Sinopsis Paradise Ranch Episode 9

PARADISE RANCH
EPISODE 9


Da Ji dan Jong Dae berada dipinggir pantai untuk menyewakan kuda. Mi Hye datang dan Jong Dae menawarkan menunggangi kuda, "Selamat datang. Biayanya hanya 30.000 untuk 1 jam." Da Ji melihat tamu yang datang dan sangat kaget sata melihat yang datang adalah Mi Hye. Mi Hye memberikan uang pada Jong Dae dan berkata, "Lupakan mengenai tungangan kuda itu." Jong Dae menerima uang itu dan dia mengerti maksud Hye Mi, dia pun segera pergi meninggalkan Hye Mi berbicara berdua dengan Da Ji. Hye Mi menatap Da Ji dengan tatapan merendahkan.



Dong Joo sedang melakukan rapat bersama dengan Yun Ho dan beberapa orang lainnya. Dong Joo tidak serius dengan rapat ini, ia justru mencoret berkas dengan menuliskan 'I Hate U' dan kalimat itu sepertinya ditunjukan untuk Yun Ho. Yun Ho bertanya, "Sebelumnya kita telah membahas rencana bisnis balap kuda. Menurutku, rencana ini cukup baik. Kita juga bisa bekerja sama dengan penduduk setempat. Dan acara ini bisa saja dijadikan seperti sebuah festival. Direktur Han Dong Joo, bagaimana menurutmu?" Dong Joo terdiam sesaat untuk berfikir, namun Asisten Lee sudah berkata terlebih dahulu pada Dong Joo, "Warga akan di ikut sertakan dalam acara ini dan tentu saja hal ini bisa meningkatkan citra resort kita ini. Ini rencana yang bagus." Dong Joo menatap Asisten Lee dengan penuh kesal, dan dengan segera Asisten Lee terdiam.

Dong Joo menjawab pertanyaan Yun Ho tadi, "Kita harus membahas hal ini lagi dengan menyeluruh. Aku tidak begitu yakin bahwa kau mengerti para penduduk disini. Penduduk disini setiap harinya sibuk untuk mengurus kuda mereka. Menurut pandangan kami mungkin ini seperti sebuah hiburan, namun mungkin berbeda dengan cara pandang mereka." Yun Ho mengangguk setuju, "Ya mungkin anda benar..." Dong Joo lalu menatap Asisten Lee, "Kirimkanlah beberapa alat pertanian berkualitas atau memberikan bantuan makanan untuk kuda dalam rangka meningkatkan pengakuan mereka pada kita. Ini adalah cara praktis untuk membantu mereka." Yun Ho terdiam mendengar ucapan Dong Joo.



Sejak tadi, Mil Hye hanya duduk dikursi dan terus menatap Da Ji. Da Ji berusaha tidak mempedulikan Mil Hye dan menyibukan diri dengan kuda yang ada di hadapannya. Ahjumma datang dan bertanya pada Da Ji, "Siapa wanita yang terus menatapmu itu? Sejak tadi dia hanya duduk disana dan tidak bergerak sama sekali selama 1 jam. Dia jelas-jelas menatapmu Da Ji, apakah kau mengenalnya?"


Da Ji pun memberanikan diri untuk menghampiri Mil Hye, "Apakah ada sesuatu yang mau kau katakan pada-ku?" Mil Hye menjawab singkat, "Tidak." Da Ji kembali bertanya, "Lalu mengapa kau terus menatap orang lain? Setidaknya kau memiliki sesuatu yang mau dikatakan." Mil Hye menjawab dengan dingin, "Aku hanya ingin melihat saja. Suamiku yang sempurna, yang memiliki kehidupan yang sempurna itu pada akhirnya tertarik pada wanita sepertimu ini?" Da Ji menelan ludah saat mendengar kata-kata Mil Hye. Mil Hye menatap Da Ji dari atas hingga bawah dan kemudian berkata, "Terus terang saja saya ingin melihat seperti apa kau ini sebenarnya, dan menurutku kau tidak memiliki banyak pesona. Kau merasa frustasi bukan?" Da Ji menenangkan dirinya sendiri agar tidak marah. Sementara Ahjumma kaget mendengar pembicaraan antara Mil Hye dan Da Ji.

Da Ji bertanya, "Pernikahanmu sudah berakhir, lalu mengapa kau masih tetap memanggilnya dengan sebutan 'suami'?" Mil Hye balas bertanya, "Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu? Mungkin bagi gadis kecil sepertimu pernikahan ini begitu simple hah?" Mil Hye bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Namun kemudian dia beralik menatap Da Ji, "Air Lemon yang kau buat rasanya lumayan. Namun sedikit asam. Sayang sekali orang yang kau buatkan itu tidak menyukai lemon." Mil Hye tersenyum sinis dan kemudian berjalan pergi.


Ahjumma langsung menghampiri Da Ji, "Da Ji! Apa yang sebenarnya wanita itu katakan?" Da Ji terdiam karena bingung dengan apa yang harus dia jelaskan pada Ahjumma.



Da Ji masuk ke gudang dan terus menerus menyakinkan dirinya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja, "Ini bukan masalah besar. Ya semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." Sebuah benda menjatuhi kepala Da Ji dan Da Ji pun terdiam. Da Ju terduduk dan mulai menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak baik-baik saja.



Ahjumma memberi tahu hal yang baru saja ia dengar itu pada Tuan Yang, "Dia ternyata masih memiliki seorang istri." Da Ji baru saja keluar dari gudang dan menyapa Ahjumma serta Tuan Yang, "Ada apa ini?" Tuan Yang berkata "Da Ji kau membiarkan Ayahmu itu senang dengan hubunganmu tanpa alasan. Sebagai orang dewasa, aku sudah menganggapmu sebagai keluarga dan aku memberitahumu bahwa kesedihan dan kesenangan itu bersifat sementara dalam hidup ini. Sebaiknya kau tidak masuk kedalam hubungan orang lain. Itu bukanlah hal yang baik." Da Ji berkata dengan cepat, "Bukan seperti itu..." Ahjumma berkata pada Tuan Yang, "Itu benar. Aku kan sudah bilang bahwa Da Ji tidak mungkin melakukan hal itu! Tapi... Da Ji jika kau sudah tau, mengapa kau masih berkencan dengannya? Sekarang kau sudah mengetahuinya dan sebelum beredar gossip tidak enak maka sebaiknya kau cepet mengakhirinya. Oke?" Da Ji terdiam memikirkan kata-kata itu.

Tuan Yang lalu berkata, "Da Ji, bukankah minggu depan kau akan pergi ke Udo untuk menemui nenek disana? Ini aku merekam lagu yang ia suka. Tolong berikan padanya." Da Ji mengambil kotak yang diberikan oleh Tuan Yang dan dengan cepat ia mengatakan, "Tidak. Aku tidak akan pergi kesana minggu depan, aku akan kesana besok!"



