The Moon That Embraces the Sun 10


Raja minta Wol membantu mengurangi keresahan hatinya, apa kau bisa melakukannya? Jawab aku.
Wol berkata akan melakukan segalanya yang ia mampu.
Raja : Angkat wajahmu.

Ratu Yoon memberanikan diri membuka pintu kamar dan melihat Raja bersama seorang wanita, ia tertegun melihat pandangan Raja pada Wol.

Ratu ingin membuka pintu, tapi Woon menutupnya.

Ratu menahan marah dan berkata pada Hyung Sun, kalau ia datang karena mencemaskan Raja, itu saja. Kau tidak perlu melaporkan ini pada Yang Mulia. Ratu pergi.

Raja memanggil Hyung Sun, ia ingin dipanggilkan tabib istana. Hyung Sun cemas, apa Raja tidak enak badan?
Bukan aku, kata Raja, tapi dia. Maksudnya Wol.

Hyung Sun melarang Raja melakukannya, Tabib istana hanya dipanggil untuk memeriksa Raja dan keluarganya, bagaimana boleh memeriksa seorang peramal?
Raja : Jika badannya tidak sehat, itu akan mempengaruhiku juga.
Hyung Sun masih protes, tapi Raja sudah bilang ini perintah! Hyung Sun akhirnya kabur keluar.

Kim Chae Woon jalan keluar untuk berjaga. Seorang penjaga mendekat dan Woon tanya apa yang dibawanya. Penjaga itu menunjukkan surat Wol. Sepertinya peramal itu ingin memberikannya langsung pada Raja, jadi penjaga itu mengambilnya.
Penjaga itu memberikan surat Wol pada Woon.

Ratu Yoon kembali ke kamarnya, ia marah, sakit hati, terhina dan kesal. Ratu ingat pandangan Raja pada Wol, ekspresi Yang Mulia seperti seorang pria memandangi seorang wanita.

Ratu Yoon melempar barang2 dan menangis marah. Jo Sanggung dan pelayan masuk, mereka kebingungan. (Yah, biarpun Ratu menikah dengan Raja karena kepentingan politik, memang seharusnya Raja tidak seperti ini pada Ratu. Kupikir Sukjong lebih bijaksana untuk urusan Inner courtnya.)

Tabib Istana datang untuk memeriksa Wol, Raja duduk sambil membaca, tapi sesekali melihat Wol. Hyung Sun mengamati gerak gerik Raja.

Setelah itu, Raja tidur dan Wol duduk menungguinya. Wol pergi karena Raja sudah tidur. Tapi saat Wol keluar, Raja membuka matanya lagi. Selama ini Raja sama sekali tidak tidur.

Paginya, Woon memberikan surat Wol pada Raja. Woon akan mengembalikannya jika Raja tidak mau melihatnya.
Raja memintanya dan membaca surat Wol.
"Rumput tidak ada artinya. Meskipun mereka tidak cantik, mereka masih memiliki kegunaaan. Peramal yang tidak dianggap sebagai manusia, mereka tetap ada untuk manusia. Meskipun peramal tidak dianggap sebagai manusia, kami tetaplah bagian dari rakyat Yang Mulia."

Raja ingat kata2nya pada Wol, jika kau bukan manusia, kenapa berani menyentuh tubuhku?

Raja : Peramal juga manusia, mohon jangan rendahkan saya. Singkat tapi mengena.

Hyung Sun melihat surat itu dan ia heran, jarang sekali seorang peramal bisa membaca karakter Hanja/Chinese, lebih mengagumkan lagi kalau seorang peramal bisa menulis kata-kata seindah ini.
Hyung Sun nyengir dan Raja mendelik pada Hyung Sun. Raja jadi ingat surat Yeon Woo, waktu ia kagum, kenapa anak usia 13 th bisa menulis seperti ini.

Hyung Sun : Chon Na!
Raja : Kenapa kau memanggilku?

Hyung Sun mengingatkan, kalau gadis itu hanyalah peramal wanita. Raja berkata, siapa yang bilang bukan?

Hyung Sun berkata ia sudah melayani Raja bertahun-tahun dan bisa mengerti pikiran Raja. Peramal itu ..bukan Yeon Woo agassi, Yang Mulia.
Hyung Sun : Tidak peduli betapa miripnya mereka, Yeon Woo agassi sudah..
Raja marah, tutup mulutmu! Jangan bicara lagi! Aku tidak mau melihatmu, palingkan wajahmu!

