Sinopsis Paradise Ranch Episode 8

PARADISE RANCH
EPISODE 8


Yun Ho mendekati Da Ji dan berniat mencium Da Ji. Wajah mereka semakin dekat, namun tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukan pintu. Da Ji dan Yun Ho pun langsung membuka mata dan terlihat sama-sama salah tingkah. Asisten Yun Ho masuk kedalam dan bilang bahwa ada fax dari seseorang untuk Yun Ho, Yun Ho mengangguk mengerti dan permisi pergi sebentar pada Da Ji, "Tunggulah Sebentar." Da Ji tersenyum pada Yun Ho yang langsung pergi menuju ruangan lain bersama dengan Asistennya itu.

Sepeninggalnya Yun Ho, Da Ji langsung meneguk winenya dan dia memegang pipinya yang memanas dan tersenyum malu. Da Ji bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Mengapa aku begitu tegang??"



Yun Ho telah selesai dengan urusannya dan dia kembali ke ruangan duduk. Yun Ho tersenyum saat melihat Da Ji yang tertidur di Sofa karena terlalu lama menunggu dirinya. Yun Ho mengambil selimut dan kemudian menyelimutkannya pada Da Ji. Yun Ho duduk di samping Da Ji dan tersenyum menatapnya.



Dong Joo terus menunggu Da Ji pulang namun hingga jam 1 pagi, Da Ji belum juga pulang ke rumah dan tentu saja hal ini membuat Dong Joo terus menggerutu kesal. Dong Joo menatap baju hitam yang diberikan oleh Da Ji padanya dan dia berkomentar, "Huh siapa bilang bahwa baju itu cocok untukku? Baju hitam ini sama sekali tidak cocok! Dasar gadis menyebalkan!" Dong Joo segera melepas baju itu dan melemparkannya begitu saja.



Da Ji terbangun dari tidurnya dan dia tersentak kaget saat menyadari bahwa dia ketiduran di Resort Yun Ho. Yun Ho yang melihat Da Ji terbangun pun hanya tersenyum sambil sesekali melihat buku yang sedang dibacanya. Da Ji menatap Jam di HPnya dan kemudian bertanya pada Yun Ho dengan panik, "Astaga sudah begitu larut malam. Mengapa kamu tidak membangunkanku?" Yun Ho tersenyum iseng dan menjawab, "Karena tadi kau mendengkur dengan sangat keras." Da Ji kaget mendengarnya. Yun Ho kembali tertawa dan berkata, "Ah temanku akan datang dari New York untuk melakukan pertunjukan. Maukah kau datang melihat penampilannya bersama denganku?" Da Ji menjawab, "Ya." Yun Ho kembali tersenyum, "Kalau begitu aku akan menjemputmu."



Da Ji berjalan masuk kedalam rumahnya dengan perlahan-lahan. Wajah Da Ji berubah terkejut saat mendapati Dong Joo ternyata belum tertidur. Dong Joo bertanya, "Kenapa? Kau baru melihat hantu hah?" Da Ji balik bertanya, "Hmm kau belum tertidur?" Dong Joo menatap dengan sinis dan kemudian langsung masuk kedalam kamarnya.

Da Ji merasa lega saat Dong Joo masuk kedalam kamarnya. Saat Da Ji berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba saja pintu kamar Dong Joo terbuka dan Dong Joo melemparkan baju hitam yang diberikan oleh Da Ji itu ke arah wajah Da Ji. Dong Joo membentak Da Ji dengan kasar, "Aku tidak butuh benda ini!!" Da Ji pada awalnya sangat shock melihat sikap Dong Joo itu namun lama-lama dia merasa kesal juga dengan sikap Dong Joo yang sungguh tidak sopan padanya itu.



Yun Ho melihat hadiah kemeja bunga-bunga dari Da Ji itu sambil tersenyum. Yun Ho membuka lemari pakaiannya dan dia menggantungkan kemeja bunga itu diantara kemeja polosnya yang lain. Yun Ho kembali tersenyum menatap kemeja itu.



Keesokan harinya, seperti biasa pada pagi hari Da Ji dan Yun Ho bertemu di bawah pohon. Kini Yun Ho yang membawa sebuah hadiah pada Da Ji. Da Ji membuka kotak hadiah itu dan terkejut saat melihat hadiah dari Yun Ho berupa sebuah gaun hitam dan sepasang sepatu. Yun Ho berkata, "Aku berfikir bahwa dress itu akan cocok denganmu, itulah sebabnya aku membelinya. Apa kau menyukainya?" Da Ji tersenyum senang, "Terima kasih banyak. Ini sungguh cantik. Tapi, aku tidak biasa memakai pakaian seperti ini." Yun Ho berkomentar, "Kau harus memakai pakaian ini pada saat kita akan datang ke acara temanku itu." Da Ji bertanya, "Apakah aku harus datang ke acara itu dengan memakai pakaian seperti ini?" Yun Ho menjawab, "Tidak juga. Aku memberikan hadiah ini karena aku juga menerima hadiah darimu."

Yun Ho membuka jaket yang dia pakai dan menunjukan bahwa dia memakai kemeja bunga pemberian dari Da Ji, "Bagaimana ini?" Da Ji tersenyum melihatnya dan berkomentar, "Sangat cocok untukmu. Tapi... Mengapa kau menyembunyikan baju itu di dalam jaketmu?" Yun Ho menutup kembali jaketnya dan menjawab, "Aku tidak ingin orang lain melihatnya."



Da Eun membantu Da Ji untuk mempersiapkan penampilannya untuk acara malam itu. Da Eun berkata, "Kau harus memperbaiki rambutmu ini dan menggunakan Make Up. Ah apa yang akan kau lakukan dengan dadamu yang datar itu? " Da Ji kesal dan berkata, "Kau tidak sopan membicarakan dada Kakakmu ini!" Da Eun berkata, "Baiklah kita coba dulu saja dengan rambutmu ini."

Da Eun menggunakan roll rambut pada rambut Da Ji dan ternyata roll rambut itu justru membuat rambut Da Ji mengembang seperti singa. Da Ji mencoba berbagai macam model rambut namun pada akhirnya dia menggunakan model rambutnya yang seperti biasa. Da Eun menyarankan agar Da Ji menggunakan ped bra untuk memperbesar dadanya namun Da Ji menolaknya.



Dong Joo duduk menunggu sambil mmbaca majalah. Jin Young datang dengan dandannya dan Dong Joo pun pura-pura tidak mengenal Jin Young, "Siapa kau?" Jin Young tersenyum dan balik bertanya, "Apakah aku berdandan terlalu berlebihan?" Dong Joo menggeleng dan tersenyum.



