Sinopsis Miss Ripley Episode 7

MISS RIPLEY
EPISODE 7

Hee Joo sedang duduk di bangku taman dan Chul Jin menghampirinya. Chul Jin terus memandang Hee Joo sehingga Hee Joo pun menatapnya balik, "Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Chul Jin menatap ke depan dan kemudian bertanya, "Kau... Apa kau menyukai Yoo Hyun?" Hee Joo ikut tersenyum, "Entahlah." Chul Jin berkomentar bahwa Yoo Hyun bukanlah orang yang jahat dan Hee Joo setuju akan hal itu karena menurutnya Yoo Hyun adalah tipe yang hangat, baik dan sangat pengertian.

Chul Jin berkata, "Tapi hatinya sudah milik orang lain." Hee Joo tersenyum miris, "Aku tau. Bagaimanapun juga itu sudah menjadi milik Mi Ri kan?" Chul Jin ikut menatap sedih pada Hee Joo, "Jika kau sudah tau, mengapa kau masih tetap dekat dengannya?" Hee Joo menjawab, "Aku juga tidak tahu... Tapi Oppa, Niatku baik. Jika ada ketulusan, aku dapat merasakannya. Jika ada ketulusan, aku dapat menghargainya."

Chul Jin kembali bertanya, "Jadi kau akan membiarkannya seperti ini?" Hee Joo tersenyum, "Aku ingin menjadi yang berbeda namun sepertinya aku tidak bisa." Chul Jin ikut tersenyum, "Jika kau seperti ini terus, kau tidak akan bisa mendekati hati Yoo Hyun." Hee Joo menundukan kepalanya, "Laki-laki itu.... mungkin dia sepertiku. Dia harus mengikuti kata hatinya. Seperti aku yang mengikuti kata hatiku. Dan dia sepertinya tidak bisa mengontrol hatinya. Maka inilah yang di sebut hati." Chul Jin menatap Hee Joo, "Ya aku mengerti. Orang-orang harus mengikuti kata hatinya. Tapi bagaimanapun juga aku tidak ingin kau berjalan ke arah yang buntu." Hee Joo bingung, "Buntu? Oppa.... Aku..... Hm lupakan..." Hee Joo dan Chul Jin pun akhirnya sama-sama terdiam tidak membahas masalah itu lagi.


Sementara itu di Seoul, keadaan Ayah Yoo Hyun yang sedang sakit itu memburuk sehingga tim dokter langsung mengambil tindakan cepat. Lee Hwa yang melihat hal ini terlihat panik juga.


Myung Hoon datang ke Hotel tempat Mi Ri menginap tanpa memberikan kabar terlebih dahulu pada Mi Ri. Saat membuka pintu kamar Hotelnya, Mi Ri terlihat sangat terkejut karena kini Myung Hoon berdiri di hadapannya dan di dalam kamar mandi kamar hotelnya sedang ada Yoo Hyun. Myung Hoon tersenyum senang melihat Mi Ri, "Aku tidak memberi tahu kau dulu bahwa aku akan datang. Apa aku mengejutkanmu?" Mi Ri dengan cepat menutup pintu kamar hotelnya dan memeluk Myung Hoon, "Aku sudah menduga bahwa kau akan datang." Myung Hoon senang mendengarnya, "Aku selalu memikirkanmu makanya aku datang." Mi Ri tiba-tiba saja menarik Myung Hoon untuk pergi keluar hotel, "Ayo pergi keluar. Aku sangat bosan karena disini sendirian. Aku berencana pergi keluar. Ayo!" Myung Hoon terlihat enggan pergi namun Mi Ri terus memaksanya sehingga Myung Hoon pun setuju.


Di dalam kamar hotel Mi Ri, Yoo Hyun keluar dari kamar mandi dan dia terlihat bingung karena tidak melihat Mi Ri sama sekali. Ponselnya berbunyi dan itu merupakan telfon dari Lee Hwa yang mengabarkan bahwa Ayahnya Yoo Hyun dalam masa kritis. Yoo Hyun terkejut mendengarnya, "Apa? Ayah?" Lee Hwa menjawab, "Lebih baik jika kau segera kembali. Untunglah dia sudah melewati masa kritisnya. Dan saat dia terbangun, pasti dia ingin yang pertama kali dilihatnya adalah kau. Walaupun masalah di Jeju belum selesai, tapi sebaiknya kau segera kembali. Aku akan mengirimkan pesawat kesana sekarang juga." Yoo Hyun menutup ponselnya dan hendak pergi keluar drai kamar Mi Ri, namun dia melihat ada seuah notes di meja dan dia pun menuliskan pesannya untuk Mi Ri.


Mi Ri merangkul lengan Myung Hoon dan mereka berjalan-jalan bersama di taman Hotel. Mi Ri berkata pada Myung Hoon, "Walaupun Aku berharap kau datang kemari, tapi aku tidak menyangka bahwa kau akan benar-benar datang. Kau mengejutkanku." Myung Hoon tersenyum, "Aku juga tersenyum. Aku penasaran dengan apa yang harus aku lakukan dan hasilnya ternyata aku sudah duduk di dalam kursi pesawat." Mi Ri terus menatap wajah Myung Hoon sehingga Myung Hoon menatapnya bingung, "Ada apa?" Mi Ri menjawab sambil terus tersenyum, "Orang yang ada di hadapanku sekarang adalah pria-ku. Benarkan?" Myung Hoon tersenyum dan balas berkata, "Wanita di depanku ini adalah wanita yang aku cintai Jang Mi Ri bukan?" Myung Hoon senang dan langsung memeluk Mi Ri, "Melihat kau masih sama dengan dirimu. Aku merasa beruntung." Mi Ri menjawabnya dengan wajah yang terlihat jengah di pelukan Myung Hoon, "Terima kasih sudah datang kemari."


Karena Mi Ri tidak berada di kamarnya, maka Yoo Hyun pun meninggalkan catatan kecil di atas meja "Ini Song Yoo Hyun. Aku harus pergi karena ada kepentingan yang mendadak. Maafkan aku karena aku harus pulang terlebih dahulu. Aku akan menemuimu kembali di Seoul."