Tapi kali ini Hyung Sun tidak pergi, ia justru menyampaikan tentang kedatangan Ratu. Ratu sudah menyingkirkan harga dirinya sebagai wanita dan ingin masuk, tapi akhirnya kembali dan pergi.
Hyung Sun ingin Raja memikirkan perasaan Ratu. Mohon Yang Mulia berempati pada Ratu.

Jo Sanggung lari menemui Ratu, Yang Mulia, Jung Jeong. Yang Mulia Raja akan datang mengunjungi anda.
Ratu masih tiduran dan ia langsung duduk, wajahnya langsung berseri, cepat bawakan baju dan perhiasanku, cepat.

Raja jalan bersama rombongan ke Daejojeon. Ratu Han melihat rombongan anaknya dan ia tampak gembira.
Ratu Han menemui Ibu Suri, ia menyampaikan kabar gembira itu. Ibu Suri senang, ia berkata ini karena kehebatan Peramal Jang.

Ratu Han merasa ini bukan karena peramal. Ibu Suri tetap yakin pasti karena itu. Ibu Suri bahkan ingin mengajukan tanggal malam pertama Raja dan Ratu.
Ratu Han keberatan, bukankah tanggalnya sudah ditetapkan.

Ibu Suri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Langit memihak kita. Hubungan Raja-Ratu juga membaik, saat kesehatan Raja juga semakin baik, bagaimana kita bisa membiarkan kesempatan ini begitu saja?

Raja menemui Ratu, ia minum teh dan berkata kalau Ratu kelihatan tidak sehat. Ratu tampak senang karena Raja mencemaskannya, tapi ia berkata baginya kesehatan Raja adalah yang paling utama.
Raja : Kudengar kau ..datang ke kamarku semalam.

Ratu terkejut, tapi ia mengaku dan minta maaf. Ia hanya mencemaskan kesehatan Raja.
Raja : Apa yang ingin kau awasi?

Ratu : Awasi? Bagaimana Yang Mulia bisa mengatakan awasi?

Raja berkata apapun yang dilihat atau didengar Ratu, tidak ada siapapun di kamarnya semalam. Jika kau memang melihat sesuatu, itu hanya jimat yang dikirim kantor Feng shui.
Raja minta Ratu tidak mendekati kamarnya sampai dengan tanggal malam pertama mereka. Raja pergi.

Ratu gemetaran menahan marah, akhirnya ia menangis sakit hati, apa yang sebenarnya ingin kau sembunyikan? Apa alasannya melarangku datang?
Ratu menghela nafas, ia minum teh dan memanggil Jo Sanggung.

Ratu ingin Jo Sanggung mencari apa ada Jimil (Pelayan Raja) yang bisa mereka pakai. Kalau sudah ketemu, suruh dia mengamati diam-diam peramal yang menghabiskan setiap malam bersama Yang Mulia.
Ratu : Lalu laporkan semua yang ia lakukan padaku.

Yang Myung-gun menanyakan Wol pada pemilik toko kertas, apa kau tidak mengingat wanita yang bersamaku disini waktu itu?

Pemilik toko ingat, dia gadis yang anggun dan pendiam, kukira ia adalah putri seorang Profesor (Tuan Heo memang Kepala Profesor), dia seorang peramal?
Yang Myung-gun : Dia kesini tidak setelah hari itu?
Pemilik toko : Tidak.

Yang Myung-gun menghela nafas dan jalan keluar. Ia berpapasan dengan 3 peramal tapi tidak memperhatikan mereka. Salah satunya adalah Jansil yang langsung mengenali Yang Myung.

Yang Myung masih memikirkan Wol dan memikirkan kata2 Menteri Na. Salah satu dari mereka pasti bohong padaku.

Tiba-tiba Jansil muncul di dekat Yang Myung, Orabeoni! Kau hidup! Yang Myung kaget, Jansil langsung memeluknya dengan erat.

Yang Myung panik, tunggu..tunggu dulu! Yang Myung melepaskan Jansil, kau tidak seperti gisaeng.