Da Ji sedang berada di peternakan kuda Resort. Yun Ho menghampirinya dan tersenyum, "Rapatku baru saja selesai. Apakah kau sibuk?" Da Ji dengan cepat menggelengkan kepala. Yun Ho kembali berkata, "Huh bahkan kau tidak mengirimkan satu sms pun padaku." Da Ji tersenyum, "Ah besok aku akan pergi ke Udo. Ada seorang Nenek yang dahulu tinggal disini dan pindah ke Udo. Dia tinggal disana sendiri dan aku kadang datang menghampirinya untuk berbincang-bincang dengannya Dan juga ada kuda yang harus aku periksa disana." Yun Ho lalu bertanya, "Kau sengaja pergi untuk menghindariku kan? Ah Wajahmu memerah, Apakah itu benar?" Da Ji dengan cepat menjawab, "Tidak.. Tidak.."

Yun Ho tersenyum dan bertanya, "Apakah kau suka steak? Aku akan membalas budi atas air lemon enak yang kau kirim itu. Aku juga ingin menunjukan kemampuanku ini." Da Ji tersenyum, "Hmm sepertinya enak steak buatanmu." Yun Ho menjawab, "Tentu saha. Lihatlah siapa yang memasaknya."



Dong Joo melihat berkas-berkas dengan serius untuk mendapatkan ide. Sementara Asisten Lee terus menatap jam dan akhirnya dia berkata pada Dong Joo, "Hmm Direktur Han Dong Joo.. Ini sudah waktunya untuk makan siang." Dong Joo berkata dengan dingin, "Apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan makanan? Kita kan sudah mengatakan pada Seo Yun Ho bahwa rencana yang akan kita buat ini pasti lebih baik. Masa kita hanya menonton dan diam saja untuk bersenang-senang? Kita harus memiliki rencana bisnis yang sangat hebat! Aku tidak berniat makan. Aku akan menunggu saja disini. Kau pergilah dan nikmati makanan enak. Dan saat kau kembali, kau harus membawa ide yang baik." Asisten Lee langsung lemas dan terdiam saja karena disindir oleh Dong Joo.

Jin Young datang dengan membawa Sushi dan tentu saja hal itu membuat Asisten Lee senang. Namun ternyata sushi yang dibawa oleh Jin Young itu hanya cukup untuk dirinya dan Dong Joo. Dengan penuh kecewa Asisten Lee pun pergi meninggalkan ruangan Dong Joo, "Baiklah aku akan mencari ide yang lebih bagus tanpa makan siang."



Yun Ho mengajak Da Ji untuk ke kamar resortnya karena dia sudah berjanji akan memasakan steak untuk Da Ji. Saat masuk kedalam kamar resort itu, terlihat sudah ada Mil Hye yang duduk sambil meminum wine. Mil Hye menatap kedatangan Da Ji dan Yun Ho itu lalu berkomentar, "Aku pikir ini hanya sebuah lelucon, tapi ternyata kau benar-benar mengajaknya kemari. Bahkan sepertinya kalian sudah tidur bersama. Aku akan terus melihat kalian berdua. Bahkan kau tidak tau kan bahwa aku telah bertemu dengannya?" Yun Ho bertanya pada Mil Hye dengan dingin, "Apa yang kau lakukan disini?" Mil Hye menjawab, "Aku sudah katakan bahwa hubungan kita belum selesai, itulah sebabnya aku menunggumu disini."

Da Ji menatap Yun Ho dan berkata, "Aku rasa aku akan pergi sekarang." Namun Yun Ho segera menahannya, "Mengapa kau harus pergi? Bukan kau yang harus pergi dari sini." Mil Hye langsung menatap Yun Ho, "Maksudmu orang yang seharusnya pergi itu adalah aku?" Yun Ho lelah berdebat, "Besok saja kita bicarakan hal ini." Mil Hye menatap Yun Ho kembali, "Sebelumnya, Ketika aku berusaha menarik perhatian laki-laki lain... Hm sekarang aku mengerti apa yang kau rasakan pada saat itu." Yun Ho sangat marah dan membentak Mil Hye, "JI MIL HYE!!" Da Ji kaget mendengar Yun Ho yang membentak dan dia pun dengan cepat permisi pamit, "Ahjushi, aku akan menelfonmu lagi nanti." Da Ji dengan cepat pergi meninggalkan Yun Ho.



Yun Ho menatap Mil Hye sekilas dan kemudian pergi mengejar Da Ji. Yun Ho berhasil menahan kepergian Da Ji itu. Yun Ho berkata, "Da Ji! Hmm aku tidak tau apa yang harus aku katakan padamu..." Da Ji memotong ucapan Yun Ho, "Aku baik-baik saja. Kau kembali lah ke kamar resortmu dan dengarkan apa yang mau ia katakan. Aku akan pergi." saat Da Ji berjalan pergi, Yun Ho menahannya, "Aku akan mengantarmu pulang." Namun Da Ji menolaknya. Yun Ho memeluk Da Ji dan berkata, "Jika kau terdiam begini, aku justru akan merasa lebih bersalah padamu. Jika kau sedih dan jika kau tidak suka maka kau harus mengeluhkan hal ini padaku." Da Ji pun mulai menangis.

Dan ternyata Mil Hye melihat adegan Yun Ho memeluk Da Ji itu dengan wajah kecewa.



Mil Hye masuk kedalam kamarnya dan dia melihat album foto saat dia masih menjadi model. Dan juga ada beberapa foto yang memperlihatkan kemesraannya bersama dengan Yun Ho. Kemudian Mil Hye melihat surat pengajuan perceraian. Mil Hye menatap surat itu dan merobeknya.


Da Ji sedang berada di ruang duduk dan menunggu kedatangan Dong Joo. Dong Joo yang baru pulang itu sengaja langsung pergi ke kamarnya tanpa melihat Da Ji. Da Ji tentu langsung marah pada Dong Joo, "Apakah aku ini hantu sehingga kau melewatiku begitu saja?" Dong Joo tetap tidak mempedulikan Da Ji dan terus berjalan masuk ke kamar, namun Da Ji segera menghentikannya, "Ketika itu aku sedang sibuk untuk mempersiapkan studiku ke luar negeri. Aku selalu pergi ke kampus untuk menemuimu, namun kau lah yang mengabaikanku! Sama seperti sekarang ini." Dong Joo langsung menatap kesal pada Da Ji. Da Ji melanjutkan ucapannya, "Meski mengatakan hal ini sekarang itu akan menjadi aneh. Namun kaulah orang yang pertama memulai perceraian itu."