Dong Joo dan Jin Young pun masuk kedalam tempat acara. Mata Dong Joo membesar saat melihat ternyata Da Ji juga datang ke acara itu bersama dengan Yun Ho. Dong Joo terlihat terdiam sesaat, saat melihat penampilan Da Ji. Lamunan Dong Joo itu kabur saat Jin Young bertanya, "Oppa(Yun Ho) datang juga kemari?" Dong Joo menjawab lemah, "Hmm ya."

Dong Joo dan Jin Young pun berjalan menghampiri Yun Ho dan Da Ji. Da Ji terlihat kaget saat melihat kedatangan Dong Joo bersama Jin Young itu. Yun Ho berkomentar pada penampilan Jin Young, "Kau terlihat berubah." Jin Young balas berkata, "Sepertinya bukan hanya aku yang berubah. Kau terlihat sangat cantik Da Ji." Da Ji tersenyum mali-malu, namun senyumannya itu hilang saat melihat wajah Dong Joo yang tetap sinis menatapnya.



Teman Yun Ho dan Jin Young datang dan langsung merangkul mereka berdua, "Sudah beberapa tahun berlalu, dan akhirnya kini kalian menjadi pasangan hah?" Yun Ho, Jin Young, Dong Joo dan Da Ji langsung terlihat salah tingkah mendengar hal itu. Tiba-tiba Dong Joo merangkul Jin Young dan berkata pada teman Yun Ho dan Jin Young itu, "Aku adalah pasangannya untuk malam ini. Perkenalkan, aku Han Dong Joo." Teman Yun Ho dan Jin Young itu kaget mendengarnya dan merasa malu. Yun Ho lalu berkata pada temannya, "Ini adalah Lee Da Ji. Dia Kekasihku." Dong Joo terlihat kesal mendengarnya.



Yun Ho, Da Ji, Dong Joo dan Jin Young pun duduk satu meja sambil menikmati music yang di tampilkan. Dong Joo menuangkan wine ke gelasnya Jin Young dan itu membuat Da Ji menatapnya dengan penuh kesal. Da Ji melampiaskan kekesalannya itu dengan meminum winenya. Yun Ho melihat ada bekas wine di sudut bibir Da Ji dan dia pun mengelapnya dengan tisu. Hal yang di lakukan oleh Yun Ho itu pun terlihat jelas oleh Dong Joo yang langsung merasa panas. Da Ji kembali meminum winenya dan Dong Joo memberikan isyarat agar Da Ji tidak minum kembali, Namun Da Ji tidak begitu mengerti bahasa isyarat yang di berikan oleh Dong Joo. Akhirnya Dong Joo pun mengirimkan sms pada Da Ji, "Kau sudah minum empat gelas wine. Apakah kau ingin menjadi gila hah?" Da Ji membalas sms itu, "Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Jagalah pacarmu itu saja." Dong Joo kembali kesal menerima sms itu.

Jin Young melihat Da Ji yang terus meminum wine dan dia pun berkomentar, "Sepertinya Da Ji tahan dengan alkohol. Aku sendiri hanya bisa meminum 2 gelas." Yun Ho menuangkan kembali wine ke gelas Da Ji dan berkata, "Aku sendiri tidak tau bahwa dia begitu tahan meminum wine. Jika dia mabuk, sepertinya hal yang akan terjadi sangat menarik." Da Ji hanya tersenyum menatap Yun Ho. Sementara Dong Joo berkata dalam hati, "Huh mengapa laki-laki itu justru menuangkan kembali wine pada gelasnya? Apa yang sebenatnya pria ini inginkan?" Yun Ho tersenyum dan terus menatap Da Ji.

Dong Joo bertanya pada Jin Young dengan berbisik, "Kapan acara ini akan selesai?" Jin Young menjawab, "Jam 10 sepertinya." Mata Dong Joo langsung mengarah pada Yun Ho dan ia berfikir "Senyuman orang ini...."



Da Ji berjalan keluar dari ruangan aara untuk menuju kamar mandi dan terlihat ada beberapa laki-laki yang menatap dirinya dan itu membuat Da Ji sedikit merasa tidak nyaman. Tiba-tiba saja Dong Joo datang dan menarik lengan Da Ji. Dong Joo berkata dengan kasar, "Kau itu tidak bisa membedakan air mineral dengan wine, Mengapa kau terus minum hah?" Da Ji kesal dan bertanya, "Mengapa kau mencari masalah denganku?" Dong Joo justru balik bertanya, "Kau... Jika kau mabuk maka kau mau istirahat dimana hah?" Da Ji menjawab dengan kesal juga, "Jika aku mabuk dan aku mau tinggal dimana, itu bukan hal yang perlu kau pedulikan!"

Da Ji berkata, "Aku penasaran, mengapa kau begitu tidak menyukai Yun Ho! Ya aku mengerti hatimu, ini mengenai Jin Young dan Yun Ho. Walaupun aku tidak merasa nyaman juga, tapi itu adalah masa lalu!" Dong Joo berkata kasar, "Kau mengerti hatiku? Seberapa besar kau mengerti hah? Aku bukan tidak menyukai Yun Ho. Aku juga tidak menyukai kau dan dia bersama!" Da Ji kebingungan, "Apa yang kau maksud?" Dong Joo terlihat salah tingkah dan dia menjawab asal, "Yun Ho itu... Dia membuat selera makanku hilang." Tentu Da Ji marah mendengar hal itu. Da Ji bertanya, "Apa kau menyukaiku? Kau selalu membuat masalah dengan Yun Ho." Dong Joo kembali salah tingkah, "A-Apa? Kua ini benar-benar lucu! Huh hanya karena Seo Yun Ho mengatakan menyukaimu maka kau terlalu percaya diri! Aku ini sudah memiliki kekasih! Apa kau tau hah? Dan juga... Aku tidak menyukai gaya sepertimu!" Da Ji balas berkata, "Aku juga tidak menyukai gayamu!"