Jansil kesal, aku memang bukan gisaeng, apa kau tidak lihat? Aku ini peramal Seongsucheong.
Yang Myung-gun : Peramal Seongsucheong?
Jansil mengingatkan, batu ajaib, kau tidak ingat?

Yang Myung akhirnya ingat, ah kau anak yang bisa melihat seseorang dengan mata tertutup itu? Kau sudah tumbuh jadi seorang wanita.
Yang Myung : Aku hampir tidak mengenalimu. Kau baik-baik saja selama ini?

Jansil mengiyakan, ini semua karena kebaikan ibu angkatnya yang melindunginya. Aku bukan peramal palsu lagi, tapi benar2 peramal asli.
Yang Myung senang mendengarnya, ia kemudian teringat Wol, ia tanya apa ada peramal bernama Wol di Seongsucheong.

Jansil hampir saja mengiyakan, tapi ia ingat peringatan Nok Young. Jansil langsung tutup mulut dan menggeleng, tidak ada. Aku belum pernah mendengar nama Wol.

Yang Myung memegang lengan Jansil, jangan seperti ini, ayo ingat lagi.

Jansil : Sudah kubilang aku tidak tahu.
Dua peramal lain memanggil Jansil. Jansil berkata kalau jodoh, mereka akan bertemu lagi. Ia pergi.

Yang Myung : T..tunggu!
Yang Myung putus asa, kalau tidak di Seongsucheong lalu dimana?

Wol tidur pulas, Seol duduk menjaganya. Jansil pulang dan duduk disamping Wol. Jansil tidak semangat. Seol heran, tadi kau ceria saat berangkat, kenapa waktu pulang jadi seperti ini?
Jan Sil berbaring di samping Wol, maafkan aku, Orabeoni..benar..benar minta maaf.

Wol bermimpi lagi, ia melihat saat PM Hwon menari dan mengajak Yeon Woo pergi. PM Hwon akan membuka topengnya..dan Wol terbangun karena kaget.
Seol : Agassi! Kau mimpi lagi? Apa mimpi yang sama?

Wol mengangguk. Seol heran sudah lama tidak bermimpi, kenapa sekarang mimpi lagi.
Seol : Apa kali ini, kau tidak bisa melihat wajahnya lagi?

Wol mengiyakan, padahal ia ingin sekali melihat wajahnya. Seol menghela nafas, ia bicara dalam hati, apa kau tidak tahu kalau kau menemani orang itu setiap malam?

Wol dibawa menemui Raja. Raja tidak tidur, ia duduk membaca. Woon masuk dan duduk di sudut. Wol duduk di depan Raja.
Raja menyindir, Wol memukulnya dengan surat, aku merasakan kemarahanmu padaku.

Wol terkejut, ia tidak marah. Raja berkata meskipun Wol berkata tidak marah, tapi surat Wol jelas menegur Raja. Apa aku salah?
Wol : Kata2 nasihat karena kesetiaan, dan kemarahan karena emosi pribadi adalah dua hal yang berbeda.

Raja : Kau tidak mengeluh tapi tetap menyalahkanku, ya kan?

Wol : Saya hanya ingin berkata, kalau kerikil di tepi jalan punya alasan untuk keberadaan-nya. Peramal seperti saya, adalah satu dari rakyat Yang Mulia, juga ingin melakukan yang bisa ia lakukan untuk Yang Mulia.
Raja : Kau jelas memarahiku. Kau berkata kalau Raja negeri ini tidak mampu mengerti pikiran dari orang biasa.
Apa kau ingin mencoba menyadarkanku kalau aku tidak kompeten?

Wol berkata itu bukan yang ingin ia katakan. Jika pembaca curiga dan salah pengertian, maka akan menimbulkan salah paham. Wol berkata Raja salah mengerti maksudnya.

Raja : Jadi maksudmu, aku penuh dengan kecurigaan dan salah paham dengan maksud sebenarnya dari surat ini, jadi aku juga tidak bisa mengurus masalah politik?
Wol bingung, bukan itu maksudnya.

Raja marah, hanya karena aku menunjukkan perhatian padamu, sekarang kau mulai melewati batas. Apa kau lupa dengan siapa kau bicara? Aku ini...
Raja terdiam, ia ingat saat mengatakan hal yang sama pada Yeon Woo waktu remaja.

