuk mengklarifikasi sesuatu." So Ran berjalan ke arah resepsionis dan bertanya, "Direktur Hotel ini adalah Hyun Ki Joon, bukan? Apakah dia sudah menikah?" Manager Park langsung menjawab,"Maaf itu adalah hal pribadi." So Ran tidak menerima jawaban itu, "Katakan saja apakah dia sudah menikah atau belum??" Jae Bum tentu marah pada sikap So Ran itu, "Kau ini membuatku malu." So Ran berkata, "Huh benar dugaanku..." So Ran tersenyum dan kemudian pergi bersama Jae Bum.


Park Hoon menunggu Ah Jung di depan lift dan ternyata yang keluar dari dalam lift adalah Jae Bum dan So Ran. Jae Bum yang mengenal Park Hoon pun langsung menyapanya, "Oh kau ada disini juga?" Park Hoon terkejut melihat kedatangan Jae Bum, "Mengapa kau datang kemari?" Jae Bum menjawab, "Ah istriku ingin makan di restaurant Hotel ini. Ah bagaimana dengan kasus temanmu itu?" Park Hoon menjawab, "Aku rasa masalahnya akan selesai dengan baik." So Ran kesal menunggu dan segera memanggil Jae Bum. Jae Bum pun pamit pergi terlebih dahulu pada Park Hoon.


Ki Joon yang sudah menunggu kedatangan Ah Jung pun menelfon Park Hoon, "Dimana dia?" Park Hoon menjawab, "Dia sudah datang namun tidak ada disini." Ki Joon bingung, "Maksudmu apa? Ah baiklah aku akan menelfonnya."


Ki Joon pun berusaha menelfon Ah Jung, "Gong Ah Jung, dimana kau?" Ah Jung yang sedang mencari Sang Hee pun menjawab, "Aku sedang mencari temanku. Harusnya kami datang bersama. Ah baiklah aku akan segera kesana." Ah Jung menutup telfonnya dan bergumam, "Hyun Sang Hee kau akan mati!! Tunggu... Rambutku berantakan. Ah dimana kamar mandinya??"


Ah Jung pergi ke kamar mandi dan merapihkan rambutnya. Tidak disangka-sangka So Ran keluar dari salah satu bilik kamar mandi dan mereka berdua pun akhirnya bertemu. Ah Jung bertanya, "Apa yang kau lakukan disini?" So Ran menjawab, "Aku bersama suamiku. Kau?" Ah Jung kembali berbohong, "Aku juga bersama suamiku." So Ran tersenyum meremehkan Ah Jung, "Dengan suamimu? Benarkah? Apa pekerjaan suamimu? Berapa usianya?" Ah Jung bertanya dengan ketus, "Mengapa kau perlu tau?" So Ran berkata, "Mengapa kau begitu? Saat mendengar kau telah menikah, aku ikut bahagia." Ah Jung berkata, "Mengapa kau slelau ikut bahagia dalam banyak hal? Aku yang menikah dan mengapa kau yang lebih bahagia dari pada aku?" So Ran berkata, "Aku hanya khawatir padamu karena cinta pertamamu. Apa yang harus kulakukan jika kau tidak mencari laki-laki lain sepanjang hidupmu hanya karena cinta pertamamu itu? Kau menikah saja itu sungguh beruntung."

Ah Jung benar-benar kesal mendengar omongan So Ran itu, "Kau merasa bersalah bukan?" So Ran tiba-tiba bertanya, "Apakah kau dan Jae Bum ada hubungan? Kau suka dia? Apakah aku orang ketiga?" Ah Jung menatap So Ran, "Jika kau temanku maka kau seharusnya merasa bersalah atas apa yang kau lakukan." So Ran semakin memanas-manasi Ah Jung, "Jika kau lolos seleksi tahap 2 Pegawai Negeri dan kau menyatakan perasaanmu pada Jae Bum, apakah kau pikir kau akan memiliki akhir yang bahagia?" Ah Jung menjawab getir, "Benar." So Ran tersenyum licik, "Gong Ah Jung, sebagai temanmu aku tidak tau harus berkata apa menganai masalah ini tapi Jae Bum itu membencimu. Dia sangat sangat membencimu. Melihat keberadaanmu dimana saja itu membuat dia tidak nyaman. Dia bahkan memintaku mengatakan hal ini padamu. Kau tidak mengetahui hal ini kan?" Ah Jung terkejut mendengarnya, "Sepertinya banyak yang membenciku..."

So Ran berkata, "Dan itu sebabnya aku menyembunyikan kenyataan bahwa aku dulu berpacaran. Jika aku mengatakannya padamu, bagaimana perasaanmu hah? Kau pasti merasa seperti bumi ini hancur. Dan kau patsi akan menyerah pada tes Pegawai Negeri. Untung saja aku menyimpan rahasia ini. Ya setidaknya kau lulus tes Pegawai Negeri itu. Sekarang ini berkonsentrasi saja pada pekerjaanmu itu. Dan aku yakin kau akan memiliki ending percintaan yang manis." Ah Jung marah, "Kau...." So Ran memotong pembicaraan Ah Jung, "Kau pasti ingin tau bagaimana aku bisa tau bahwa kau belum menikah kan? Aku ta semuanya dari awal. Aku hanya pura-pura tertipu karena kau tampak begitu menyedihkan. Dan ingat! Aku adalah Yoo So Ran dan kau Gong Ah Jung. Kau tidak perlu menyebarkan rumor palsu demi mengalahkan aku. Huh apa sebenarnya tujuanmu membuat semua orang berfikir bahwa kau dan Hyun Ki Joon itu sudah menikah? Apa itu masuk akal? Kau tidak mungkin menikah dengan seseorang yang lebih baik dari pada suamiku!!!" Ah Jung terdiam mendengar kata-kata So Ran itu.

So Ran kemudian melanjutkan ucapannya, "Untuk membuat orang-orang percaya dengan rumor bodoh itu, kau ternyata cukup hebat." Ah Jung bertanya, "Jadi kau membenciku karena aku menemukan seorang pria yang lebih hebat dari pada suamimu? Dan kau berharap aku menemukan pria yang lebih rendah dari suamimu?" So Ran menjawab, "Tentu saja. Itu adalah hukum alam. Aku pergi duluan." So Ran mengambil tasnya dan langsung pergi keluar dari kamar mandi. Ah Jung benar-benar kesal dengan kata-kata So Ran, "Hukum alam??"


Ah Jung berlari keluar kamar mandi dan dia melihat So Ran yang merangkul mesra lengan Jae Bum. Jae Bum melihat Ah Jung dan menyapanya, namun So Ran langsung memarahi Jae Bum dan mengajaknya segera pergi.


Beberapa langkah dari kepergian So Ran dan Jae Bum, Ki Joon datang. Ah Jung berkata dalam hati, "Beberapa kali aku menggunakan perasaanku, bukan otakku untuk berfikir. Dan setiap melakukan hal itu maka selalu terjadi masalah." Ki Joon tersenyum senang melihat kedatangan Ah Jung, namun senyuman Ki Joon itu langsung hilang saat mendengar Ah Jung menyapanya, "Sayang, aku ada disini!" So Ran dan Jae Bum yang belum pergi jauh pun ikut terkejut mendengar Ah Jung berkata seperti itu.