Dong Joo melihat penampilan Da Ji dan berkomentar, "Huh apa kau berfikir bahwa pakaian itu cocok untukmu? Harusnya kau tidak memakai pakaian seperti itu untuk datang kemari." Da Ji marah dan membentak, "Kau seharusnya mengatakan kata-kata itu pada pacarmu!! Aku bahkan tidak sudi memakai dress yang seperti pacarmu itu pakai. Dadanya terlihat seperti menonjol saja." Dong Joo kesal, "Penampilan Jin Young sama sekali tidak ada masalah! Dari pada tubuhmu! Bagian punggung dan depanmu itu terlihat sama datarnya." Da Ji sebagai perempuan tentu saja merasa tersinggung dan langsung menendang tulang kering kaki Dong Joo. Dong Joo tentu langsung merasa kesakitan. Da Ji marah, "Jaman apa sekarang ini? Kau seharusnya tidak melihat penampilan seseorang dari dadanya saja!!"

Dong Joo membentak, "APA KAU GILA??" Da Ji balas membentak, "Orang yang gila itu adalah kau!! Dasar otak cabul! Dasar kau itu dari dulu sama saja, selalu terobsesi dengan dada besar!" Dong Joo terkejut mendengar ucapan Da Ji itu.



Da Ji pergi ke kamar mandi dan langsung membasuh wajahnya. Da Ji kemudian mengingat kejadian 6 tahun lalu...



Flashback...

Dong Joo menatap cermin dan dia memamerkan perutnya yang six pack. Saat mendengar pintu terbuka, Dong Joo dengan segera melompat ke tempat tidur dan tersenyum. Dong Joo meminta Da Ji duduk di tempat tidur namun Da Ji bilang bahwa dia harus mengerjakan tugas, Dong Joo menarik Da Ji dan berkata bahwa tugasnya itu bisa di kerjakan lain waktu. Da Ji tersenyum malu dan akhirnya duduk di samping Dong Joo di atas tempat tidur. Dong Joo memeluk Da Ji dan tersenyum senang. Lama-lama tangan Dong Joo itu bergerak ke dada Da Ji, Da Ji sangat kaget dan langsung melepaskan pelukannya itu. Dong Joo kaget dengan sikap Da Ji itu.

Da Ji bertanya dengan takut-takut, "Tanganmu itu... Mengapa kau memegang ke daerah itu?" Dong Joo menjawab, "Kita... Suami istri." Da Ji berkata, "Tapi tetap saja tidak bisa." Dong Joo berkomentar, "Sejujurnya... Dada milikmu itu tidak begitu berbeda dengan dadaku. Bahkan mungkin dadaku lebih besar. Kau juga boleh memegang dadaku jika ingin." Da Ji terlihat ketakutan kembali dan bertanya, "Dadamu bahkan lebih besar dari dadaku?" Dong joo menjawab, "Hmm bukan. Bukan itu yang aku maksud."

Da Ji marah dan langsung berbarik di tempat tidur sambil menutup wajahnya. Dong Joo tentu kebingungan melihatnya. Da Ji berkata, "Aku merasa sangat malu sekarang. Bisakah kau meninggalkan aku sendiri? Kumohon...."



Flashback end...
Da Ji menatap pantulan dirinya di cermin dan berkata, "Huh apa yang salah dengan dadaku? Dadaku terlihat bagus." Ada seorang wanita masuk kedalam kamar mandi dan Da Ji pun langsung melihat ke arah dada wanita itu. Melihat dada wanita itu membuat Da Ji menjadi minder dan malu karena dada wanita itu ukurannya lebih besar dari pada ukuran dadanya.



Di ruangan acara itu masih ada Jin Young dan Yun Ho. Jin Young mulai membuka pembicaraan, "Da Ji... Dia mungkin terkejut tapi sebaiknya kau menjelaskan padanya bahwa dulu aku menyukaimu dan mengejarmu." Yun Ho balas berkata, "Han Dong Joo, dia lebih tenang dari yang aku pikir." Jin Young berkomentar, "Aku rasa dia belum mengetahui mengenai kita. Jika aku mengatakan padanya, kita akan menjadi tidak nyaman pada saat bertemu nantinya." Yun Ho memberikan ide, "Cobalah berbicara dengannya dan coba ubah cara berfikirnya. Walaupun dia mungkin tidak mengerti sekarang, namun jika waktunya tiba maka dia akan mengerti. Han Dong Joo itu adalah orang yang berwawasan luas."



Acara sudah selesai dan mereka berempat pun berkumpul di pintu keluar. Sebuah taxi datang dan sudah menunggu di depan pintu keluar itu. Dong Joo berkata pada Yun Ho, "Kau sebaiknya pulanglah duluan." Yun Ho menjawab, "Aku akan tinggal disini hingga larut malam karena ada urusan pekerjaan. Dan lagi, kami masih mau berbincang-bincang di bar." Mata Dong Joo tentu langsung membulat karena ini sudah sangat malam namun Yun Ho masih berniat membawa Da Ji ke bar. Jin Young berkata pada Da Ji, "Da Ji shi, sampai jumpa di Pulau jeju." Da Ji tersenyum pada Jin Young. Jin Young masuk kedalam Taxi dan kemudian Dong Joo juga masuk kedalam taxi itu.



Yun Ho berkata pada Da Ji, "Jika ada yang mau kau tanyakan maka tanyakan." Da Ji terdiam sesaat dan bertanya, "Jin Young... Berapa kali kau mengenggam tangannya? Cinta pertamamu saat kau berusia 15 tahun. Sebenarnya kau punya berapa kekasih hah?" Yun Ho tertawa melihat Da Ji yang cemburu seperti itu.



Dong Joo mengantarkan Jin Young ke hotel tempat Jin Young menginap. Jin Young bertanya, "Kau mau masuk dan minum segelas teh?" Dong Joo menjawab, "Banyak yang bilang bahwa menerima jamuan minum teh di tengah malam setelah pulang kencan itu tidak baik.Kau masuklah ke kamarmu, kau pasti sangat lelah." Jin Young mengenggam tangan Dong Joo dan berkata, "Ada banyak hal yang sulit aku katakan padamu.Tapi hal ini sungguh penting sehingga harus tetap dikatakan dan juga aku merasa takut. Apa yang harus kulakukan?" Dong Joo tersenyum, "Tenanglah, dimasa yang akan datang hanya ada tawa di kehidupan kita." Jin Young mencium pipi Dong Joo dan pamit masuk kedalam kamar hotelnya. Dong Joo tersenyum dan melambaikan tangannya pada Jin Young.



Da Ji dan Yun Ho pergi ke sebuah bar. Da Ji menghampiri Yun Ho setelah dari kamar mandi dan dia berkata, "Baru beberapa saat yang lalu kita makan steak. Hmm iu membuat perutku terasa sakit." Yun Ho bertanya dengan kekhawatiran, "Apakah kita perlu ke rumah sakit?" Da Ji tertawa, "Tidak perlu. Kau tidak perlu khawatir." Yun Ho ikut tersenyum mendengarnya. Da Ji berkata kembali, "Walaupun seluruh orang di dunia ini keracunan, aku akan tetap baik-baik saja." Yun Ho berkomentar, "Kau cantik." Da Ji tersenyum, "Aku tau."

