Confessions [ Movie - 2010]




Confessions / Kokuhaku (告白)
Director: Tetsuya Nakashima
Writers: Kanae Minato (based on the novel), Tetsuya Nakashima (screenplay)
Editor: Yoshiyuki Koike
Genre: Drama
Running time: 106 min


Cast
* Takako Matsu - Yuko Moriguchi
* Masaki Okada - Yoshiteru Terada
* Yoshino Kimura - Naoki's mother
* Yukito Nishii - Shuya Watanabe
* Kaoru Fujiwara - Naoki Shimomura
* Ai Hashimoto - Mizuki Kitahara


Sekarang aku mau ngebahas film jepang yang menurutku keren abis. Aku memang bukan penggemar film jepang, cuma karena di film ini ada matsu takako, aktris jepang favoritku, jadi aku tontonlah film ini, dan ternyata hasilnya lebih dari yang aku bayangkan. Bisa dibilang ini film thriller terbagus dan terkeren yang pernah aku tonton selama ini. Film ini berhasil mainin emosiku waktu nonton dan ngebuat aku ternganga berkali-kali ketika menontonnya, karena hampir di tiap menitnya selalu aja ada kejutan-kejutan yang bener-bener ga bisa ketebak. Kalo aku boleh ngasih nilai aku bakal ngasih nilai 100, perfect, exelent, awesome, amazing, dan kalo bisa nambah nilai aku bakal ngasih nilai lebih dari 100 dan 4 jempolku semua buat film ini. Hehehe... lebai ga sih?! Menurutku ngga tuh, kalian yang udah nonton bakal tau sehebat apa film ini.

Di menit-menit awal film kita mungkin akan merasa bahwa adegan itu agak membosankan karena adegannya cuma dalam kelas dimana sang guru berbicara tanpa ada satu murid pun yang mendengarkan guru itu. Awalnya sang guru yang bernama Miss Moriguchi membagikan susu kotak untuk siswa siswi kelas itu lalu mulai menjelaskan manfaat dari susu itu bagi pertumbuhan remaja.

Tapi coba kita sabar menonton film ini dan memperhatikan setiap perkataan yang diucapkan oleh guru itu. Semakin lama semakin menarik. Begitu juga dengan perhatian para murid di kelas itu, satu per satu mulai memperhatikan ucapan sang guru. Kita seolah ikut merasakan apa yang dirasakan murid-murid tersebut.

Mulai dari membicarakan manfaat susu, kemudian beralih ke topik permasalahan remaja yang sering bohong dan guru itu mengatakan tidak akan mempercayai perkataan murid-muridnya walaupun sampai ada yang mengancam ingin bunuh, mulai darisinilah perhatian murid-murid mulai beralih pada sang guru, lalu pembicaraan sang guru beralih mengenai kehidupannya sebagai single mother.

Moruguchi mempunyai seorang anak berusia 4 tahun hasil dari hubungannya dengan seorang pria yang terjangkit AIDS. Untuk itulah ia tidak menikah dengan pria itu dan memilih merawat anak itu sendirian. Ia sering membawa anak itu ke sekolah tempat ia mengajar. Namun suatu hari anaknya ditemukan terapung di kolam renang dengan sudah tidak bernyawa lagi. Polisi mengatakan bahwa penyebab kematiannya adalah kecelakaan karena tergelincir ke kolam renang.

Namun Moruguchi tahu itu bukan karena kecelakaan melainkan ada unsur kesengajaan dalam kematian anak satu-satunya itu. Moruguchi mengatakan pada murid-murid di kelas itu bahwa anaknya itu mati terbunuh dan pelakunya ada di kelas ini. Mendengar hal itu tentu saja murid-murid dalam kelas itu terkejut.

Pelakunya ada dua orang. Sebut saja si A dan si B. Si A adalah seorang murid yang jenius. Ia sering menciptakan alat-alat canggih dan menjadikan hewan-hewan liar sebagai alat percobaannya. Saat itu ia sedang menciptakan alat anti copet. Dan untuk yang ini ia tidak bisa menggunakan hewan sebagai percobaan. Untuk itu ia mengajak B untuk mencarikan kira-kira siapa yang cocok untuk dijadikan bahan percobaan. Lantas saja B mengusulkan anak Moriguchi sebagai bahan percobaan karena ia sering terlihat sendirian di dekat kolam renang. Akhirnya mereka berdua melancarkan rencananya. Hasilnya Manami, anak Moriguchi pingsan seketika, lalu si A pergi begitu saja. Tinggalah si B dan Manami yang tengah pingsan. Karena mengira telah mati dan takut dicurigai, akhirnya si B membuang tubuh Manami ke kolam renang.