Myung Hoon dan Mi Ri berjalan-jalan bersama di pinggir pantai. Mi Ri merangkul lengan Myung Hoon dan muli membuka pembicaraan, "Aku terlalu sensitif. Kepadamu, kepada diriku dan juga kepada kita." Myung Hoon berkomentar, "Seperti yang kau katakan sebelumnya, setelah kita bersama dan kembali ke rumah sendirian, maka salah satunya akan membayangkan apa yang pasangannya sedang lakukan." Mi Ri tersenyum, "Apa yang kau bayangkan? Aku penasaran." Myung Hoon menjawab, "Apa yang sedang kau lakukan? Seperti apa wajahmu saat sedang tidur. Itu semua yang aku bayangkan." Mi Ri berkata, "Itu sama denganku. Aku juga berfikir seperti itu."

Myung Hoon menatap dalam mata Mi Ri, "Di tempat kerja, aku adalah bossmu. Tapi di hubungankita, apakah itu juga berbeda?" Mi Ri bertanya bingung, "Jadi kau tidak suka?" Myung Hoon menggelengkan kepala, "Bukan begitu. Apakah Jang Mi Ri ada terlalu dalam di hatiku? Seharian ini di dalam pesawat aku memikirkan hal itu. Aku seperti orang bodoh." Mi Ri mendekati Myung Hoon dan memeluknya lalu mengatakan bahwa dia mencintai Myung Hoon.

Mi Ri dan Myung Hoon bergandengan di Hotel. Mi Ri mengatakan bahwa dia sedih karna mereka harus berpisah padahal mereka berudua sudah datang ke Pulau Jeju. Myung Hoon meminta maaf dan menjelaskan bahwa dia terburu-buru datang ke Jeju sehingga dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Mi Ri tersenyum dan mengatakan bahwa dia mengerti. Myung Hoon terus menggenggam tangan Mi Ri hingga Lobby Hotel. Mi Ri sendiri terlihat tidak nyaman saat tangannya di genggam oleh Myung Hoon karena dia takut di lihat oleh orang lain.


Yoo Hyun datang menghampiri resepsionis Hotel dan menitipkan pintu kamar Mi Ri karna tadi Mi Ri meninggalkan kamarnya secara tiba-tiba.


Mi Ri mengantar Myung Hoon ke depan lobby karna Myung Hoon akan segera menuju bandara kembali. Mi Ri bertanya, "Apakah akan sempat mengejar penerbangannya?" Myung Hoon tersenyum dan mengatakan bahwa dia akan sempat mengejar perbangan itu. Myung Hoon kemudian memeluk Mi Ri dan masuk kedalam taxi. Mi Ri terlihat bernafas lega setelah taxi Myung Hoon pergi.



Saat membalikan badannya, Mi Ri terkejut karena melihat kedatangan Yoo Hyun. Yoo Hyun sepertinya tidak melihat bahwa tadi Mi Ri berpelukan dengan Myung Hoon. Yoo Hyun berkata pada Mi Ri, "Orangtuaku menelfon secara tiba-tiba. Kau dari mana?" Mi Ri panik dan berbohong, "Ah itu tadi ada tamu VVIP dari Hotel kami jadi mereka memintaku untuk bertemu sebentar. Ah tapi apakah kau akan sempat mengejar penerbangannya?" Yoo Hyun tersenyum, "Aku harus kembali walaupun aku terpaksa berjalan kaki juga." Mi Ri bingung dengan maksud ucapan Yoo Hyun itu.

Chul Jin datang membawa sebuah mobil dan mengatakan pada Yoo Hyun bahwa mereka harus segera pergi. Yoo Hyun sekali lagi pamit pada Mi Ri dan mengatakan bahwa mereka akan bertemu kembali di Seoul. Setelah kepergian mobil Chul Jin dan Yoo Hyun, Hee Joo terlihat berlari menuju lobby dan bergumam, "Aku harap tidak ada yang serius." Mi Ri bingung dan bertanya, "Ada apa?" Hee Joo menjawab, "Sepertinya Ayahnya sakit serius." Mi Ri terdiam mendengarnya.


Yoo Hyun datang ke bandara dan bertemu dengan Asistennya yang mengatakan bahwa dia sudah menerima kabar dari Seoul bahwa kondisi Ayah Yoo Hyun sudah jauh lebih baik. Yoo Hyun terlihat lega dan kemudian naik kedalam pesawat jet pribadinya.



Di Hotel, para staff terlihat sibuk membicarakan bahwa ada Manager yang mengundurkan diri lagi. Mi Ri yang mendengar percakapan ini pun penasaran dan bertanya, "Ada masalah apa?" Asisten Kim menjawab, "Direktur Utama(Ayahnya Yoo Hyun) sakit. Biasanya dapur kami akan mengirimkan makanan padanya. Namun orang yang mengirimkan makanan selalu di curigai akan meracuninya." Mi Ri terdiam sesaat dan dia ingat bahwa Yoo Hyun mengatakan jika dia harus kembali ke Seoul secara mendadak itu karena orang tuanya.

Mi Ri melewati dapur Hotel dan melihat ada salah seorang kepala staff yang memohon pada staffnya agar mau mengirimkan makanan pada Direktur Utama, namun staff itu menolak dan mengatakan bahwa dia takut mengantarkan makanan itu. Kepala Staff sudah benar-benar bingung makanya dia mendiskusikan siapa yang akan mengirimkan makanan pada Direktur Utama itu dengan Shi Young. Shi Young berkomentar, "Karena masalah ini kita semua dibikin bingung. Jika saja ada yang mau mengantarkannya...." Mi Ri yang mendengar ucapan itu pun langsung menawarkan diri.


Seluruh makanan sudah di masukan kedalam mobil dan Mi Ri pun langsung pergi ke rumah sakit tempat direktur utama di rawat. Beberapa staff yang melihat pun langsung berkomentar bahwa Mi Ri benar-benar berani sekali mengadapai Direktur Utama.