Dong Joo marah, "Kau ini benar-benar lucu! Setelah enam bulan menikah, kau lah yang mengatakan padaku bahwa kau merasa tersiksa dengan pernikahan itu. Dengan wajah penuh kesedihan, kaulah yang mengatakan padaku bahwa kau ingin kuliah di luar negeri selama 4 tahun. Apa yang harus kulakukan hah pada saat itu? Bersikap tidak peduli?" Da Ji menjawab, "Pada saat itu, aku pikir itu adalah solusi yang terbaik. Jika kita menghabiskan waktu terpisah untuk sementara, mungkin hubungan kita akan membaik seperti semula. Tidak... Mungkin awalnya aku berniat melarikan diri dari kenyataan. Aku selalu menghabiskan waktu di tempat riset penelitian, aku merasa sangat bersalah padamu. Kau menderita banyak karenaku. Bahkan ketika kita bersama, aku justru harus menemani seniorku di tempat penelitian. Kurasa pada saat itu lah aku merasa bersalah padamu. Itu sungguh masa yang sulit. Aku sungguh lelah dan pada saat itu Aku dan kamu begitu sering bertengkar. Pada saat itu aku juga tidak ingin meninggalkanmu sendiri karena aku sangat sangat mencintaimu..." Da Ji terdiam dan menatap Dong Joo.

Da Ji melanjutkan ucapannya, "Meskipun pada saat itu kita menikah karena saling mencintai. Namun kita terlalu sibuk, jadi kita hanya bisa saling menyakiti. Awalnya aku berfikir jika kita memiliki waktu untuk berpisah sementara maka semua akan kembali seperti semula. Namun kau yang bilang bahwa kita sudah berakhir." Dong Joo bertanya dengan kesal, "Jadi maksudmu bahwa ini semua adalah kesalahanku?" Da Ji menjawab, "Ini mungkin adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Pada saat itu kita terlalu muda bukan? Pada saat itu juga aku belum mengerti bahwa hubungan diantara 2 orang itu harus ada kerja sama dan juga kompromi. Lagipula kita berpisah ini karena kesalahan kita berdua." Dong Joo tidak mau disalahkan dan dia berkata, "Tapi orang yang ingin belajar di luar negeri dan yang meninggalkan rumah duluan itu adalah KAU!" Da Ji balas berkata, "Namun yang pertama memberikan surat perceraian itu adalah kau."

Da Ji berdiri dari duduknya dan berkata, "Waaupun kau tidak mau berbicara denganku, kau tetap harus makan. Akan sia sia jika kau tidak memakan porsimu." Da Ji kemudian berjalan pergi ke kamarnya dan meninggalkan Dong Joo yang terdiam dan mencerna kata-kata Da Ji.



Ayah Dong Joo pulang ke rumah dengan keadaan mabuk. Ia masuk kedalam kamarnya dan melihat Ibu DongJoo sudah tidur. Ayah Dong Joo berjalan keluar namun kemudian dia berfikir, "Huh mengapa aku harus keluar?" Ayah Dong Joo pun naik ke tempat tidur dan langsung memeluk Ibu Dong Joo. Ibu Dong joo tentu langsung terbangun dan memukul Ayah Dong Joo hingga jatuh ke lantai. Ayah Dong Joo langsung menjerit kesakitan, "Aah pinggangku... Pinganggku." Ibu Dong Joo langsung marah, "Kau cepat keluar!!!" Ayah Dong Joo yang gengsi pun langsung berkata, "Huh kau pikir aku mau tidur disini apa? Tentu tidak."



Ayah Dong Joo keluar dari kamarnya dan dia bertemu dengan Kakek. Kakek melihat keadaan anaknya itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Astaga kau ini. Bahkan ya pada saat aku ini seusiamu, aku selalu memakan masakan yang Ibumu buat. Kau ini dasar!" Kakek pun langsung pergi meninggalkan Ayah Dong Joo yang masih terlihat kesal.



Da Ji sedang berada di Restaurant dan dia bertemu dengan Ahjumma, "Ah Ahjumma bisa kau tolong buatkan sayur yang Nenek sukai?" Ahjumma menjawab, "Ah aku sudah menyiapkannya. Jika kau mengambil kapal feri jam 7 pagi, aku rasa itu akan lebih baik Da Ji." Dong Joo yang mendengar percakapan Ahjumma dan Da Ji pun bertanya, "Kemana kau mau pergi?" Ahjumma yang menjawb dengan sinis, "Mengapa kau peduli hah? Apakah kau ingin mengikutinya hah?" Dong Joo terdiam mendengar ucapan Ahjumma.

Da Eun tiba-tiba saja datang bersama dengan Jong Dae. Da Eun bertanya pada Da Ji dengan penuh amarah, "Aku dengar bahwa Yun Ho sudah memiliki istri! Bahkan istrinya yang berdada besar itu menemuimu di pinggir pantai! Mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku hah?" Ahjumma kaget mendengar hal ini dan langsung memeukul Jong Dae, "Dasar bocah bodoh!! Bukankah sudah kukatakan agar kau merahasiakannya hah??" Da Eun menunjukan HP pada Da Ji dan berkata, "Kau cepat telfon Yun Ho dan akhiri hubungan kalian!!" Da Ji menjawab, "Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjelaskannya nanti jadi kau cepetlah pulang." Da Eun kesal, "Apa maksudmu? Kau ini terlalu mudah percaya pada orang lain dan itu lah sebabnya kau selalu ditipu!!" Da Ji terdiam mendengar kata-kata Da Eun itu karena Dong Joo juga pernah mengatakan hal yang sama padanya.

Da Ji berkata, "Aku harus menyiapkan barang untuk besok jadi aku pergi duluan ya."Da Ji pergi meninggalkan Restaurant dan Da Eun memanggilnya, "Kau mau pergi kemana hah?" Tiba-tiba saja Dong Joo membentak Da Eun, "Da Eun cukup!! Kakakmu itu bukan anak kecil lagi! Memberikan semangat pada Kakakmu itu adalah hal yang lebih membantunya." Da Ji terdiam sesaat mendengar kata-kata Dong Joo namun kemudian dia berjalan pergi. Dong Joo menatap Jong Dae dan Ahjumma, "Lagi pula hal ini bukanlah hal yang harusnya di sebarkan. " Ahjumma tiba-tiba berkata, "Dia selalu terlihat marah jika ada seseorang yang mengkritik Da Ji. " Da Eun melihat Dong Joo dan berkomentar pelan, "Omo... Bagaimana mungkin dia terlihat begitu tampan dan keren?"



Pagi hari Da Ji berjalan keluar rumah dan dia melihat Da Eun mengangkat barang-barang bawaannya itu kedalam bagasi mobil Dong Joo. Da Ji bertanya, "Ada apa ini?" Da Eun menjawab, "Ah Dong Joo Oppa mengatakan dia akan mengantarmu ke dermaga." Da Ji kaget karena Da Eun tiba-tiba memanggil Dong Joo dengan sebutan Oppa. Dong Joo juga sama terkejutnya dengan Da Ji namun dia merasa senang karena itu artinya Da Eun mulai bisa menerima kehadirannya.