Mendengar cerita tersebut, tentu saja murid-murid di kelas itu tahu siapa sebenernya A dan B itu. Moriguchi ingin melaporkan kejahatan yang dilakukan 2 anak itu pada polisi. Namun hukum di jepang itu bagi pelaku kriminal di bawah 14 tahun, hanya akan dianggap sebagai kenakalan remaja dan diberikan bimbingan konseling. Moriguchi tidak ingin kedua anak itu dihukum semudah itu. Pernah ia sempat berpikir agar kedua anak itu mati saja. Namun tetap saja itu terlalu mudah bagu mereka. Ia ingin agar kedua anak itu menderita pada setiap detik hidupnya karena perbuatan dosanya itu. Untuk itulah ia berkata bahwa ia telah mencampurkan sedikit darah dari darah suaminya yang terkena AIDS ke dalam susu kedua anak itu yang kini telah diminum habis.

Itulah semua ungkapan perasaan Moruguchi di depan kelas pada hari terakhir ia mengajar di sekolah itu.

Namun itu semua baru permulaan. Cerita sesungguhnya baru dimulai setelah itu. Ketika Moruguchi sudah tidak mengajar lagi dan digantikan oleh guru baru. Dampak yang diterima oleh kedua anak tersebut sepeninggal Moriguchi sangat berpengaruh sekali.

Si B, sejak saat itu tidak pernah masuk sekolah. Ia terus menerus tinggal mengurung diri di kamar dan tidak mengijinkan siapapun untuk memasuki kamarnya. Bahkan ibunya sendiri. Tidak hanya itu, ia tidak mengijinkan ibunya menyentuh barang yang habis disentuhnya. Setiap benda yang ia pakai, akan ia cuci sendiri sampai sebersih bersihnya. Ia sendiri tidak pernah membersihkan dirinya. Tingkah lakunya sudah seperti orang gila.

Lain halnya dengan si A. Ia tetap datang ke sekolah. Hanya saja kini ia jadi bulan-bulanan teman-teman sekelasnya. Ia dikerjai habis-habisan. Bahkan ada yang iseng untuk menambahkan poin pada setiap siswa yang udah ngerjain si A. Semakin sering ngerjain, semakin bertambah poinnya. Dan mereka semua bersaing untuk mendapatkan poin yang banyak. Kebayang dong gimana parahnya si A dibuli.

Tapi aksi balas dendam Moruguchi tidak hanya sampai situ. Walau kini ia sudah tidak mengajar di sekolah itu, ia tetap bisa balas dendam dengan caranya sendiri. Bahkan ia mengatur semuanya dengan sangat detail. Membuat penderitaan anak itu sampai pada puncaknya. Agar dapat membuat anak itu menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. Agar mereka merasakan bagaimana sakitnya ditinggal oleh orang yang kita cintai.

Di film ini juga kita bisa tahu dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang moriguchi, si A, si B, Ibu si B, dan Mizuki. Mizuki adalah salah satu murid di kelas itu. Jadi kita bisa merasakan perasaan setiap tokoh di film ini.

Cuma sayangnya, ada satu yang aku ga suka di film ini. Di film ini terkesan bahwa nyawa manusia itu seakan tidak ada artinya. Mereka dengan mudahnya tanpa pikir panjang menghilangkan nyawa seseorang. Di sini seakan-akan nyawa itu adalah sebuah mainan.

Tapi justru itu juga sekaligus merupakan hikmah yang bisa diambil dari film ini. Bahwa sesungguhnya nyawa atau hidup manusia itu sungguh berarti. Di sini juga ditunjukkan sedalam apa kasih sayang seorang ibu pada anaknya, begitu juga sebaliknya. Lihat saja dengan yang dilakukan oleh Moriguchi. Ia melakukan itu semata-mata karena kasih sayang nya terhadap anak satu-satunya. Ia tidak menerima bahwa nyawa anaknya yang sangat berarti baginya dapat dijadikan sebuah mainan atau kelinci percobaan bagi orang lain. Ga hanya itu. Hikmah lain yang bisa diambil dari film ini adalah bahwa setiap perbuatan buruk pasti ada balasannya. Kita harus siap menanggung semua akibat dan konsekuensi dari setiap perbuatan kita. Setuju?