HP Yun Ho berbunyi dan dia pun permisi untuk mengangkat telfonnya itu. Da Ji menatap jam di HPnya dan berkomentar, "Hmm aku tidak boleh pulang terlalu larut malam." Ada seorang pelayan yang datang dan memberikan bill pembayarannya. Da Ji penasaran dan membuka bill itu, dan dia terkejut saat melihat ternyata ada sebuah kunci kamar hotel. Da Ji langsung panik dan berfikir negatif saat melihat ada kunci kamar hotel.



Yun Ho kembali dan tersenyum pada Da Ji, Da Ji hanya membalas senyuman itu dengan ragu-ragu dan malu.



Dong Joo pulang ke rumah Kakek dan bermanja-manja pada Kakek dan Ibunya. Kakek bertkata, "Bocah kecil ini bisa juga makan dengan lahap. Cucuku ini telah bekerja keras, wajahmu terlihat mengurus Dong Joo ya. Menantu(Ibu Dong Joo) kau harus memberikan gingseng padanya." Ibu Dong Joo tersenyum dan bertanya pada Dong Joo, "Dong Joo ya, Apakah kau merasa lelah? Apakah kau ingin Ibu belikan vitamin?" Dong Joo menggeleng, "Lupakan saja. Aku tidak mengalami kesulitan sama sekali ditempat pekerjaan." Kakek tersenyum, "Kau harus bekerja dengan rajin. Itulah langkah menuju kesuksesan. Tapi... Kau telah menyelamatkan kuda, membeli gandum dan membantu para Ahjumma nelayan itu... Kau bagaimana bisa begitu membantu mereka?" Dong Joo bingung, "Hmm itu... Para penduduk membantuku." Kakek kembali bertanya, "Penduduk membantumu? Siapa yang telah banyak membantumu itu? Apa Kakek mengenalnya?" Ibu Dong Joo terlihat penasaran dengan yang ditanya oleh Kakek. Dong Joo menjawab, "Penduduk yang membantu ini bukan bersasal dari daerah yang Kakek dulu tempati. Dia penduduk dari daerah lain."



Dong Joo masuk kedalam kamarnya yang terlihat begitu luas. Dong Joo tersenum sesaat dan berkomentar, "Ternyata kamarku ini begitu besar." Namun perlahan-lahan senyumannya itu menghilang, "Huh orang itu bahkan tidak khawatir keluar malam bersama laki-laki...."



Yun Ho mengelus halus lengan Da Ji dan Da Ji terlihat begitu salah tingkah. Yun Ho bertanya, "Mengapa kau bertindak seperti itu?" Da Ji semakin terlihat salah tingkah, "Ah maaf aku tidak memiliki sopan santun ya?" Yun Ho hanya tersenyum. Yun Ho kemudian berkata, "Disni terasa sesak, Sebaiknya kita pergi ke tempat lain." Da Ji kembali salah tingkah, "Hah? Mau kemnana? Aku tidak keberatan jika kita tetap mengobrol di bar ini saja." Yun Ho berkata, "Aku ingin kita pergi ke tempat yang lebih tenang." Da Ji semakin membulatkan matanya kaget.

Yun Ho bangkit dari duduknya dan mengajak Da Ji segera pergi. Mata Da Ji berkaca-kaca seperti akan mau menangis, "Tapi.... Ayahku kini sedang menungguku. Jadi aku..." Yun Ho berkomentar, "Aku tidak mau membiarkan kau pergi." Da Ji terdiam mendengar kata-kata Yun Ho itu.



Semalaman Dong Joo tidak bisa tidur. Dong Joo terbangun dan berkata pada dirrnya, "Baiklah... Han Dong Joo bertanggung jawab atas kehiduapannya sendiri dan Lee Da Ji juga bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ini semua sudah selesai!!" Dong Joo kemudian melanjutkan kembali tidurnya.



Da Ji tersenyum saat berjalan bersama Yun Ho mengelilingi trek pacuan kuda. Da Ji berkata, "Hari ini berlalu begitu cepat." Yun Ho tersenyum, "Sebenarnya... Aku tidak berniat untuk melepaskanmu malam ini." Lagi-lagi Da Ji terkejut mendengar kata-kata Yun Ho. Yun Ho tersenyum dan melanjutkan kata-katanya, "Responmu itu membuatku merasa tidak nyaman." Da Ji bertanya, "Apakah aku trlihat seperti anak kecil hah?" Yun Ho hanya tertawa melihat sikap Da Ji.

Da Ji menunjuk tempat tinggal ayahnya dan berkata, "Aku akan menginap disini." Yun Ho mengangguk, "Baiklah. Besok aku akan menjemputmu. Tidurlah yang nyenyak." Yun Ho terlihat tidak mau melepaskan Da Ji, maka dari itu Da Ji bertanya, "Apakah kita harus berkeliling trek pacuan kuda ini sekali lagi?" Yun Ho tersenyum, "Ayahmu sudah menunggu. Cepatlah masuk kedalam."

Da Ji berjalan menuju tempat Ayahnya namun dia tiba-tiba berbalik berjalan ke arah Yun Ho kembali. Da Ji berhenti sesaat di depan Yun Ho dan kemudian mencium kening Yun Ho. Saat Da Ji akan pergi kembali, Yun Ho menahannya dan berkata, "Apakah aku terlihat seperti anak kecil?" Da Ji bingung dengan pertanyaan Yun Ho. Yun Ho langsung mendekati Da Ji dan mencium bibirnya.



Da Ji masuk kedalam kamar Ayahnya dan dia menyelimuti Ayahnya yang sudah tertidur. Da Ji menyentuh bibirnya dan tersenyum.



Yun Ho sedang berada di kamar hotelnya dan dia juga tersenyum saat mengingat Da Ji. HP Yun Ho berbunyi dan terlihat ada pesan dari Da Ji. Pesan dari Da Ji itu adalah icon love. Yun Ho lagi-lagi tersenyum.