Raja tiba2 berdiri dan memanggil Hyung Sun. Bersiaplah, aku ingin jalan2. Aku merasa sesak disini.

Hyung Sun melarang karena diluar udaranya dingin sekali. Tapi Raja tetap ingin keluar. Raja juga mengharuskan Wol ikut, kau jimatku kan? Kau harus selalu mengikutiku.

Raja jalan ke bekas paviliun Bulan Tersembunyi. Raja menyuruh semua mundur, termasuk Woon. Hyung Sun dan yang lain mau tidak mau mundur.

Wol juga jalan mundur, tapi tangannya ditahan Raja, kau tetap disini, karena kau jimatku. Raja minta yang lain mundur lagi.

Wol menoleh dan termangu melihat pintu paviliun yang sudah disegel. Tiba2 ia ingat saat membuka jendela dan melihat PM Hwon di depannya. Lalu saat ia keluar menemui PM Hwon. Saat Yeon Woo harus keluar istana karena sakit dan PM Hwon menangis histeris memanggilnya.

Wol : Apa anda mengubur kesedihan anda di tempat ini? Apa orang yang menangis disini adalah anda, Yang Mulia?

Raja terkejut, apa yang sebenarnya kau lihat? Raja menarik Wol ke pelukannya, woa. Menyentuh wajah Wol, apa kau menggunakan kemampuanmu sebagai peramal untuk melihat?
wol mengiyakan. Kasim dan para dayang sudah sejak tadi memalingkan wajah mereka.

Raja ingin Wol menggunakan kemampuan meramalnya untuk menebak, apa yang akan dilakukan Raja berikutnya.
Raja : Kasim mengatakan sesuatu yang aneh padaku. Apa menurutmu, aku akan memperhatikan peramal rendahan seperti dirimu?

Wol bingung, kenapa Yang Mulia seperti ini..?
Raja tiba-tiba menarik tangan Wol dan mengajaknya lari. Hyung Sun dan para dayang kaget, mereka segera lari menyusul Raja.

Woon menunggu sampai semua lewat, ia lalu lari ke arah berlawanan. Woon tahu kemana Raja pergi.

Raja membawa Wol ke satu ruangan pribadi, ia tanya siapa sebenarnya Wol. Wol berkata, saya peramal Wol.
Raja : Bukan, kau bukan Wol.

Wol : Lalu saya bisa menjadi siapa lagi? Saya hidup sebagai peramal tanpa nama. Saya Wol, Yang Mulia yang memberikan nama ini pada saya.

Raja menahan tangis, apa kau benar..tidak bisa mengenaliku? Apa kau belum pernah bertemu denganku sebelumnya?

Hyung Sun tiba di depan kamar itu dengan terengah-engah. Woon sudah berdiri disana, ia menunjuk kamar dengan dagunya.

Wol : Yang Mulia, apa anda mencari jejak orang itu dalam diri saya?
Siapa yang anda lihat melalui saya, Yang Mulia? Apa gadis yang dipanggil Yeon Woo itu? Apa karena saya mirip dengan wanita itu? Tapi saya bukan wanita itu.

Raja terpukul, tutup mulutmu! Kau benar2 melewati batas sekarang. Hanya karena aku mengijinkanmu tetap disisiku, bukan berarti aku menyukaimu.

Raja jalan pergi dan hampir terjatuh. Wol mencemaskannya. Raja marah, beraninya kau..beraninya kau membuatku bingung?

Raja : Jangan mendekatiku. Jika kau melanggar batas lagi, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.

Raja jalan keluar. Hyung Sun hanya mendekat dan memakaikan jubah untuk Raja. Raja berkata ke Wol, kalau malam ini ia akan tidur sendiri, kau tidak perlu mengikutiku lagi.
Raja jalan meninggalkan Wol. Tapi ia masih minta Woon mengawal Wol kembali ke Seongsucheong dengan diam-diam. Setelah itu, kau harus pergi ke satu tempat.

Nok Young berdoa. Tiba2 ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia jalan keluar.
Wol berdiri diam dan mengingat kata2 Raja. Nok Young terkejut melihatnya, kenapa kau berdiri disini, padahal kau seharusnya ada di samping Yang Mulia?