Yoo Hyun sedang berada di rumah sakit bersama Ayahnya. Yoo Hyun mengatakan bahwa dia senang karena Ayahnya sudah kembali sembuh. Lee Hwa masuk kedalam kamar dan ikut mengobrol bersama dengan Yoo Hyun dan juga Ayah Yoo Hyun. Yoo Hyun lalu pamit pada Ayahnya, Lee Hwa ikut pamit untuk mengantarkan Yoo Hyun ke lobby Rumah sakit.


Mi Ri bersama staff dari Hotel A datang ke rumah sakit dan mereka langsung masuk kedalam lift 1 menuju ruangan tempat Ayah Yoo Hyun di rawat. Sementara dari lift 2 terlihat Yoo Hyun dan Lee Hwa yang baru keluar. Lee Hwa bertanya pada Yoo Hyun, "Aku dengar wanita yang sedang dekat dengan kau itu tidak tau statusmu, apa benar?" Yoo Hyun tersenyum, "Ya. Aku belum memberitahunya." Lee Hwa ikut tersenyum, "Jika itu hanya hubungan singkat maka itu tidak akan menjadi masalah." Yoo Hyun balas berkata, "Aku belum memikirkan untuk mengambil langkah kedepannya, tapi sepertinya ini saat yang tempat untuk memikirkannya."


Mi Ri sampai di depan pintu kamar tempat Ayah Yoo Hyun di rawat dan bertemu dengan asisten Ayah Yoo Hyun. Saat Mi Ri akan mengeluarkan makanan dan berniat untuk menyiapkannya, asistennya itu berkata bahwa tugas Mi Ri cukup sampai mengantarkan makanan saja. Mi Ri ingin bertemu langsung dengan Ayah Yoo Hyun untuk memberikan kesan baik makanya dia sengaja mengatakan pada Asisten Ayah Yoo Hyun itu, "Jika kau berniat masuk kedalam kamar, tolong persiapkan makanannya dengan baik. Kami juga sudah membawa kepiting special yang di sukai Direktur Utama." Asistennya itu terlihat tidak mau repot maka akhirnya Asistennya itu mempersilahkan Mi Ri untuk menyiapkan makanan untuk Ayah Yoo Hyun.

Setelah makanan selesai di hidangkan, Ayah Yoo Hyun pun mendekati meja makan. Ia senang karena ada kepiting kesukaannya. Asisten Ayah Yoo Hyun menawarkan diri untuk memotongkan kepitingnya, namun Ayah Yoo Hyun menolak dengan bilang bahwa rasanya akan berbeda jikadi potong. Mi Ri kini yang menawarkan diri membantu Ayah Yoo Hyun, "Jika anda tidak keberatan, bagaimana jika saya bukakan kulit kepitingnya?" Ayah Yoo Hyun tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju.


Lee Hwa dalam perjalanan di dalam lift menuju ruang kamar Ayahnya Yoo Hyun, sementara di saat yang sama juga Mi Ri dan staf Hotel masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju lobby Hotel. Di dalam Lift, Mi Ri tersenyum penuh kemenangan karna rencananya untuk membuat kesan baik di depan Ayah Yoo Hyun berhasil.

Ayah Yoo Hyun berkata pada Lee Hwa bahwa tadi ada staff Hotel yang mengantarkan makanan dan staff Hotel itu membantunya membukakan kulit kepiting untuknya. Ayah Yoo Hyun juga memuji Cara staff Hotel itu membukakan kepiting itu sama bagusnya dengan cara yang biasa dilakukan oleh Lee Hwa. Lee Hwa hanya tersenyum dan terlihat penasaran, "Oh benarkah?"


Myung Hoon datang ke sebuah gereja dan bertemu dengan seorang pastor. Pastor itu bertanya, "Kau bilang bahwa kau akan datang dengan pengantin wanitanya. Mana dia?" Myung Hoon tersenyum, "Dia belum menjadi pengantun wanita sekarang ini." Pastor kembali berkata, "Melihatmu ada disini, ini pasti jalan Tuhan. Jadi apa yang bisa aku lakukan? Apa kau memiliki ide bagus?" Myung Hoon menjawab, "Aku belum punya ide. Hanya beberapa pemikiran saja..."


Hee Joo melihat Yoo Hyun membawa sebuah karangan bunga dan memujinya bahwa karangan bunga itu sangat bagus. Yoo Hyun senang dan mengatakan bahwa dia sendirilah yang memilih bunga itu untuk Mi Ri. Yoo Hyun kemudian memasukan beberapa barangnya itu kedalam bagasi mobil. Yoo Hyun berkata pada Hee Joo, "Di hari Ulang tahun Mi Ri seperti ini tentu aku harus datang secara langsung." Hee Joo mengangguk setuju dan dia terlihat kecewa karna lagi-lagi Yoo Hyun perhatian sekali pada Mi Ri.


Di ruangan staff, Mi Ri sedang melihat situs online yang menjual Teh dan kemudian dia menelfon penjual itu untuk membahas teh yang akan dia beli. Seorang staff menyindir Mi Ri dan berkata, "Dia ini Manager Kamar Hotel atau Manager urusan kesehatan?" Mi Ri tidak mempedulikan sindiran itu dan berkata bahwa dia akan pulang terlebih dahulu. Para staff yang melihat kepergian Mi Ri pun kembali memperbincangkannya, "Sebenarnya siapa sih yang berdiri di belakangnya sehingga dia menjadi bersikap seperti itu?" Seorang Staff laki-laki berkata, "Aku khawatir bahwa itu adalah Direktur(Myung Hoon)." Staff perempuan berkomentar, "Mengapa laki-laki selalu menilai wanita dari penampilan luar saja? Pandangan wanita dan laki-laki itu sangat berbeda...."


Hee Joo sudah ada di apartemennya dan dia sedang menelfon Mi Ri untuk mengatakan agar Mi Ri cepat pulang karna dia akan memasakan sup rumput laut untuk Mi Ri. Yoo Hyun yanga da di samping Hee Joo berkata dengan pelan, "Jangan katakan aku ada disini. Rahasia." Hee Joo menganggukan kepalanya mengerti. Sementara itu Mi Ri terlihat malas untuk pulang karna dia tidak tau bahwa ada Yoo Hyun di rumahnya.