Pagi hari Yun Ho datang ke tempat pacuan kuda dan bertemu dengan Ayahnya Da Ji. Ayah Da Ji mengajak Yun Ho untuk melihat-lihat kuda. Yun Ho mencoba memijat Kuda dan itu membuat Ayah Da Ji terkesan, "Kau bisa memijit kuda?" Yun Ho menjawab, "Itu karena aku menyukai kuda. Aku mempunyai 34 kuda namun kini aku telah memberikan kuda itu pda teman-temanku. Aku meminta agar mereka lah yang merawat kuda-kuda ku. Ah ya aku harap kau tidak berbicara terlaru formal padaku." Ayah Da Ji mengangguk setuju.



Da Ji keluar dari kamarnya dan dia terkejut saat melihat kedatangan Yun Ho. Da Ji pun dengan segera menghampiri Yun Ho dan Ayahnya yang sedang berbincang-bincang itu. Ayah Da Ji berkomentar, "Huh dimatamu hanya ada Yun Ho saja. Ayo masuklah kedalam dan kita sarapan." Da Ji dan Yun Ho hanya tersenyum mendengar komentar itu. Ayah Da Ji kemudian pergi masuk kedalam terlebih dahulu. Da Ji berkata, "Ayahku pasti sedang dalam mood yang baik. Ah kapan kau datang?" Yun Ho menjawab, "Aku sangat merindukanmu, makanya aku langsung datang kemari secepatnya saat aku membuka mataku." Da Ji tersenyum malu.



Yun Ho dan Da Ji pun dalam perjalanan menuju ke Bandara. Yun Ho mengenggam tangan Da Ji dan tersenyum. Da Ji berkomentar, "Akan leih baik jika seandainya kita pulang bersama." Yun Ho berkata, "Ya. Namun cukup sulit karena masih ada pekerjaan disini. Ah apakah kau tidur nyenyak?" Da Ji menjawab, "Ya." Yun Ho kembali berkata, "Aku tidak tidur nyenyak. Aku terlalu gugup. Ah bisakah kita melakukan hal seperti kemarin?" Da Ji tersenyum malu, "Apakah kau harus mengatakan hal itu dengan begitu jelas?" Yun Ho tertawa, "Maksudku hati. SMS yang kau kirimkan itu." Da Ji benar-benar malu karena salah tingkah. Yun Ho bertanya, "Memangnya apa yang kau pikirkan? Ah mengapa wajahmu menjadi memerah?" Da Ji kesal, "Huh berhentilah menggodaku."

HP Yun Ho berbunyi dan senyuman Yun Ho hilang saat melihat layar HPnya itu. Da Ji bertanya, "Apa kau tidak akan mengangkat telfonmu itu?" Yun Ho menjawab, "Ah tidak apa-apa."



Ternyata yang menelfon Yun Ho itu adalah seorang perempuan. Setelah Yun Ho tidak mengangkat telfonnya, dia pun berusaha menelfon Asisten Yun Ho, "Hallo Asisten Baek, sudah lama tidak mendengar kabarmu. Orang itu tidak mau mengangkat telfonku."



Da Ji masuk ke pesawat yang akan menuju Pulau Jeju. Dong Joo masuk kedalam pesawat yang sama sambil menelfon Jin Young, "Ya kau perlu waktu istirahat kembali. Istirahatlah. Direktur langsung yang memintamu untuk beristirahat." Wajah Dong Joo langsung berubah kesal saat menyadari bahwa dia satu pesawat dengan Da Ji. Da Ji pun merasa kesal saat melihat kedatangan Dong Joo.

Da Ji masih merasa mengantuk makanya dia terus menerus menguap di dalam pesawat. Dong Joo yang melihat Da Ji terus menguap pun berkomentar, "Gadis gila! Mengapa dia bisa terus menguap seperti itu?"



Ternyata alasan Yun Ho tidak bisa kembali ke Pulau Jeju bersama dengan Da Ji itu dikarenakan dia harus bertemu dengan Ayah Dong Joo. Ayah Dong Joo memberikan teh pada Yun Ho dan berkata, "Ini didapat khusus dari keluarga kerajaan. Bagaimana rasanya?" Yun Ho menjawab, "Wanginya sangat bagus." Ayah Dong Joo kembali tertawa, "Karena Direktur kami(Kakek Dong Joo) mengenai surat persetujuan masyarakat dan termasuk yang dilakukan oleh Direktur Han Dong Joo, aku merasa sedikit terganggu. Direktur kami itu sangat konservatid dan ketat orangnya." Yun Ho tersenyum, "Ya direktur pasti memiliki banyak pengalaman." Ayah Dong Joo kembali tertawa, "Huh ada 5 hingga 10 orang yang seperti dia di dunia ini. Ah ya kau tidak perlu khawatir, dalam 2 bulan lagi surat persetujuan masyarakat atau apapun itulah masalah itu pasti akan bisa di selesaikan dengan mudah." Yun Ho terdiam dan penasaran dengan maksud ucapan Ayah Dong Joo itu.



Selesai keluar dari ruanganan kerja Ayah Dong Joo, Yun Ho menelfon Asistennya itu, "Hyung. tolong carikan kegiatan terbaru pembangunan perusahaan Dong In. Dan juga tolong periksa beberapa tanah atas nama Direktur Han." Asisten Yun Ho bertanya, "Hmm apakah kau melihat panggilan telfon yang masuk?" Yun Ho balik bertanya, "Telfon dari siapa?" Asisten Yun Ho berkata dengan perlahan, "Mil Hye shi menelfonku. Dia bilang dia tidak bisa menghubungimu tadi." Seketika raut wajah Yun Ho pun langsung berubah serius, "Mengapa dia mencariku?" Asistennya menjawab, "Dia mengatakan butuh uang."



Dong Joo dan Da Ji pun pulang ke rumah bersama-sama. Di perjalanan Da Ji terlihat tertidur, sementara Dong Joo terus mengomel kesal, "Sejujurnya, aku tidak berniat memberikan tumpangan padamu, namun karena kau memintanya maka aku memperbolehkannya. Huh apa yang dia lakukan semalam hingga mengantuk begitu?" Dong Joo sengaja memperbesar volume radio dan itu membuat Da Ji terbangun sesaat dan kembali tidur. Dong Joo kesal dan menjalankan strategi ke dua, yaitu sengaja menyetir mobil dengan ugal-ugalan namun tetap saja hal itu tidak membuat Da Ji terbangun. Akhirnya Dong Joo mengerem mendadak mobil dan Da Ji pun terbangun karena kepalanya terbentur dashboard mobil.