Nok Young khawatir, apa terjadi sesuatu?
Wol : Ibu angkat. Siapa..sebenarnya aku ini?

Nok Young terkejut, kenapa tiba2 tanya hal ini. Wol berkata ia melihat banyak hal, jelas itu bukan ingatan-nya, tapi sepertinya ia benar2 mengalami semuanya itu.

Nok Yung hanya berkata ini karena kemampuan supranatural Wol masih belum matang, sehingga menimbulkan delusi.
Wol : Aku tidak mungkin jadi pemilik kenangan itu, ya kan? Tidak peduli betapa mirip aku dengan orang itu, aku tidak mungkin jadi orang itu, ya kan?

Seol mendengar kata2 Wol dan menangis sedih.

Yeom berdiri di halaman rumah, ia merenung dan tampak sedih. Seol memandanginya. Tiba2 ia mendengar suara. Yeom waspada, ia jalan mendekat, siapa itu?
Yang Myung-gun tiba2 muncul sambil merentangkan tangan. Ia ketawa lebar. Yeom kesal, Yang Myung-gun! anda mengejutkanku!

Yang Myung ketawa, aku sengaja melakukannya. Yeom tidak mengerti, kenapa anda selalu melompati tembok setiap kali datang kesini?
Yang Myung berkata lebih terbiasa dengan tembok daripada pintu depan, lagipula ini sudah melewati jam malam, sulit sekali menghindar dari petugas patroli.

Yeom mengajak Yang Myung masuk untuk minum, ini dingin sekali.

Tiba2 Woon muncul. Yang Myung kali ini benar2 kaget, Yeom juga. Yang myung protes, kau mengejutkanku.
Yeom tanya, kau kesini sebagai teman lama, atau sebagai utusan Raja?

Ketiganya masuk dan minum bersama. Woon menyampaikan undangan Raja, Yang Mulia memerintah Uibin untuk mengunjungi istana.

Yeom ingin tahu kenapa tiba2 memanggilnya ke istana, tapi ia tahu Woon tidak akan menjawabnya tanpa perintah Raja.
Kim Chae Woon berkata akan pergi, saya sudah lama meninggalkan posisi saya.

Tiba2 Woon terpaku melihat selembar kertas dengan tulisan tangan berhias lukisan bunga.
Yeom berkata itu dari Yeon Woo, sebagai hadiah ulang tahun.

Woon : Jadi ini tulisan tangan adik anda? Indah sekali.

Yeom membenanrkan, ia benar2 luar biasa. Tidak hanya dalam bidang seni, tapi juga sastra. Sayang ia dilahirkan sebagai wanita.
Ia juga anak yang baik dan sopan. Tapi kenapa kau tiba2 menanyakan ini?

Woon : Karena terlihat mencolok, itulah mengapa saya bertanya.

Seol masih mengamati kediaman Yeom, ia menghela nafas dan jalan pergi.
Woon diam-diam mengawasi Seol. Saat Seol lengah, Woon menyerangnya tiba-tiba, siapa yang mengirimmu kesini? Kenapa kau mengamati kediaman Uibin?

Seol menahan pedang Woon, ia tidak menjawab dan melarikan diri.

Woon heran melihatnya, ia seperti mengenal Seol, orang ini..

Di dalam, Yang Myung-gun mengira Woon mulai tertarik pada wanita. Yeom merasa bukan seperti itu. Lalu ia berkata kalau ia dengar Yang Myung sudah memiliki kekasih, apa itu benar?
Yang Myung mengeluh, adiknya pasti sudah mengatakannya.

Yeom ingin tahu seperti apa wanita itu. Yang Myung juga ingin tahu, orang seperti apa dia, karena aku juga tidak tahu. Yeom bingung.

Yang Myung merasa sedih dan mengaku, kalau sebelum Yeon woo dipilih jadi Putri Mahkota. Yang Myung pernah melompat tembok dan mengajak Yeon woo lari.
Tapi apa kau tahu tanggapan adikmu? Yeon woo berkata :Lelucon ini sama sekali tidak lucu.

Yang Myung menahan tangis, matanya yang berkilauan terlihat sangat tegas, sampai aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Yeom : Pangeran!