Dong Joo mengantar Da Ji ke dermaga dan membantu menurunkan barang-barang Da Ji dari dalam mobil. Da Ji membawa banyak barang sehingga dia kesulitan mengambil tiket kapal yang dia simpan di saku celanananya. Da Ji pun meminta bantuan Dong Joo untuk mengambilkan tiket kapal di saku celananya, "Ini tolong ambilkan tiket di saku celanaku. Cepat!!" Dong Joo mengambilnya dengan ragu-ragu dan berkomentar, "Kau harusnya memakai ukuran celana yang tepat. Celanamu ini terlalu ketat, bahkan tanganku sulit mengambil tiketnya." Da Ji tersinggung dan memarahi Dong Joo, "Ya!! Celana ini ukurannya pas denganku. " Dong Joo menyumpal mulut Da Ji dengan tiket kapal sehingga Da Ji tidak berkomentar apapun lagi. Dong Joo berkata, "Huh kau bahkan memakai ukuran celana pada saat kau masih muda." Da Ji kesal dan lebih memilih untuk segera masuk kedalam kapal yang akan pergi.


Dong Joo masuk kembali kedalam mobilnya dan dia mencium bau sesuatu dari dalam mobilnya. Dong Joo melihat ke arah jok belakang dan dia melihat ada barang milik Da Ji yang tertinggal.



Da Ji sudah sampai di Pulau Udo dan dia juga sudah bertemu dengan Nenek. Da Ji menyadari ada barangnya yang tertinggal dan dia pun menelfon Dong Joo untuk meminta Dong Joo mengantar barang itu, "Kau naiklah kapal yang jam 7.30, atau jika kau tidak mendapatkan tiketnya maka naiklah kapal yang jam 8.30." Dong Joo bertanya, "Mengapa aku harus melakukannya?" Da Ji ingin marah namun dia menahannya karena dia sedang membutuhkan bantuan Dong Joo, "Jika bukan kamu maka siapa lagi yang akan membantuku? Karena tadi kau sudah membantuku maka tidak ada salahnya jika sekarang juga kau membantuku." Dong Joo tiba-tiba berkata, "Menunggu di samping Nenek. Dan lihatlah dirimu, kau sebaiknya lebih mencerdaskan otakmu itu." Da Ji kebingungan mengapa Dong Joo tau jika dia sedang menunggu di samping Nenek, "Bagaimana kau tau?"

Da Ji melihat kebelakang dan ternyata Dong Joo sudah ada di Pulau Udo itu. Da Ji bertanya kebingungan, "Bagaimana kau bisa ada disini?" Dong Joo menjawab, "Aku tadi naik kapal feri yang jam 7.30 Dokter Lee Da Ji."



Nenek yang melihat kedatangan Dong Joo pun bertanya pada Da Ji, "Siapakah laki-laki tampan dan sopan ini?" Dong Joo tersenyum pada Nenek dan memperkenalkannya, "Saya Han Dong Joo." Da Ji berkata pada Nenek, "Dia ini adalah temanku. Untung sekali dia membawakan tasku ini." Dong Joo menatap Da Ji kesal, "Saat kau akan pulang maka pastikan kau sudah membawa seluruh barangmu. Ah Nenek jaga kesehatanmu, aku akan pergi dahulu." Namun Nenek melarang Dong Joo pulang, "Kau mau pergi kemana? Kita harus pergi bersama-sama." Da Ji berkata pada Nenek, "Nenek, Dong Joo harus berangkat dengan kapal feri yang selanjutnya." Nenek bertanya pada Da Ji, "Lalu siapa yang akan membawa barang-barangmu yang banyak ini? Bukankah yang muda harus membantu yang tua? Lagi pula hanya akan memakan waktu 10 menit saja." Nenek tersenyum pada Dong Joo dan langsung berjalan pergi. Da Ji pun ikut pergi bersama Nenek dan meninggalkan barang-barang bawaannya itu agar Dong Joo yang membawanya.



Yun Ho dan Asistennya sedang duduk di ruang rapat menunggu kedatangan Dong Joo. Asisten Lee datang ke ruang rapat dengan terburu-buru dan meminta maaf pada Yun Ho, "Direktur Han Dong Joo menunda pertemuan ini hingga besok siang. Kami benar-benar meminta maaf." Yun Ho bertanya, "Apa ada hal yang begitu mendesak sehingga dia menundanya?" Asisten Lee menjawab, "Tiba-tiba saja Direktur Han Dong Jo harus tinggal di Pulau Udo sebagai Sukarelawan." Yun Ho terdiam mendengar hal itu.



Dong Joo dan Da Ji pun membantu merapihkan rumah Nenek yang berantakan. Dan sekarang tugas mereka adalah memasang wallpaper di dinding kamar Nenek. Da Ji berkata, "2 tahun lalu Kakek meninggal dan itu sebabnya kini Nenek tinggal sendiri." Dong Joo menatap Da Ji kesal, "Siapa yang bilang bahwa aku cukup membawa tas saja hah? Kau sengaja meninggalkan barangmu di dalam mobilku agar aku datang kemari kan?" Da Ji berkata pelan, "Berhentilah mengomel!" Da Ji melihat wallpaper yang di pasang oleh Dong Joo dan dia pun menggerutu pada Dong Joo, "YA! Kau salah memasangnya. Lihatlah ini. Pola yang ini salah. Harus berapa kali aku memberitahumu hah? Kau merusaknya saja!" Dong Joo kesal di marahi bergitu, "Kalau begitu kau kerjakan saja sendiri." Da Ji tersenyum dan berusaha menenangkan Dong Joo, "Kau sudah berjanji akan membantu jadi kau harus melakukannya dengan benar."

Nenek tiba-tiba datang dan berkata, "Atapnya bocor, haruskah di tutup dengan plastik?" Dong Joo menjawab kata-kata Nenek, "Ya Nenek aku akan memperbaikinya." Nenek pun lalu pergi meninggalkan Dong Joo dan Da Ji. Dong Joo berkomentar, "Setiap aku bersaamu maka selalu saja kesialan menimpaku." Dong Joo melempar kertas wallpapernya dan pergi keluar rumah untuk memperbaiki atas yang bocor. Da Ji melihat kertas wallpaper yang ditinggalkan Dong Joo dan dia pun berkata, "Baiklah aku akan melakukannya sendiri." Da Ji naik ke atas bangku dan dia terlihat kesulitan saat memasangkan wallpaper itu karena dia harus berjinjit di atas kursi.



BRAK!