Da Ji bertanya, "Apa ada kecelakaan?" Dong Joo menatap Da Ji dengan penuh kekesalan, "Mengapa kau terus mengantuk hah? Bagaimana bisa kau tertidur disaat aku menyetir?" Da Ji menjawab dengan polos, "Aku hanya tidur 3 jam sehingga aku sangat mengantuk." Dong Joo kembali marah, "Bagaimana mungkin kau tidak menjaga reputasimu itu hah? Walaupun aku menghargai kehidupan pribadimu." Da Ji bertanya kembali, "Apa maksudmu dengan kehidupan pribadi? Pagi ini aku membantu Ayahku mengurus peternakan sehingga aku merasa mengatuk.Dan kemarin aku meminum bir sehingga aku merasa lelah. Mengapa kau terus membentakku hah? Jika kau tidak mau memberikan tumpangan maka katakanlah dari awal. Dasar orang memalukan!!" Dong Joo terdiam karena dia telah salah berfikir mengenai Da Ji.



Da Ji melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil Dong Joo. Dong Joo menjalankan mobilnya perlahan disamping Da Ji dan terus membujuk Da Ji untuk kembali masuk kedalam mobilnya, "Masuklah. Disini tidak ada pemberhentian bis jadi masuklah. Cepat masuklah." Da Ji bersikukuh tidak mau mausk kedalam mobil Dong Joo dan berjalan kaku, "Jika kau tidak mau memberikan tumpangan padaku maka pergilah!!!" Dong Joo pun pergi begitu saja dari hadapan da Ji dengan mobilnya, Da Ji yang melihat pun menggerutu kesal, "Huh aku meminta dia pergi dan dia benar-benar pergi."

Namun kemudian mobil Dong Joo kembali menghampiri Da Ji dan bertanya, "Memakan waktu 2 jam untuk berjalan kaki menuju rumah. Apakah kau ngin memanggil taxi? Ya walaupun harganya mahal." Da Ji tetap diam dan tidak melihat ke arah Dong Joo. Dong Joo keluar dari mobilnya dan membukakan pintu depan untuk Da Ji. Da Ji lebih memilih untuk duduk di kursi belakang dan itu membuat Dong Joo kesal.



Seperti biasa Da Ji membantu Ahjumma di Restaurantnya. Ahjumma bertanya, "Keluarga Dong Joo tidak tahu ya bahwa kau dan Dong Joo tinggal bersama?" Da Ji mengangguk, "Ya." Ahjumma berkomentar, "Kalian berdua juga sudah memiliki pasangan masing-masing. Ah kau pergi ke Seoul bersama Mr.Right itu kan? Apakah kau begitu menyukainya?" Da Ji menjawab malu-malu, "Sepertinya begitu." Ahjumma tersenyum, "Ya baguslah, lagian kau kan sudah lama menjanda."

Ahjumma melihat ada luka merah di kening Da Ji dan dia pun bertanya, "Omo, ada apa dengan keningngmu itu?" Da Ji bingung, "Hmm ini bukan yang seperti kau pikirkan..." Ahjumma tersenyum, "Ya ampun wajahmu terlihat begitu malu." Padahal luka dikening Da Ji itu akibat Dong Joo mengerem mendadak mobil dan kening Da Ji itu terbentur dashboard mobil.



Ahjusshi lalu memanggil Ahjumma. Ahjushi berkata, "Kau berhentilah mengacaukan otak anak itu." Ahjumma kesal, "Apa? Mengacaukan otak anak itu?" Ahjushi berkomentar, "Jika kau merasa kesepian maka carilah pasanganmu sendiri." Ahjumma benar-benar kesal, "A-Apa yang kau katakan? Setelah Ayah dan Pamanku meninggal, aku adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Aku membesarkan Jung Dae sendirian. Aku ini adalah Ibu yang sangat hebat dan wanita yang integritas." Ahjushi berkomentar, "Aku tidak yakin jika kau seorang Ibu yang baik." Ahjumma tentu kesal dengan sikap Ahjusshi itu.



Dong Joo masuk ke dalam restaurant setelah membuang sampah. Dia melihat Da Ji sedang mengepel dan dia pun merebut alat pel itu untuk membantu Da Ji. Da Ji berkata, "Kau kerjakan saja pekerjaanmu, tidak perlu membantuku." Dong Joo menjawab, "Diamlah, aku hanya akan membantumu saja." Da Ji bingung dan bertanya, "Kenapa? Apa karena kau melukai keningku ini maka kau merasa bersalah hah?" Dong Joo menjawab, "Hm. Aku sudah memikirkan mengenai surat persetujuan masyarakat yang tersisa 1 bulan. Dan aku rasa hal ini tidak akan selesai jika tanpa mulut besarmu itu. Dan setelah itu kita akan sulit memiliki waktu bertemu. Kau menjalani kehidupanmu dan aku akan menjalani kehidupanku. Tidak perlu saling mencampuri urusan pribadi masing-masing." Da Ji kembali bungung, "Hah? Aku tidak berniat menganggu kehidupan pribadimu." Dong Joo berkata, "Baiklah maaf." Kemudian Dong Joo prgi dan terus mengerjakan tugas Da Ji untuk mengepel.



Wanita yang waktu itu berusaha menelfon Yun Ho datang ke Resort dan meminta agar bellboy menyimpan kopernya di kamar Yun Ho. Lalu ia menghampiri resepsionis dan bertanya, "Apa kau tau Seo Yun Ho ada dimana sekarang ini?"



Yun Ho mengenggam tangan Da Ji dan mengajaknya berkeliling resort. Da Ji merasa tidak nyaman karena mereka sedang berada di depan umum dan banyak sekali para karyawan yang menatap kearah mereka berdua. Da Ji berkata, "Yun Ho, lepaskan. Banyak sekali yang melihat kearah kita." Yun Ho tersenyum dan bertanya, "Kenapa dilepaskan? Aku rasa sangat bagus jika kita berjalan bersama sambil bergandengan tangan." Da Ji terdiam saja karena bingung mau bicara apa lagi pada Yun Ho.

Dari arah berlawanan terlihat Dong Joo dan Jin Young. Jin Young menghampiri Yun Ho dan Da Ji, lalu dia berkata, "Oppa, berhentilah memamerkan hubungan kalian." Yun Ho hanya tersenyum dan justru dia semakin memamerkan tangannya dan Da Ji yang saling menggenggam.



Jin Young melihat ke arah belakang Yun Ho dan raut mukanya langsung berubah kaget. Yun Ho menyadari perubahan raut muka Jin Young dan menatap ke balik punggungnya, ternyata sudah ada wanita asing itu. Yun Ho sama kagetnya saat melihat wanita itu. Sementara itu Da Ji dan Dong Joo sama sekali tidak mengerti dengan situasi ini.