Yang Myung : Tapi jika saat itu aku..tidak pura2 tersenyum dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya, jika aku lebih berani dan mengulurkan tangan padanya.
Jika aku menunjukkan perasaan yang sebenarnya, dan memintanya melarikan diri bersamaku, maka apa dia sekarang akan..berada disisiku?

Yeom menghela nafas, ia juga tidak tahu dan Yang Myung hanya menangis.

Wol belum tidur, ia duduk sambil merenung. Seol pulang dan justru terkejut melihat Wol, kau belum tidur?
Wol : Darimana saja kau malam-malam seperti ini?

Wol melihat baju Seol sobek, bagaimana ini bisa terjadi? Seol berkata ia membuat kesalahan saat latihan pedang. Bajunya sobek, aku tidak luka.
Wol : Kau sebenarnya pergi kemana?

Seol berkata ia mengunjungi bekas majikannya. Wol tersenyum, mereka pasti sangat baik, sehingga Seol masih mengunjungi mereka sampai sekarang.

Seol membenarkan, mereka benar2 orang yang sangat baik. Di saat orang lain memperlakukanku seperti hewan, mereka memperlakukanku selayaknya manusia. Dan memberiku nama Seol. Nama yang sangat indah.
Wol tersenyum mendengar kisah Seol. Seol berkata dalam hati, Agassi, kaulah orang yang baik itu.

Yeom teringat kata2 Yang Myung-gun, kalau baginya Yeon Woo masih selalu berusia 13 th. Yeom masuk ke kamar Yeon woo dan melihat papan baduk (catur Cina) yang biasa mereka mainkan berdua.

Yeom mengambil biji baduk dan ingat kata2 Yeon Woo, kalau kakak sudah maju, pantang mundur lagi. Kakak yang mengajariku itu. Hati manusia seperti itu juga, jadi apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah bisa melupakan Yang Mulia Putra Mahkota.
Yeom menyentuh papan baduk dan membukanya. Ia terkejut saat menemukan surat terakhir Yeon Woo itu. Akhirnya..surat itu ditemukan juga.

Yang Myung-gun melihat seseorang dan ia sedikit takut, kau hantu apa manusia? haha..ekspresinya itu lo.
Ternyata Jansil (ampun..anak angkat Nok young memang suka main malam2 ya haha), ini aku Orabeoni.

Yang Myung : Apa yang kau lakukan malam2 seperti ini?
Jansil minta maaf, aku salah. Yang Myung tidak mengerti, apa yang harus dimaafkan?

Jansil memeluk Yang Myung, orang yang kakak cari..aku akan membantumu bertemu dengannya. Karena kakak adalah penyelamat hidupku. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku, aku akan membalas kebaikanmu.

Aku akan pastikan kau bertemu dengannya lagi. Jadi jangan terlalu bersedih.
Yang Myung menahan kesedihannya.

Yeom duduk dan memegang surat Yeon Woo erat2. Raja tidak bisa tidur malam ini, ia melihat tempat dimana Wol biasa duduk.

Paginya, P. Min HWa berkeras menemani ibu mertuanya dan tidak mau istirahat. Ny. Heo tersenyum, ia sudah merasa lebih baik karena P. Min Hwa.
Yeom masuk kamar ibunya. Ia terkejut melihat Min Hwa. Ibunya berkata kalau Min HWa terus menemaninya.

Yeom mengucapkan terima kasih karena Min Hwa bersedia susah payah. Min Hwa malu, bagaimana kau bisa mengatakan itu padahal kita suami-istri?
Min Hwa menoleh dan heran saat melihat Yeom mengenakan jubah resmi. Suamiku, kau mau masuk istana Raja?

Yeom membenarkan, ia terima perintah Raja semalam. Min Hwa sebenarnya ingin ikut juga. Yeom minta maaf, kalau begitu nanti ia akan mengatakan dulu pada istrinya.
Yeom berangkat. Ibunya pesan agar Yeom tidak membuat Raja cemas dan harus berhati-hati.

Min Hwa tampak sedikit muram dan ibu mertuanya tanya apa Min Hwa kesal karena tidak bisa ikut pergi?
Min Hwa : Tidak, hanya saja saya cemas.
Ny. Heo heran, apa yang harus dicemaskan? Min Hwa geleng kepala, setiap kali suaminya masuk istana ini yang terjadi...