Saat Mi Ri akan keluar Hotel, dia bertemu dengan Myung Hoon. Mi Ri tersenyum pada Myung Hoon, "Apa kau akan pergi kesuatu tempat?" Myung Hoon menganggukan kepala dan mengajak agar Mi Ri ikut bersamanya juga.


Di perjalanan, Mi Ri terlihat diam saja sementara Myung Hoon terus menatap Mi Ri dan tersenyum sesekali. Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah gereja. Mi Ri bertanya, "Tempat apa ini?" Myung Hoon tersenyum, "Bukalah pintu gereja itu." Mi Ri tidak mengerti maksud Myung Hoon namun dia mengikuti permintaan Myung Hoon untuk membuka pintu gereja. Saat pintu gereja di buka, terdengar suara anak-anak yang sedang menyanyi dan ada banyak bunga di kursi-kursi. Di bagian tengah gereja juga terlihat ada kue ulang tahun.

Mi Ri terdiam karna terkejut mendapatkan kejutan seperti ini dari Myung Hoon. Mi Ri menangis karna terharu. Myung Hoon berkata pelan di samping Mi Ri, "Selamat ulang tahun." Mi Ri menatap Myung Hoon tidak percaya, "Dari mana kau tau?" Myung Hoon lagi-lagi tersenyum, "Itu keeuntungan dari bekerja di tempat yang sama." Seorang anak kecil mendekati Mi Ri dan memberikan sebuah karangan bunga padanya. Myung Hoon berkata kembali pada Mi Ri, "Tiuplah lilinnya." Mi Ri mengangguk dan kemudian meniup lilin. Myung Hoon bertepuk tangan dan sekali lagi mengucapkan selamat ualng tahun.


Sementara itu di apartemen Hee Joo terlihat Yoo Hyun dan Hee Joo sedang mendekor ruangan untuk merayakan ulang tahun Mi Ri.


Di taman gereja itu, Myung Hoon duduk bersama dengan Mi Ri. Myung Hoon memberikan sebuah hadiah berupa kotak kecil. Mi Ri bertanya, "Apa ini?" Myung Hoon menjawab, "Buka dan lihatlah." Mi Ri membuka kotak itu secara perlahan-lahan dan terkejut karna ada cincin di dalamnya. Myung Hoon membuka pembicaraan, "Itu cincin Ibuku." Mi Ri terdiam karna masih terkejut, "Apa maksudnya ini?"

Myung Hoon menatap Mi Ri, "Aku selalu berharap bahwa orang yang aku cintai akan memakai cincin Ibuku dan selalu berada disisiku. Itu mimpiku. Aku sedih karna hal itu belum terjadi. Aku harap kau mau memakai cincin itu. Kau tidak perlu menjawabnya terlalu cepat. Aku yakin ini hal sulit bagimu. Apakah kau merasa terbebani?" Mi Ri terlihat bingung, "Tidak. Dari pada perasaan terbebani, ada perasaan bahwa... Jika aku menikah denganmu disini...." Myung Hoon berkata, "Aku dapat mengerti perasaanmu yang terbebani karna komentar orang, tapi..." Ucapan Myung Hoon disela oleh Mi Ri, "Aku hanya khawatir bagaimana cara orang-orang akan mulai menatapku. Apa yang akan mereka gossipkan di belakangku? Aku baik-baik saja. Tapi aku hanya khawatir apa yang mereka akan bicarakan tentang kau karena aku." Myung Hoon terdiam, "Aku belum memikirkan hal itu..." Mi Ri kembali berkata, "Kalau begitu tunggulan sebentar lagi. Tunggu hingga aku memiliki kemampuan sendiri dan orang-orang tidak akan membicarakan tentang aku. Membicarakan tentang kita. Baru kita bisa membuka hubungan kita. Aku ingin menikah dengan tenang seperti itu."

Di apartemen Hee Joo, semuanya terlihat sudah rapih. Dan Yoo Hyun terlihat sedang menuliskan nama sesuatu di atas kue ulang tahun. Hee Joo yang melihat itu pun penasaran untuk bertanya, "Apa kau menuliskan nama Mi Ri?" Yoo Hyun mengangguk, "Ya. Saat aku kecil, aku selalu melakukan hal ini untuk ulang tahun Ibuku." Hee Joo bertanya kembali, "Kau melakukannya? Bukankah seharusnya Ibumu yang melakukannya untukmu?" Yoo Hyun terdiam sesaat dan menjawab, "Tentu saja dulu dia selalu melakukannya untuk ulangtahunku, tapi aku ingat bahwa akulah yang lebih sering melakukannya. Setelah kecelakaan itu maka Ibuku lebih sering berbaring di kasur." Hee Joo terdiam mendengarnya dan tidak berkata apa-apa lagi.


Myung Hoon dan Mi Ri sama-sama terdiam sepanjang perjalanan pulang. Myung Hoon terus memikirkan ucapan Mi Ri padanya, "Setelah aku masuk ke Hotel dan bekerja, kemudian aku jatuh cinta pada atasanku dan menikah. Apa yang akan orang-orang pikirkan tentang aku? Apakah kau pernah memikirkan hal itu?"


Hee Joo dan Yoo Hyun masih berada di apartemen Hee Joo untuk menuggu kepulangan Mi Ri. Hee Joo memberanikan diri untuk bertanya sesuatu pada Yoo Hyun, "Hmm Yoo Hyun, apa yang kau sukai dari Mi Ri?" Yoo Hyun tersenyum, "Segalanya. Dia jujur dan terbuka. Sebenarnya karna dia kebalikan dari sikapku maka aku kagum dengannya." Hee Joo berkomentar, "Sebenarnya sebagai wanita juga aku merasa bahwa Mi Ri sangatlah menawan." Yoo Hyun berkata pada Hee Joo, "Kau juga memiliki pesonamu sendiri. Kau tau cara untuk menjaga seseorang, kau hangat dan ceria. Kita seperti teman lama, itulah sebabnya aku menyenangimu." Hee Joo terdiam dan terlihat menahan tangisannya. Yoo Hyun kembali berkata, "Dan aku berharap kita bisa berhubungan dengan baik mulai sekarang." Hee Joo sudah tidak sanggup menahan tangisan makanya dia langsung berlari menuju kamar mandi. Yoo Hyun yang melihat itu pun ikut khawatir, "Apa ada yang salah Hee Joo?"