Wanita itu menghampiri semuanya dan tersenyum licik pada Jin Young, "Jin Young, sudah lama tidak bertemu denganmu. Apakah kau tetap mengikutinya hingga kemari?" Jin Young terdiam mendengarnya. Wanita itu lalu menatap Da Ji dan bertanya pada Yun Ho, "Sayang, siapa wanita muda ini?" Da Ji shock mendengar panggilan sayang dari wanita itu pada Yun Ho. Wanita itu mendekati Da Ji dan memperkenalkan diri, "Hallo. Perkenalkan aku adalah istri dari laki-laki yang kini sedang kau genggam tangannya. Bisakah kau melepaskan tanganmu itu?" Da Ji lagi-lagi dibuat kaget dengan perkataan wanita itu. Melihat sikap Da Ji yang terdiam saja, wanita itu bertanya pada Yun Ho, "Sayang, apakah wanita ini tidak mengerti bahasa korea?"

Wanita itu semakin mendekati Da Ji, namun Yun Ho segera menahannya. Yun Ho berkata pada wanita itu, "Cukup sampai disini!" Yun Ho menatap Da Ji, "Aku akan menghubungimu nanti." Kemudian Yun Ho menarik paksa wanita itu pergi. Da Ji masih shock dengan apa yang sebenarnya terjadi.



Dong Joo yang melihat kejadian itu pun tentu langsung membentak Da Ji, "YA! Apakah kau belum sadar juga?" Da Ji terdiam tidak menjawab apapun. Dong Joo berkata pada Jin Young, "Aku rasa, aku harus mengantar dia dulu pulang." Jin Young menatap Da Ji, "Ya. Kau pulanglah dan beristirahat." Dong Joo pun langsung menarik pergi Da Ji dan meninggalkan Jin Young begitu saja.



Yun Ho masuk kedalam kamar resortnya dan dia melihat sudah ada 2 koper milik wanita itu. Wanita itu duduk dengan santai di sofa dan bertanya, "Apakah kau tidak lelah tinggal di resort? Bukankah kau bilang bahwa kau akan lama disini? Mengapa tidak mencari sebuah rumah saja?" YunHo tidak mempedulikan pertanyaan wanita itu dan justru bertanya balik ,"Mengapa kopermu ada disini?" Wanita itu menjawab, "Aku sudah meninggalkan Manhattan. Saat tinggal bersamamu aku tidak pernah memikirkan hal ini, tapi Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendiri. Ah dimana aku bisa meletakan koperku?" Yun Ho menahan lengan wanita itu dan bertanya, "Mengapa kau menjadi seperti ini? Kita sudah berakhir." Wanita itu dengan cepat menjawab, "Tidak. Kita belum berakhir. Aku tetap istrimu. Walaupun masih ada proses hukum mengenai biaya tunjangan, namun aku belum menandatangani surat perceraian. Aku sudah menyelesaikan hal-hal disana sebelum aku datang kemari untuk berada disisimu sesaat. Jadi sekarang dimana aku harus menyimpan tasku?"

Yun Ho segera mengambil HPnya dan menelfon Asistennya, "Hyung, bisakah kau memesankan kamar untuk Mil Hye?" Yun Ho menutup Hpnya dan pergi dari kamarnya itu. Wanita yang ternyata bernama Mil hye itu hanya terdiam melihat kepergian Yun Ho.



Yun Ho berjalan bersama dengan Asistennya dan dia bertanya, "Apakah ada yang ingin dia diskusikan?" Asistennya menjawab, "Tidak. Jika biaya tunjangan itu sudah ada keputusannya maka kau tinggal perlu menandatangani persetujuannya saja." Yun Ho kembali terdiam.



Dong Joo membawa Da Ji pulang ke rumah dan Da Ji berjalan dengan lesu . Dong Joo menghentikan langkah Da Ji dan bertanya, "Apakah kau tidak tau bahwa dia masih memiliki hubungan dengan istrinya?" Da Ji menjawab, "Bercerai. Dia bilang bahwa dia sudah bercerai." Dong Joo lagi-lagi bertanya, "Lalu siapa wanita itu? APakah wanita itu bukan istrinya Yun Ho hah?" Da Ji kebingungan, "Entahlah. Aku tidak tau." Dong Joo marah, "Kenapa kau tidak tau? Bukankah aku sudah bilang dari awal bahwa kau ini mudah ditipu?? Bukankah sudah kukatakan bahwa orang itu tidak layak! Orang itu pasti memiliki hubungan yang complicated dengan para wanita."



Terdengar mobil yang datang dan itu merupakan mobilnya Yun Ho. Dong Joo berkata pada Da Ji, "Kau harus memastikan perceraiannya. Apa kau mengerti hah?" Yun Ho turun dari dalam mobilnya dan menghampiri Da Ji, "Kau patsi terkejut... Bisakah kita berbicara?" Da Ji menatap Dong Joo sesaat dan kemudian mengangguk pada Yun Ho. Dong Joo benar-benar kesal melihat sikap Da Ji itu.



Yun Ho membawa Da Ji ke mercusuar di pinggir laut (Mercusuarnya kaya yang di episode akhir Iris). Yun Ho mulai membuka pembicaraan, "Selama ini... Aku selalu berfikir bahwa jika aku bekerja keras maka tidak akan ada yang tidak bisa aku lakukan. Tapi tidak untuk pernikahan ini. Aku tidak ingin memiliki pernikahan yang gagal. Aku melihat perceraian orangtua ku dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh seperti itu. Tapi... Kami hanya bisa saling menyakiti. Lalu untuk apa dilanjutkan? Kami sudah 2 tahun hidup terpisah dan aku sudah menandatangani surat perceraian." Da Ji memberanikan bertanya, "Lalu mengapa dia seperti ini?" Yun Ho bertanya sendiri pada dirinya, "Mengapa dia begini? Aku harus bertanya padanya dulu baru aku akan mengerti. Tapi... Bagaimanapun juga aku sangat yakin mengenai satu hal,Aku dan dia sudah berakhir." Da Ji bertanya, "Kita... Hubungan kita ini bukanlah hubungan yang tidak pantas kan?" Yun Ho menjawabnya dengan tersenyum.