Da Ji terkejut mendengar suara keras itu. Da Ji segera keluar rumah Nenek dan melihat kaki Dong Joo yang tersangkut di atap rumah karena atap itu tiba-tiba runtuh. Dong Joo merasa tidak enak hati pada Nenek, "Nenek, aku akan memperbaikinya nanti. Maafkan aku." Nenek berkata, "Lupakan, kau tidak sengaja melakukannya." Nenek kemudian pergi masuk kedalam rumah. Dong Joo turun dari atap rumah dan Da Ji terlihat sangat panik saat melihat luka yang ada di kaki Dong Joo. Dong Joo berkata, "Lukanya bukan apa-apa kok." Da Ji tiba-tiba membentak Dong Joo, "Tidak apa-apa?? Luka ini terlihat serius. Bagimana jika kau terkena tetanus? Apa yang akan kau lakukan hah?" Da Ji membuka kotak obatnya dan segera mengobati luka di kaki Dong Joo. Dong Joo terlihat salah tingkah melihat sikap Da Ji itu, "Ini semua karena kau meremehkan aku. Kau mengatakan kata-kata yang menyakiti hatiku." Da Ji mengambil obat gel dan bertanya, "Dimana luka hatimu? Aku akan menggosoknya dengan obat ini."



Da Eun datang ke Restaurant dan bertemu dengan Jong Dae dan Ahjumma. Da Eun berkata, "Kakakku dan Dong Joo Oppa pergi ke Udo bersama-sama. Hmm itu adalah hal yang bagus." Jong Dae bertanya, "Apa maksudmu?" Da Eun menjawab, "Jika Yoon Ho belum bercerai maka itu akan membuat Kakakku dilema. Dan jika Dong Joo Oppa menyukai Kakakku seperti dimasa lalu, maka itu bukanlah hal yang buruk jika mereka memutuskan berdamai, benar bukan?" Ahjumma berkomentar, "Kau pintar Dae Eun... tapi itu adalah hal yang menyeramkan!"

Terdengar ada suara tamu yang datang ke Restaurant dan ternyata tamu itu adalah Jin Young. Jin Young bertanya, "Apakah ada Dong Joo disini?" Da Eun menjawabnya, "Dia pergi ke Udo bersama Kakakku. Siapa kau?"



Jin Young keluar dari Restaurant dan mencoba menghubungi Dong Joo namun telfonnya sama sekali tidak diangkat oleh Dong Joo.



Pekerjaan Dong Joo dan Da Ji memasang wallpaper kamar pun selesai. Da Ji menatap hasilnya dengan penuh suka cita, "Lihatlah pekerjaan ini selesai. Apa kau berfikir jika kita harus membuat duo fantastis hah? Kau setuju kan?" Dong Joo berkata, "Jangan repot-repot memuji. Ah kapal feri terakhir adanya jam berapa?" Raut wajah Da Ji berubah, "Hmm tidak ada kapal lagi. Yang terakhir itu jam 5.30." Dong Joo terkejut mendengarnya, "Apa? Tidak ada lagi?" Da Ji mengalihkan pembicaraan dengan memuji hasil wallpaper yang mereka pasang, "Lihat, ini sangat sempurna kan? Dong Joo ini semua berkat bantuanmu." Dong Joo berkata, "Bocah ini mengalihkan pembicaraan. Harusnya aku tidak bertanya apa-apa padamu..."

Da Ji bertanya, "Ah apakah aku ingin aku bakarkan kentang? Bukankah kau menyukai kentang bakar?" Dong Joo bertanya kesal, "Apa aku hanya menerima kentang setelah bekerja begitu keras hari ini?"



Nenek tiba-tiba masuk kedalam kamar dan menggerutu melihat Da Ji dan Dong Joo yang terus adu mulut, "Kalian berdua ini sepanjang hari selalu bersama. Apa kalian tidak merasa tidak enak pada Nenek yang hidup seorang diri ini?" Da Ji tersenyum, "Kalau begitu Nenek harusnya mencari seorang teman." Nenek kemudian memberikan 2 buah figura foto pada Dong Joo , "Tolong pasangkan ini di dinding." Dong Joo melihat ternyata foto itu adalah foto Nenek dan Kakek. Nenek berkata, "Jika orang-orang melihat foto itu maka akan mengira bahwa itu adalah foto seorang Ibu dan Anaknya."

Da Ji tersenyum dan bertanya, "Nenek, apakah kau membenci Kakek? Aku dengar Kakek pernah selingkuh saat ia muda." Nenek menjawab, "Bagaimana mungkin aku tidak membencinya? Kita ini tetap saja manusia. Namun Kita saling belajar mentoleransi dalam rangka untuk hidup bersama dan kami hidup dengan bahagia. Itulah kehidupan pernikahan yang sebenarnya. Huh tidak seperti pasangan pada jaman sekarang yang sering sekali berkelagi. Aku melihatnya saja sudah kesal. Kalian berdua jangan jadi pasangan seperti itu. Kalian harus sabar dan bahagia. Mengerti?" Da Ji dan Dong Joo sama-sama terdiam mendengar nasihat Nenek itu. Nenek berkata, "Mengapa kalian terlihat terkejut hah? Apakah kalian hanya akan berpacaran saja sepanjang hidup kalian?" Da Ji berkata dengan cepat, "Nenek, apa maksudmu? Kami tidak memiliki hubungan seperti itu." Nenek berkata, "Sudahlah cepat bakar kentangnya."



Da Ji dan Dong Joo duduk berdua di luar sambil membakar kentang. Dong Joo tiba-tiba tertawa karena melihat wajah Da Ji yang kotor, "Ya! Bagaimana bisa ada wajah seorang wanita yang kotor sepeti itu?" Da Ji balas mengejek Dong Joo, "Wajahmu juga sama kotornya!" Dong Joo lalu berkata, "Nenek tinggal disini sendirian, apakah kau pikir itu baik-baik saja? Apa dia tidak punya anak?" Da Ji menjawab, "Karena tubuhnya terlalu lemah jadi dia tidak bisa hamil. Dia telah banyak menderita. Memikirkan kata-kata yang diucapkan Nenek itu membuatku lebih banyak berfikir mengenai hari-hari bahagia. Ketika aku merasa lelah... Memikirkan hari-hari bahagia yang aku lalui bersamamu itu terasa menenangkan." Da Ji terkejut dengan omongannya sendiri yang membahas masa lalu.

Da Ji bertanya, "Hmm apa kau haus? Aku akan mengambilkannya." Da Ji berdiri dan berniat masuk kedalam rumah namun langkah Da Ji terhenti saat Dong Joo bertanya, "Mengapa kau tidak pernah menghubungiku? Bahkan itu terasa berat bagiku saat kau memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Kenapa kau tidak kembali dan bertemu denganku?" Da Ji bertanya, "Apakah kau menungguku? Saat aku sedang mempersiapkan kuliah ke luar negeri tiba-tiba saja Ayahku ada masalah dengan temannya yang seorang penagih hutang. Penagih hutang itu bahkan mengusir kami dari rumah. Dan lagi Da Eun waktu itu terluka karena Kecelakaan. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan... Aku pergi ke tempat saat kita tinggal berama, namun aku diberikan kabar bahwa kau sedang ikut militer." Dong Joo terkejut mendengarnya, "Apakah Ibuku yang mengatakannya?" Da Ji menggeleng, "Tidak. Ayahmu yang mengatakannya. Dia benar-benar marah pada hari itu. Dia mengatakan padaku bahwa kau baik-baik saja dan memintaku agar tidak datang menganggumu lagi. Aku mengerti tindakan yang dilakukan oleh Ayahmu itu."