Mobil Myung Hoon sampai di depan apartemen Hee Joo. Mi Ri berkata pada Myung Hoon, "Maafkan aku. Kau sudah melakukan banyak hal untukku, namun aku belum bisa menjawabnya." Myung Hoon menggelengkan kepala, "Tidak. Aku yang salah karna tidak memikirkan posisimu. Kita bisa mencari jalan keluar lainnya. Ah Mi Ri, bisakah kau persiapkan portofoliomu? Aku ingin mencarikan kau pekerjaan lain. Apakah kau tidak menyukainya?" Mi Ri terlihat terkejut sekaligus senang, "Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya? Aku berfikir bahwa berada di satu perusahaan itu tidak nyaman, namun aku tidak pernah memikirkan hal ini." Myung Hoon kembali berkata, "Aku bisa mencarikan kau pekerjaan. Setidaknya ini bisa membuatmu lebih nyaman." Mi Ri senang dan langsung memeluk Myung Hoon.


Hee Joo keluar dari kamar mandi dan terus menundukan kepalanya. Yoo Hyun yang terlihat khawatir pun mendekatinya, "Apa ada yang salah Hee Joo? Apakah kau menangis? Biar aku lihat matamu." Hee Joo menolak dan terus menundukan kepalanya.


Myung Hoon berkata pada Mi Ri, "Surat-surat keperluan untuk lamaran kerja tolong kau siapkan ya." Mi Ri mengangguk mengerti, "Ya aku akan mempersiapkannya. Kau jagalah dirimu." Myung Hoon tersenyum, "Kau juga. Selamat malam." Mi Ri balas tersenyum dan kemudian keluar dari mobil Myung Hoon.


Di dalam apartemen Hee Joo, Yoo Hyun masih bersikukuh pada Hee Joo bahwa dia ingin melihat wajah Hee Joo untuk membuktikan apakah Hee Joo menangis atau tidak. Disaat yang bersamaan, Pintu apartemen Hee Joo terbuka dan masuklah Mi Ri. Mi Ri melihat kejadian itu dan langsung menatap dingin Yoo Hyun dan Hee Joo. Hee Joo mencoba menjelaskan apa yang terjadi namun Mi Ri tidak mempedulikannya. Yoo Hyun berkata pada Mi Ri, "Ah aku datang karna mendengar bahwa hari ini adalah ulang tahunmu." Mi Ri berkata ketus, "Jadi apakah kalian memanfaatkan ulangtahunku dengan makan-makan bersama? Dan Hee Joo, mengapa kau tidak memberitahuku?" Hee Joo terlihat salah tingkah, "Itu... Itu karena..." Mi Ri kembali berkata pada Yoo Hyun, "Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sedang lelah. Kita bisa bertemu lain waktu. Sampai jumpa." Hee Joo terkejut karena ucapan Mi Ri secara tidak langsung mengusir Yoo Hyun. Hee Joo mau membela Yoo Hyun namun Yoo Hyun menahannya, "Tidak apa-apa Hee Joo. Mi Ri, selamat ulang tahun." Yoo Hyun kemudian berjalan pergi keluar apartemen Hee Joo.


Setelah kepergian Yoo Hyun, Mi Ri menatap Hee Joo dingin, "Mengapa kau tidak mngatakannya padaku?" Hee Joo menjawab dan berusaha menjelaskan semuanya, "Aku hanya ingin memberikan kejutan." Tapi Mi Ri tetap tidak mempedulikannya, "Jadi kau mengundang dia kesini agar kalian bisa menikmati minum berdua? Saling bertatapan kemudian?" Hee Joo berkata, "Jangan salah paham. Jangan seperti ini, Sungguh kejadiannya tidak seperti ini. Dan lagi mngapa kau harus khawatir akan hal ini? Bukankah kau lebih cantik dai pada aku? dan...." Mi Ri memotong ucapan Hee Joo, "Jangan katakan itu. Diamlah!" Hee Joo menarik nafas panjang dan berkata, "Iya. Aku memang memiliki perasaan pada Yoo Hyun, tapi..." Mi Ri lagi-lagi memotong pembicaraan, "Lihat kan.... Ada perasaan dibalik perasaan yang selama ini kau sembunyikan. Lalu kejutan apa hah? Cukup! Ternyata kau bermuka dua! Aku tidak mau mendengar ucapan apapun lagi darimu!" Mi Ri meninggalkan Hee Joo menuju kamar mandi.


Malamnya, Hee Joo tidur di kasur. Sedangkan Mi Ri lebih memilih untuk tidur di sofa. Sementara itu juga Yoo Hyun terlihat khawatir dengan hubungan mereka.


Keesokan paginya, Mi Ri keluar dari kamar mandi dan ternyata Hee Joo sudah pergi terlebih dahulu. Mi Ri menemukan sebuah surat yang di tinggalkan oleh Hee Joo dan dia pun membuka surat itu. Dalam surat itu Hee Joo berkata, "Aku khawatir kau akan kesal jika melihatku makanya aku memutuskan untk pergi terlebih dahulu. Aku akan mengunjungi panti asuhan. Suster yang dahulu menguurs kita masih hidup. Karna kita mulai tinggal bersama, awalnya aku ingin mengajakmu kemari juga dan kita pergi bersama. Tapi karena beberapa alasan kita terlihat sibuk. Bahkan kita tidak pernah memiliki waktu untuk duduk bersama dan mengobrol. Aku tidak tau mengapa kita jadi seperti ini. Mungkin karena kita sudah berubah dalam beberapa tahun ini. Maaf mengenai kemarin. Karena ini adalah ulangtahun pertamamu setelah kita bertemu, aku ingin memberikan kejutan. Tapi ternyata berakhir seperti ini. Maafkan aku Mi Ri. Aku akan memikirkan mengapa kita menjadi seperti ini. Makanlah makananmu. Aku juga membuatkan sup rumput laut untukmu. Walaupun sudah terlambat, tapi.... Selamat Ulangtahun." M Ri memakan sup rumput laut buatan Hee Joo itu sambil menangis. Sementara itu Hee Joo sedang berada di gereja dekat panti asuhannya dulu berada.