Da Ji pulang ke rumah dan Dong Joo sudah menunggunya di dalam. Dong Joo berkata, "Kau sama saja seperti membakar dirimu sendiri." Da Ji berkata, "Tapi... Bukankah aku harus mendengarkan penjelaskan dia dulu?" Dong Joo menjawab, "Ya baiklah, apa yang dia katakan padamu?" Da Ji terdiam sesaat dan menjawab, "Dia mengatakan bahwa dia sudah bercerai. Dia sudah menandatangani surat perceraian dan hubungan mereka sudah berakhir." Dong Joo tiba-tiba tertawa miris, "Jika hanya ada tandatangan dari satu pihak, apakah itu bisa dianggap selesai? Huh mengapa kau dan Yun Ho bisa sangat mirip hah? Apakah kau ingat bahwa dulu kau juga pernah melakukan hal itu? Bukankah kau melakukan hal seperti itu juga? Itu semua adalah keputusan sepihak." Da Ji kaget dan mencoba menjelaskan, "Pada saat itu..." Dong Joo memotong pembicaraan Da Ji, "Kalian berdua sungguh cocok satu sama lain." Dong Joo langsung pergi dengan sinis.



Dong Joo datang ke resort dan menemui Jin Young yang sedang bekerja. Jin Young bertanya, "Apakah Da Ji baik-baik saja?" Dong Joo menjawab, "Entahlah. Ah ya wanita itu..." Jin Young mengerti pertanyaan Dong Joo, "Mi Hye. Dia adalah istri Yun Ho Oppa. Mereka telah bercerai selama lebih dari sebulan." Dong Joo mengangguk mengerti. Jin Young terlihat masih ingin menjelaskan sesuatu, "Yang tadi dikatakan Mi Hye... Ini sulit untuk dijelaskan. Mi Hye tidak begitu menyukaiku karena Pada saat mereka menikah, aku membuat kesalahan." Dong Joo tersenyum, "Aku juga tidak beda jauh darimu, suka membuat kesalahan yang memalukan. Tapi itu semua adalah masa lalu. Kau tidak perlu menjelaskannya." Jin Young tersenyum lega.

Jin Young lalu berkata, "Namun tadi kau meninggalkan pacarmu ini demi Da Ji..." Dong Joo kebingungan, "Itu... itu..." Jin Young tersenyum, "Aku hanya bercanda. Lain kali kau harus memperhatikan pacarmu ini terdahulu." Dong Joo mengangguk mengerti.



Keesokan paginya Da Ji membuat sebuah minuman dan membungkusnya karena minuman ini masu diberikan pada Yun Ho. Saat Da Ji keluar dari dapur, dia berpapasan dengan Dong Joo. Da Ji bertanya, "Mengapa kau keluar begitu pagi?" Dong Joo tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja tidak mempedulikan pertanyaan Da Ji.



Da Ji datang ke tempat pohon dimana dia dan Yun Ho selalu janjian untuk bertemu. Da Ji duduk di samping Yun Ho dan tersenyum. Yun Ho berkata, "Aku khawatir jika kau tidak mau datang lagi kemari. Ah apa yang kau bawa itu?" Da Ji menunjukan minuman yang ia buat itu pada Yun Ho, "Ini minuman yang aku buat. Minumlah saat kau kelelahan, Ini lebih baik dari pada kopi untuk memulihkan energimu." Yun Ho tersenyum senang. Kemudian wajah Yun Ho ebrubah serius, "Hmm wanita itu... Dia akan tinggal di resort untuk sementara. ada beberapa hal yang harus kami urus." Da Ji dengan cepat mengenggam tangan Yun Ho, "Kau tidak perlu memberutahukan semuanya padaku. Aku baik-baik saja."



Yun Ho masuk kedalam kamar resortnya dan melihat Mi Hye yang sudah mempersiapkan sarapan pagi untuknya. Mi Hye melihat kedatangan Yun Ho dan berkata, "Kau berolahraga cukup lama pagi ini. Ah itu minumlah kopinya." Yun Ho menyimpan minuman pemberian dari Da Ji itu diatas meja. Mi Hye melihatnya dan bertanya, "Apakah gadis itu yang memberikannya padamu? Ah sebaiknya kau memikirkannya lagi dengan baik-aik, apa yang menjadi masalah diantara kita." Yun Ho kesal dan berkata, "Apakah dua tahun tidak cukuo? Sampai kapan aku harus bertahan?" Mi Hye menjawab, "Aku pikir kau tidak perlu bertahan seperti itu. Aku tidak ingin kau seperti itu karena kau hanya harus ada disisiku. Apakah semua ini karena aku? Sayang, ada yang mau aku katakan..." Yun Ho memotong ucapan Mi Hye, "Pergilah. Tidak ada lagi yang harus dikatakan. dan tidak ada lagi apapun diantara kita. Kita sudah berakhir."

Mi Hye berkata, "Bagaimana pun juga aku berusaha untuk mencari kemungkinan kita kbersama. Lebih dari 2 tahun ini sepertinya telah merubah sikapmu. Aku berusaha mengerti. Aku tau bahwa aku berwajah tebal, kau selalu ada untukku namun aku sebaliknya. Sepertinya jika aku berbicara lebih banyak maka konflik diantara kita hanya akan bertambah saja. Bisakah kita memulai semuanya?" Yun Ho menjawab, "Sejujurnya, yang kau katakan itu tidak berguna sama sekali. Ah bukankah kau mengatakan membutuhkan uang? Kau hubungi saja pengacaraku." Mi Hye merasa tersinggung mendengar ucapan Yun Ho, "Apakah maksudmu itu agar aku mengambil uangmu dan pergi? Kau ternyata tidak berbeda dengan orang lain. Apa kau berfikir bahwa aku adalah wanita yang hanya tertarik pada uangmu?" Yun Ho menjawab dengan dingin, "Aku tidak berniat berfikir begitu." Yun Ho berjalan masuk kedalam kamarnya meninggalkan Mi Hye. Mi Hye matanya berkaca-kaca dan berkata, "Baru saja kau berfikir seperti itu!"



Da Ji dan Jong Dae berada dipinggir pantai untuk menyewakan kuda. Mi Hye datang dan Jong Dae menawarkan menunggangi kuda, "Selamat datang. Biayanya hanya 30.000 untuk 1 jam." Da Ji melihat tamu yang datang dan sangat kaget sata melihat yang datang adalah Mi Hye. Mi Hye memberikan uang pada Jong Dae dan berkata, "Lupakan mengenai tungangan kuda itu." Jong Dae menerima uang itu dan dia mengerti maksud Hye Mi, dia pun segera pergi meninggalkan Hye Mi berbicara berdua dengan Da Ji. Hye Mi menatap Da Ji dengan tatapan merendahkan.