Da Ji dan Dong Joo terdiam untuk beberapa saat. Da Ji melihat kentang bakarnya sudah gosong dan dia pun jadi marah pada Dong Joo, "YA! Semua Kentangnya gosong. Bagaimana ini?" Dong Joo balas marah, "Mengapa kau menyalahkan aku??" Da Ji mengambil kentang bakar dengan tangannya dan dia tiba-tiba melemparkan kembali kentang itu karena panas. Dong Joo yang melihat hal itu pun langsung melihat tangan Da Ji, "Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau memegang sesuatu yang panas langsung dengan tanganmu hah?" Dong Joo terlihat sangat peduli dan langsung meniup luka di tangan Da Ji. Da Ji salah tingkah dan langung menarik tangannya dari genggaman Dong Joo.



HP Da Ji berbunyi dan itu merupakan telfon dari Yun Ho. Da Ji terlihat ragu untuk mengangkat telfonnya namun dia akhirnya mengangkat telfon itu, "Hallo, Yun Ho Ahjushi?" Dong Joo langsung mnatap Da Ji tajam saat tau yang menelfon itu adalah Yun Ho. Yun Ho bertanya, "Apa semuanya berjalan lancar?" Da Ji menjawab, "Ya. Kami menempelkan wallpaper dan juga mendekor ruangan." Yun Ho tersenyum, "Kau pasti sangat lelah..." Da Ji dengan cepat menjawab, "Tidak juga. Dong Joo.... Dong Joo juga telah membantu banyak. Hmm kami tidak berencana untuk datang bersama kemari, ini salahku sehingga hal ini terjadi." Yun Ho berkomentar, "Aku mengerti." Da Ji berkata, "Dong Joo sangat membanu kami disini dan aku sangat berterima kasih padanya." Yun Ho terlihat tidak suka jika Da Ji membicarakan mengenai Dong Joo terus, "Meninggalkan aku disini sendiri dan tinggal disana bersama orang lain apakah itu menarik? Tidak peduli apapun aku akan pergi bersamamu kesana di lain waktu." Da Ji tersenyum mendengarnya.

Dong Joo kesal melihat Da Ji yang sedang menelfon Yun Ho dan dia jadi marah-marah pada api unggun. Melihat Dong Joo yang marah-marah begitu pun Da Ji segera menyelesaikan pembicaraannya dengan Yun Ho, "Besok aku akan menelfonmu lagi ya? Baiklah..."



Yun Ho menutup telfonnya dan tersenyum ceria. Di sudut ruangan terliht Mil Hye yang mendengar percakapan Yun Ho tadi, "Kau bertingkah seperti itu lagi. Memperlakukan gadis muda dengan ekspresi seperti itu. Huh jadi kau adalah tipe pria eperti itu. Bagaimana bisa saat kita tinggal bersama, aku tidak pernah melihat sisi lain darimu ini?" Yun Ho lelah berdebat dan dia meminta Mil Hye pergi, "Aku lelah. Kau pergilah." Mil Hye berkata, "Aku tidak berkeberatan jika kau memiliki hubungan dengannya. Dibandingkan denganku... Kau sepertinya tidak memiliki hubungan yang serius dengan gadis seperti itu." Yun Ho kesal, "Kau tidak pantas berkata seperti itu! Aku menyukainya dan ketika kau datang maka semua ini berubah menjadi kacau!" Mil Hye terkejut mendengar pernyataan Yun Ho, "Mengapa kau menyukainya?" Yun Ho menjawab, "Aku suka segalanya tentang dia. Aku bahkan menyukainya walaupun kita hanya diam di satu tempat. Apa kau puas?" Mil Hye berkomentar, "Kau benar-benar laki-laki jahat!"

Mil Hye berkata, "Aku bersuaha berharap namun kau tidak mengharapkannya." Yun Ho berkomentar, "Aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa." Mil Hye berseru, "Tidak! Kau tidak memiliki perasaan apapun untukku!! Semua ini terlihat sia-sia." Mata Yun Ho terlihat berkaca-kaca, "Benar. Akhirnya kita bisa membicarakan hal ini. Dan karena aku tidak tau hal itu maka aku mengabaikanmu. Maaf. Aku mohon padamu untuk menyeleaikan semua ini." Mil Hye yang matanya terlihat berkaca-kaca juga berkata, "Aku butuh banyak uang..." Yun Ho menanggapinya, "Baik. Aku akan mengirimkannya." Mil Hye terkejut, "Kau tidak peduli dengan alasan mengapa aku butuh uang? Kirimkan uangnya besok. Dan sesuai permitaanmu, aku akan menghilang."



Malam harinya Da Ji, Dong Joo dan Nenek pun tidur satu kamar. Nenek tidur di tengah-tengah Dong Joo dan Da Ji. Da Ji bertanya pelan pada Dong Joo, "Apa bantalmu nyaman? Bukankah kau tidak suka bantal tinggi seperti ini?" Dong Joo menjawab, "Ini jauh lebih baik dari pada bantal yang ada di rumahmu itu." Da Ji mengambil bantal tidurnya dan menyerahkannya pada Dong Joo, "Coba ini, mungkin terasa lebih nyaman." Namun Dong Joo segera menolaknya, "Sudah kubilang lupakan saja." Da Ji pun mengambil kembali bantalnya. Da Ji kemudian berkata, "Hari ini melelahkan bukan? Terima kasih telah membantuku. Selamat malam..."



Flashback...

Da Ji duduk di samping Dong Joo yang maish tertidur pulas. Dong Joo terbangun dan bertanya pada Da Ji, "Apa yang sedang kau lakukan?" Da Ji tersenyum, "Aku penasaran dengan gaya tidurmu." Dong Joo balas tersenyum, "Rasa penasaranmu sungguh special." Da Ji tersenyum malu, "Cara tidurmu sungguh lucu." Dong Joo bangun dari tidurnya dan mengecup bibir Da Ji, Da Ji pun langsung mengomel, "Aku bahkan belum menyikat gigiku." Dong Joo tertawa, "Tidak apa. Sini tidurlah disisiku." Da Ji pun berbaring di samping Dong Joo dan Dong Joo memeluknya.



Flashback end...