Mi Ri berniat keluar rumah dan saat akan keluar, dia melihat ada beberapa gambar hasil karya Hee Joo. Mi Ri ingat bahwa Myung Hoon pernah berkata padanya untuk mempersipakan portofolio kerjanya. Mi Ri menatap hasil gambar Hee Joo sekali lagi dan kemudian membawanya pergi bersamanya.


Mi Ri pergi ke tempat percetakan dan mengcopy seluruh hasil gambar milik Hee Joo. Dia juga kemudian memutuskan pergi ke toko buku untuk mencari beberapa buku mengenai arsitektur. Dan terakhir dia pergi ke studio photo untuk mengambil pas photo keperluan portofolionya.


Myung Hoon memperlihatkan portofolio Mi Ri itu pada salah seorang seniornya yaitu Direktur Choi. Direktur Choi berkomentar, "Tidak terlalu buruk. Lulus dari Universitas Tokyo dengan nilai yang bergini. Ini luar biasa." Myung Hoon berkata, "Dia sangat bersemangat dan juga penuh tanggung jawab." Direktur Choi melihat foto Mi Ri dan bertanya, "Hmm sepertinya aku pernah melihat dia di suatu tempat. Apakah itu yang kau bawa pada pesta waktu malam itu?" Myung Hoon menganggukan kepalanya. Direktur Choi penasaran dan kembali bertanya, "Apa hubungan kalian berdua? Jangan coba membodohi aku! Aku tidak buta." Myung Hoon mencoba mengalihkan pembicaraan namun Direktur Choi tetap penasaran akan status Mi Ri dan Myung Hoon, "Hmm aku berharap kau bisa menemukan seorang wanita kembali." Akhirnya Myung Hoon buka mulut, "Bekerja di tempat yang sama itu membuat kami tidak nyaman." Direktur Choi tertawa karna itu artinya Myung Hoon mengakui bahwa dia ada hubungan dengan Mi Ri. Direktur Choi semakin penasaran dengan sosok Mi Ri, "Apa dia cukup baik?" Myung Hoon menjawabnya dengan anggukan kepala. Direktur Choi berkata, "Aku akan meminta bantuan Tuan Park sehingga mungkin dia bisa bekerja di sebuah University. Ah aku sudah mengatur jadwal bertemu Tuan Park, jadi hubungi aja Mi Ri agar dia bersiap. Di usia kita yang seperti ini, tidak mudah mencari cinta lagi." Myung Hoon dan Direktur Choi sama-sama tersenyum.


Myung Hoon memberi tahu Mi Ri mengenai pekerjaan yang bisa di dapatkan oleh Mi Ri, "Kau akan memulainya sebagai dosen. Dan jika responnya bagus maka kau bisa pindah ke bagian televisi atau pun media." Mi Ri sangat senang mendengarnya, "Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi." Myung Hoon bertanya, "Apa kau senang?" Mi Ri mengangguk, "Tentu saja. Aku bahkan tidak pernah memimpikan hal ini. Apakah kau tidak suka aku seperti ini?" Myung Hoon menjawab, "Aku bukannnya tidak suka. Tapi.... itu artinya kita tidak akan sering bertemu kembali. Aku sendiri tidak tau mengapa berkata seperti ini." Mi Ri tersenyum, "Jangan khawatirAku akan sering menemuimu." Mi Ri mengenggam tangan Myung Hoon dan tersenyum. Myung Hoon bertanya, "Melihatmu bahagia, aku ikut bahagia."

Mi Ri terkejut saat melihat ada Shi Young di belakang Myung Hoon. Dengan cepat Mi Ri melepaskan genggaman tangannya pada Myung Hoon dan pergi.


Shi Young mengingatkan pada Myung Hoon agar lebih berhati-hati karna banyak rumor yang beredar di Hotel. Shi Young bahkan mengatakan bahwa para staff berfikir jika Mi Ri memiliki penyakit kejiwaan dan terus menempel pada Myung Hoon, Myung Hoon tentu tidak suka mendengar hal itu, "Jangan katakan hal itu!" Shi Young balas berkata, "Baiklah. Aku tidak akan membicarakan perasaan pribadimu. Tapi sebaiknya kau harus tetap fokus pada Hotel. Aku mohon padamu." Shi Young kemudian berjalan pergi meninggalkan Myung Hoon.


Mi Ri pergi ke dapur hotel dan meminta salah satu chef untuk memasakan teh untuknya. Saat keluar dari dapur, Mi Ri berpapasan dengan Myung Hoon. Mi Ri dan Myung Hoon hanya saling tersenyum dan kemudian pergi ke arah yang berbeda. HP Mi Ri berbunyi dan ternyata itu telfon dari Yoo Hyun.


Mi Ri datang ke sebuah Restaurant dan bertemu dengan Yoo Hyun. Mi Ri berkata, "Maaf aku terlambat datang." Yoo Hyun tidak mempersalahkan hal itu dan dia justru berterima kasih karena Mi Ri mau datang.



Di rumah sakit, Lee Hwa menuangkan teh untuk Ayah Yoo Hyun. Lee Hwa bertanya, "Apakah teh ini dikirim oleh gadis yang sebelumnya itu(Mi Ri)?" Ayah Yoo Hyun menganggukan kepala, "Ya. Dr Jang bilang bahwa teh ini tidak mudah untuk di cari. Butuh waktu untuk mencari teh ini dan Dr Jang bilang bahwa teh ini sangat bagus." Lee Hwa terdiam karena dia penasaran dengan sosk yang dibicarakan oleh Ayah Yoo Hyun itu. Melihat Lee Hwa hanya diam saja, Ayah Yoo Hyun pun bertanya, "Ada apa? Apa kau tidak suka?" Lee Hwa menjawab, "Tidak apa-apa."


Saat pertemuan dengan Mi Ri, Yoo Hyun terlihat banyak terdiam makanya Mi Ri bertanya padanya, "Apa ada masalah? Kau sejak tadi hanya diam saja seperti ada yang mau dibicarakan." Yoo Hyun menjawab, "Hm ya ada yang mau aku bicarakan. Aku terus memikirkan kejadian kemarin. Faktanya aku hanya mau mengucapkan selamat ualng tahun padamu. Sepertinya kau salah paham." Mi Ri berkata, "Muskipun aku tidak terlalu memikirkan hal itu, namun hal itu sedikit sulit dilupakan. Mengapa Hee Joo berkata seperti itu? Mungkin dia bercanda." Yoo Hyun menatap Mi Ri dengan serius, "Apakah aku terlihat seperti orang yang suka bercanda? Aku tidak mungkin bercanda denganmu. Mulai sekarang, aku ingin memiliki hubungan yang sungguh-sungguh." Mi Ri terkejut, "Ah itu... Apa maksudmu dengan hubungan yang sungguh-sungguh?" Yoo Hyun menatap Mi Ri kembali, "Ya aku ingin kedepannya kita bisa membahas hubungan kita ini dengan lebih serius. Apa ada yang salah?" Mi Ri tersenyum, "Tidak. Tadi kau mengatakannya dengan serius makanya aku sedikit bingung menjawabnya. Baiklah jika begitu, aku akan memikirkan hubungan ini."

Yoo Hyun senang mendengar jawaban dari Mi Ri. Yoo Hyun lalu kembali membahas masalah kemarin, "Ah ya mengenai kemarin, aku ingin meminta...." Mi Ri memotong ucapan Yoo Hyun, "Tidak. Itu semua untuk ulang tahunku. Kau melakukannya terlalu banyak. Akulah yang harusnya meminta maaf. Dan lagi mengenai fakta bahwa aku dan Hee Joo kini tinggal bersama, Hmm aku sedikit merasa tidak familiar dengan situasi seperti ini makanya aku bersikap seperti itu. Ini pertama kalinya ada orang yang menyiapkan kejutan untukku." Yoo Hyun tersenyum, "Kalau begitu kita harus merayakannya dengan bersulang kembali. Walaupun ini terlambat, tapi... Selamat Ulang tahun."


Myung Hoon berusaha menghubungi Mi Ri namun Mi Ri tetap tidak mengangkat ponselnya.


Mi Ri mencoba bertanya pada Yoo Hyun, "Ah ya apa pekerjaan Ayahmu?" Yoo Hyun sedikit kaget di tanya seperti itu, "Ah dalam bidang bisnis. Sesungguhnya aku ingin sekali mengetahui lebih banyak tentangmu Mi Ri. Dimana kau di lahirkan, dimana kau hidup, seperti apa Ibu dan Ayahmu." Mi Ri tersenyum, "Aku akan menjawabnya satu persatu nanti." Yoo Hyun balas tersenyum pada Mi Ri. Yoo Hyun ingat akan Hee Joo dan dia pun bertanya akan hal itu pada Mi Ri, "Mengenai Hee Joo..." Mi Ri segera menjawab, "Ah tadi pagi dia pergi ke panti asuhan dulu kami. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Kemarin setelah kau pergi, aku sudah berbaikan dengan Hee Joo." Yoo Hyun kembali lega mendengarnya, "Baguslah. Aku mengkhawatirkan hal itu."

Yoo Hyun bertanya, "Ah, apakah kau bisa mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan orang tuaku?" Mi Ri kembali terkejut. Yoo Hyun menjelaskan maksudnya, "Aku tau bahwa hubungan kita terlalu cepat dan mungkin kau merasa tidak nyaman, tapi aku membicarakan hal ini karena kondisi Ayahku sedang tidak bagus. Saat aku membicarakan tentangmu pada Ayahku, dia terlihat begitu penasaran denganmu. Apakah kau keberatan?" Mi Ri kini ikut tersenyum, "Tidak apa-apa. Walaupun aku merasa sedikit tidak nyaman. Tapi kesehatan Ayahmu lebih penting dari pada perasaanku." Yoo Hyun senang mendengarnya dan mengucapkan terima kasih. Ponsel Mi Ri terus berbunyi dan Yoo Hyun bilang pada Mi Ri agar mengangkat telfonnya itu, siapa tahu telfon yang sangat penting. Dengan terpaksa Mi Ri pamit sebentar untuk mengangkat telfon dari Myung Hoon itu.


Di luar Restaurant, Mi Ri mengangkat telfon dari Myung Hoon dengan kesal, "Hallo. Ya ini aku. Aku sedang tidak jauh dari rumah. Aku merasa sedikit tidak enak badan jadi aku keluar.... APA? Portofolioku? Ah benarkah?" Myung Hoon menjawab, "Ya. Kita akan membicarakan detailnya setalah kau datang. Professornya juga sedang ada disini. Datanglah cepat." Mi Ri tersenyum kembali karna rencananya untuk mendapatkan pekerjaan baru akan segera tercapai.


Mi Ri meminta maaf pada Yoo Hyun karna harus pergi terlebih dahulu untuk wawancara kerja. Yoo Hyun berkata, "Tidak apa-apa. Ini hal bagus untukmu. Aku iri pada bakatmu." Mi Ri tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Yoo Hyun membukakan pintu taxi untuk Mi Ri dan Mi Ri pun kemudian masuk kedalamnya.


Myung Hoon, Direktur Choi dan Professor Park sedang menunggu di sebuah bar. Professor Park bilang bahwa portofolio milik Mi Ri itu sangatlah luar biasa dan sekarang tergantung pada Mi Ri apakah akan menerimanya atau tidak. Myung Hoon terus mengatakan hal-hal yang baik mengenai Mi Ri dan tentu membuat Professor Park penasaran seperti apa sosok Mi Ri sebenarnya. Direktur Choi bertanya,"Ngomong-ngomong mana dia? Apakah dia akan datang?"