Dong Joo terbangun dari tidurnya dan dia terkejut melihat Da Ji tidur di sampingnya. Namun Dong Joo langsung tersenyum melihat wajah Da Ji yang tertidur itu. Perlahan-lahan Da Ji membuka mata dan mereka berdua pun sama-sama terkejut. Da Ji bertanya, "Nenek kemana?" Dong Joo menjawab, "Sepertinya dia sudah bangun terlebih dahulu. Aish bagaimana bisa ada seorang perempuan yang rambutnya begitu berantakan sepertimu hah?" Da Ji terkejut mendengarnya dan balas berkata, "Kau juga sangat berantakan saat kau tidur!!"


Yun Ho bertemu dengan Asitennya dan Aistennya memberikan kabar bahwa Mil Hye sudah pergi dan menandatangani surat perceraian. Yun Ho menatap surat perceraian itu dan terlihat senang. Yun Ho lalu bertanya, "Ah ya kapan rapat di Hokaido akan dilaksanakan?" Asistennya menjawab, "Akhir pekan ini." Yun Ho mengangguk dan berkata, "Tolong katakan pada mereka bahwa aku akan datang."



Tuan Yang datang ke rumahnya dan terkejut melihat Da Eun yang sedang membersihkan beberapa alat elektronik. Tuan Yang bertanya, "Apa yang kau lakukan?" Da Eun menjawab, "Aku sedang memilih sample produk. Paman, kau akan menjualnya dengan haga murah kan padaku?" Tuan Yang menjawab, "Tidak. Kau cepatlah pergi." Da Eun kembali berkata, "Apa kau tidak ingin melakukan bisnis denganku? Aku bisa membantumu mendapatkan banyak uang." Tuan Yang bertanya, "Hmm uang?"



Da Ji dan Dong Joo akhirnya sampai di dermaga Pulau Jeju. Dong Joo membawa barang-barang Dong Joo dan teru mengomel, Da Ji yang kesal mendengar omelan Dong Joo pun berkata, "Huh kau ini sangat pelit. Sini biar aku saja yang membawa barang-barangku?" Dong Joo tersenyum, "Benarkah? Kalau begitu ini ambil barangmu." Da Ji benar-benar gondok melihatnya, "Mengapa kau menyerahkannya begitu saja?" Dong Joo menjawab, "Bukankah tadi kau yang memintanya huh?"



Yun Ho keluar dari dalam mobil dan itu membuat Dong Joo dan Da Ji sama terkejutnya. Yun Ho tersenyum menghampiri Da Ji dan membawakan barang-barang Da Ji, "Lain kali jika kau terlambat datang maka akan komplain padamu." Da Ji bertanya, "Mengapa kau datang kemari?" Yun Ho menjawab, "Aku datang menjemputmu agar kau bia beristirahat dengan cepat. Kau lelah? Wajahmu terlihat pucat. Direktur Han Dong Joo, ayo kita pergi bersama." Dong Joo menolaknya dengan kasar, "Aku punya mobilku sendiri." Da Ji berjalan ke arah mobil Yun Ho dan berkata pada Dong Joo, "Kalau begitu sampai jumpa di rumah."



Di jalan Yun Ho dan Da Ji saling terdiam. Akhirnya Yun Ho pun memulai pembicaraan, "Wanita itu sudah pergi. Jika kau ada yang mau ditanyakan, maka tanyakan padaku." Da Ji pun memberanikan diri bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" Yun Ho menggenggam tangan Da Ji dan berkata, "Aku tidak baik-baik saja. Tanpamu pagi ini rasanya tidak berarti. Sangat membosankan." Da Ji tersenyum, "Kau tergila-gila padaku, aku harus bagaimana?"



Dong Joo kembali ke kantor dan Asisten Lee menyampaikan beberapa hal penting. Diantaranya itu adalah hal mengenai kompetisi balap kuda yang akan segera di mulai. Dan Asisten Lee juga menyampaikan bahwa Istri Yun Ho sudah pergi, "Istri Seo Yun Ho sudah pergi. Aku benar-benar bingung dengan selera Seo Yun Ho. Istrinya memiliki tubuh model, sementara orang ketiga(Da Ji) tidak memiliki tubuh rata-rata." Tiba-tiba saja Dong Joo marah mendengar Asisten Lee menjelek-jelekan Da Ji, "Apa maksudmu pihak ketiga? Seo Yun Ho itu tidak bercerai! Kau pergilah dari ruangan ini." HP Dong Joo bebrunyi dan Dong Joo mengangkat telfon itu ambil tersenyum.



Jin Young sedang mendiskusikan proyeknya dengan temannya, sementara Dong Joo duduk tidak jauh dari mereka sambil tertidur. Teman Jin Young berkata, "Apa kau akan terus menghukumnya seperti itu?" Jin Young tersenyum dan bertanya, "Apakah aku terlalu berlebihan?"

Jin Young membeli 2 botol minuman dan sengaja membukanya di depan Dong Joo yang tertidur sehingga Dong Joo pun terbangun. Jin Young berkata, "Awalnya aku kesal dengan kejadian kemarin, namun melihat wajahmu ini aku merasa baik-baik saja. Aku tidak akan mempedulikan hal itu lagi." Dong Joo bertanya bingung, "Apa maksudmu? Katakan padaku." Jin Young pun langsung menyerang Dong Joo dengan berbagai pertanyaan, "Kemana kau pergi kemarin? Mengapa HPmu mati?" Dong Joo kebingungan menjawabnya namun Jin Young langsung tersenyum, "Sudah kukatakan aku tidak ingin membicarakan hal itu. Tunggu... Wajhamu terlihat bersalah, apakah ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Lee Da Ji?" Dong Joo menjawab dengan cepat, "Tentu tidak. Kami pergi untuk membantu seorang nenek yang tinggal sendiri disana. Aku memasangkan wallpaper, tidak sengaja menghancurkan atap dan batrai HPku habis." Jin Young tertawa dan berkomentar, "Melihat kau yang membela diri itu sungguh seperti anak kecil."

Jin Young berkata, "Sebenarnya aku dalam mood yang tidak baik. Kau pergi ke Udo bersaa Lee Da Ji tanpa member kabar padaku. Apa yang kalian lakukan disana? Apa begitu sibuknya hingga tidak bisa menelfonku sekali saja?" Dong Joo tersenyum, "Aku benar-benar minta maaf. Lain kali aku akan memberitahu kemana aku pergi. HPku akan selalu aktif."