Tidak lama kemudian terlihat Mi Ri yang masuk kedalam bar itu. Direktur Choi berkata pelan pada Myung Hoon, "Wow bahkan dia lebih cantik dari pada di fotonya." Mi Ri menghampiri mereka dan memperkenalkan dirinya. Myung Hoon juga kemudian memperkenalkan Professor Park yang merupakan dosen dai University of Korea. Mi Ri tersenyum dan kemudian mengambil duduk di samping Myung Hoon.


Mi Ri mengedarkan pandangannya pada tamu bar dan ia terkejut saat melihat ada Hirayama di dalam bar itu juga. Myung Hoon yang melihat bahwa Mi Ri diam saja pun bertanya, "Apa kau mengenal seseorang disini?" Mi Ri menjawab dengan gugup, "Tidak. " Myung Hoon kembali bertanya, "Apa kau mau minum sesuatu?" Karena kehadiran Hirayama itu Mi Ri terlihat jadi diam bahkan tidak mendengarkan pertanyaan Myung Hoon.


Yoo Hyun datang ke panti asuhan dulu tempat Hee Joo berada dan dia sengaja datang ke tempat itu untuk membicarakan sesuatu dengan Hee Joo. Yoo Hyun berkata pada Hee Joo, "Sebenarnya aku mau mengatakan hal ini besok saja dikantor. Tapi aku ingin bertemu denganmu. Itulah mengapa teman itu bagus." Hee Joo hanya tersenyum, "Kau benar." Yoo Hyun kemudian mengatakan apa tujuannya datang ke tempat Hee Joo, "Dalam eberapa hari kedepan, aku ingin membawa Mi Ri kerumahku untuk mempertemukannya dengan Orang tuaku." Senyum Hee Joo seketika langsung menghilang.

Karna Hee Joo diam saja, Yoo Hyun pun bertanya padanya, "Ada apa? Apa ada yang salah?" Hee Joo menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kau sepertinya sangat menyukai Mi Ri." Yoo Hyun tersenyum malu, "Ya. Memikirkan ini semua, aku harus berterima kasih padamu. Kau sangat membantuku. Kemarin juga kau sudah membantuku. Ini sepertinya aku dan Mi Ri memang ditakdirkan bersama. Bertemu di penginapan, di apartemen Chul Jin dan di Hotel A. Bahkan saat aku mendengar bahwa kami satu Universistas dulu, itu sangat...." Hee Joo menatap Yoo Hyun dengan serius, "Apa yang kau suka dari Mi Ri? Apakah hanya karna kalian dulu satu universitas?" Yoo Hyun terlihat bingung, "Mengapa kau bertanya seperti itu?" Hee Joo menundukan kepalanya, "Aku hanya merasa bahwa kau tidak mengerti Mi Ri." Yoo Hyun bingung dengan sikap Hee Joo ini, "Ini terlihat seperti bukan dirimu." Hee Joo berkata lemah, "Maafkan aku. Setiap hari aku mengatakan pada diiku bahwa ini baik-baik saja dan aku harus mentolerinya. Aku juga suka..." Hee Joo menghentikan ucapannya. Yoo Hyun bertanya khawatir, "Ada apa? Apakah kau masih terluka atas ucapan Mi Ri kemarin?" Hee Joo kembali meminta maaf dan berjalan pergi meninggalkan Yoo Hyun sambil menahan tangisannya.


Yoo Hyun berlari mengejar Hee Joo namun Hee Joo sudah tidak terlihat lagi karena dia bersembunyi di dalam sebah gereja. Setelah kepergian Yoo Hyun, Hee Joo berdoa di gereja, "Tuhan... Aku semakin menyukainya. Apakah karena hal ini maka hubungan pertemananku dan janjiku harus rusak? Aku tau bahwa aku tidak bisa seperti ini. Tapi hatiku juga perasakan sakit. Kumohon bantu aku Tuhan. Tolong buat aku menjadi lebih kuat dan mengakhiri rasa sakit ini. Kumohon bantu aku."





Direktur Choi, Profesor Park dan juga Myung Hoon terlihat bercakap-cakap. Sementara pandangan mata Mi Ri terus tertuju pada Hirayaman. Direktur Choi tiba-tiba bertanya pada Mi Ri, "Apakah kau memiliki hubungan dengan Myung Hoon? Apa kau mencintainya?" Mi Ri terlihat bingung menjawabnya karena dia tadi tidak mendengar jelas pertanyaannya. Mi Ri melihat bahwa Hirayama memberikan tanda pada Mi Ri agar bertemu di kamar mandi. Mi Ri mengerti dan kemudian pamit pada Myung Hoon sebentar untuk pergi ke kamar mandi.


Mi Ri masuk kedalam kamar mandi khusus wanita dan ternyata Hirayama sudah menunggunya. Hirayama langsung mendekati Mi Ri dan berkata, "Aku bisa katakan bahwa hari ini adalah hari kebeuntungaku karna bertemu denganmu Mi Ri. Kau harus membayar padaku 3.000.000, kau mengerti? Aku ingin dompet yang tebal. Awalnya aku ingin meminta 5.000.000". Mi Ri kesal mendengarnya, "Baiklah aku akan memberikannya tapi jangan ganggu aku lagi!!"


Myung Hoon berkata pada Direktur Choi dan Proffesor Park bahwa dia mau ke kamar mandi. Myung Hoon berjalan melewati kamar mandi wanita dan mendengar ada suara laki-laki. Myung Hoon tidak mempedulikan hal itu dan hendak berjalan ke arah kamar mandi pria tapi langkahnya itu terhenti saat melihat Mi Ri keluar dari kamar mandi wanita. Mi Ri juga terlihat terkejut saat melihat ada Myung Hoon. Mi Ri hanya tersenyum dan kemudian kembali ke tempatnya tadi. Saat Myung Hoon akan masuk ke kamar mandi pria, dia kembali di kejutkan saat melihat laki-laki(Hirayama) keluar dari kamar mandi wanita.