Dong Joo pulang ke rumah larut malam dan dia melihat Da Ji yang tertidur di ruang tengah. Dong Joo tidak tega melihat Da Ji yang tertidur seperti itu sehingga dia pun membangunkan Da Ji. Da Ji melihat jam dan terkejut karena Dong Joo pulang larut malam, "Mengapa kau baru pulang?" Dong Joo menjawab dengan santai, "Aku lupa waktu." Da Ji mencium bau alkohol dari pakaian Dong Joo dan dia pun menggerutu, "Kau minum? Apa kau gila?" Dong Joo menjawab, "Apa hubungannya denganmu jika aku mium atau tidak?" Da Ji berkata, "Aku hanya khawatir jika luka kakimu itu akan terinfeksi. " Dong Joo kesal, "Sudahlah, ini sudah terlambat. Jika kau mau minum maka kau juga bia pergi ke tempatnya Seo Yun Ho. Aku dengar istrinya itu sudah pergi." Da Ji ikut emosi, "Apa maksudmu berkata seperti itu padaku?" Dong Joo menjawab, "Sudahlah lupakan. Aku kan sudah katakan agar kita tidak saling ikut campur urusan pribadi?" Da Ji terdiam mendengarnya.

Saat Dong Joo akan pergi, Da Ji segera menahannya, "Duduklah. Aku mau mengobati lukamu." Dong Joo menolaknya dan membuat Da Ji semakin marah, "Aku bahkan menunggumu sepanjang malam!" Dong Joo berkata ketus, "Aku tidak memintamu menungguku." Da Ji berkata lemah, "Benar kau tidak memintaku menunggu. Aku minta maaf. Ini ada obat tetanus. Makanlah."



Dong Joo menerima obat itu dan masuk ke kamarnya. Dong Joo terkejut saat melihat ada bantal tidur baru di kamarnya. Dong Joo pun ingat kata-kata Da Ji, "Apa bantalmu nyaman? Kau tidak suka bantal yang tinggi kan?"



Pagi harinya Da Ji sedang menyiram tanaman dan Dong Joo berjalan keluar dari dalam rumah. Dong Joo berkata, "Bantalnya benar-benar nyaman." Namun Da Ji terlalu asik menyiram tanaman sehingga dia tidak mendengar kata-kata Dong Joo, bahkan dia juga tidak menyadari kedatangan Dong Joo.



Da Ji berlari menuju pohon tempat di dan Yun Ho biasa bertemu. Da Ji berteriak dari jauh, "STOP!!!" Yun Ho melihat jamnya dan berkomentar, "Kau terlambat 6 Menit." Da Ji duduk di kursi dan berkata, "Saat kau bersamaku, kau selalu saja menatap jam-mu. Aku tau kau sangat sibuk namun melihat jam di depan pacarmu itu sangat tidak sopan." Yun Ho berkomentar, "Kau benar... ini adalah masalah yang serius." Yun Ho kemudian membuka jam tangannya dan memindahkannya ke lengan Da Ji, "Aku terlalu sering melihat jam jadi jika jam itu ada di kamu, maka tidak akan ada masalah lagi kan?" Da Ji tersenyum melihat jam tangan Yun Ho yang kini berpindah tangan ke tangannya, "Jam ini sungguh bagus. Aku tidak mau mengembalikannya." Yun Ho berkata, "Ambillah jika kau suka. Aku masih punya."

Da Ji berniat melepas jam tangan Yun Ho namun Yun Ho melarangnya, "Ini hadiah. Walaupun ini murah namun ini dibuat khusus oleh pembuat jam Swiss yang terampil. Ini adalah jam unik satu-satunya. Ini adalah harta yang paling berharga bagiku." Da Ji dengan cepat berkata, "Tidak. Bagaimana mungkin kau memberikan barangmu yang berharga ini padaku?" Yun Ho menjawab, "Justru karena alasan itu makanya aku memberikannya padamu." Da Ji tersenyum mendengarnya.

Yun Ho tiba-tiba berkata, "Da Ji.... Ayo kita pergi berlibur. Kau dan aku. Hanya kita berdua." Da Ji terdiam mendengar ajakan Yun Ho itu.



Diadakan rapat untuk membahas mengenai kegiatan Resort yang akan membagikan hadian berupa alat untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dong Joo bertanya pada Yun Ho , "Bagaimana menurutmu? Program ini tidak hanya untuk berdamai dengan penduduk tapi juga membantu resort. Ini seperti melempar 2 burung dengan satu batu." Yun Ho tersenyum dan menjawab, "Ya ide ini sangat bagus." Dong Joo membaca kertas rapat dan bertanya pada Asisten Lee, "Merekrut karyawan baru? Apa maksudnya ini?" Asisten Lee menjawab, "Ya kami akan merekrut karyawan yang dapat menangani kegiatan lokal ini dan yang paling penting karyawan ini mengerti kuda. " Dong Joo tiba-tiba mengusulkan satu nama, "Untuk seseorang yang dapat bekerja sama dengan warga dan juga pandai bersosialisasi dengan kuda, Lee Da Ji. Ia adalah kanidat yang paling cocok." Yun Ho awalnya terlihat tidak senang mendengar Dong Joo yang mencalonkan nama Da Ji.

Dong Joo kemudian menutup rapat itu, "Baiklah rapat sampai disini. Sampai jumpa di rapat selanjutnya." Yun Ho tiba-tiba berkata, "Jadwal rapat selanjutnya sepertinya harus di jadwal ulang karena aku akan ke Jepang selama 3 hari 2 malam." Dong Joo berkomentar, "Oh baiklah."



Da Ji sedang berada di rumah sambil melihat buku perjalanan ke Jepang. Pikiran Da Ji pun melayang ke kejadian tadi pagi. Yun Ho berkata padanya, "Di dekat hotel akan ada peternakan yang terkenal. Kita bisa mengunjunginya dan juga kita bisa meminta saran seorang terapy untuk mengobati Paulist. Dia pernah merawat kuda yang seperti Paulist. Orang ini sebenarnya sangat sibuk namun dia mau menyempatkan waktu untuk kita. Bukankah kita beruntung?" Da Ji terus tersenyum saat mendengar kata-kata Yun Ho itu. Da Ji berkata, "Pertama mengunjungi peternakan, merawat Paulist dan juga jalan-jalan bersama Yun Ho. Tunggu... Jika ini perjalanan 3 hari 2 malam maka... Ops. Apa yang aku pikirkan hah??"




Terdengar suara pintu yang terbuka dan dengan cepat Da Ji menyembunyikan buku perjalanan ke Jepang itu di samping meja. Dong Joo masuk kedalam dan memberikan sebuah formulir pada Da Ji, "Ini kerja paruh waktu untukmu. Kau tidak perlu berterima kasih padaku." Da Ji menatap Dong Joo kesal, "Lupakan saja. Jadwalku sibuk!" Da Ji pergi begitu saja ke meninggalkan Dong Joo. Dong Joo melihat ada buku perjalanan ke Jepang dan raut wajahnya langsung berubah. Dong Joo tiba-tiba ingat kata-kata Yun Ho, "Aku akan pergi ke Jepang selama 3 hari 2 malam." Dong Joo kemudian bertanya pada Da Ji, "Lee Da Ji, apakah kau akan ke Jepang?" Da Ji terkejut mendengar pertanyaan Dong Joo.