Menteri Perpajakan jalan dan melihat para gungnyeo terpesona. Ia salah sangka dan mengira dayang2 itu terpesona padanya.

Padahal Yeom yang membuat dayang2 itu mabuk kepayang haha..itu yang dicemaskan Min Hwa. Untung tidak ada sinar lagi dari kepala Yeom.

Yeom menemui Raja. Raja berdiri menyambut gurunya itu, Guru! Yeom mohon Raja duduk agar ia bisa memberikan penghormatan dengan semestinya.
Raja : Tidak perlu.

Raja minta Hyung Sun menyiapkan makanan, ia juga melarang semua menemuinya agar bisa ngobrol bebas dengan Yeom.

Yoon Dae Hyung beserta kru bertemu, mereka tidak terima kenapa Uibin masuk istana. Uibin seharusnya tinggal tenang seumur hidupnya sampai hari kematian-nya.
Uibin dilarang melakukan segala kegiatan yang berbau politik, ini sudah hukumnya.

Para menteri cemas karena mereka pasti akan kalah populer dengan Uibin. Apa Raja ingin minta Heo Yeom memimpin Faksi Pelajar.
Heo Yeom adalah figur yang sangat kuat diantara Faksi Pelajar, keberadaan-nya saja bisa menggerakkan mereka. Bahkan lebih kuat dari mendiang ayahnya. Apa maksud Raja?

Heo Yeom meletakkan surat Yeon woo di depan Raja. Raja tanya apa ini.
Heo Yeom : Ini surat terakhir adik saya yang tertinggal. Saya ingin melupakannya, karena sudah berlalu. Tapi kemudian saya pikir saya harus memberikannya pada pemilik sesungguhnya, meskipun sudah terlambat. Ini yang seharusnya dilakukan.

Raja gemetar, apa ini benar2 surat Yeon Woo untukku? Yeom mengiyakan.
Raja menangis, ini adalah yang ditinggalkan Yeon woo untuk terakhir kalinya..

Yeom berkata saat adiknya masih hidup, hanya ada satu suami dalam hatinya, yaitu anda Yang Mulia.

Heo Yeom : Karena surat ini dari seorang pendosa, seharusnya surat ini dibakar. Jika Yang Mulia bisa melakukannya sendiri, jika anda benar2 akan melakukannya sendiri, adik saya di surga pasti akan bahagia. Jadi mulai sekarang, saya mohon lupakan adik saya.

Yang Mulia, anda sudah memiliki Ratu di samping anda, saya mohon jangan membuat Ratu kesepian lagi. Jika Yang Mulia tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang anak itu, hal itu bukan yang diinginkan adik saya. Ini adalah permintaan tulus dari adik saya dan saya.
Mohon penuhilah ini, Yang Mulia.

Raja menangis, semua orang terus saja memintaku melupakan segalanya tentang dia.

Hyung Sun mengantar Yeom keluar, ia minta Yeom lebih sering menemui Raja. Meskipun Yang Mulia tidak mengatakannya, dia sebenarnya sangat merindukan anda.

Yeom : Sebagai seorang Uibin, bagaimana saya bisa sering masuk istana? Jadi saya mohon, jagalah Yang Mulia baik-baik. Yeom jalan pergi.

Hyung Sun bicara sendiri : Uibin, andalah yang seharusnya berada di sisi Yang Mulia.

Raja membaca surat Yeon Woo :
"Yang Mulia Putra Mahkota. Dengan kekuatan terakhir saya. Saya menulis surat ini. Ini akan menambah beban anda. Mungkin, surat ini tidak akan dikirimkan pada anda. Tapi saya tetap mengambil kuas untuk menulis. Sebelum saya pergi, saya bisa bertemu Yang Mulia, saya sungguh sangat berterima kasih. Jadi, saya minta anda jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Saya mohon, lupakan saya. Simpanlah saya sebagai kenangan anda. Ayah akan segera membawakan obat untuk saya. Jadi, setelah ini saya tidak akan bisa bertemu anda lagi selamanya, Yang Mulia.
Saya mohon anda melupakan saya. Tolong jaga kesehatan anda baik-baik. Saya berharap anda bisa menjadi penguasa besar."

Raja menangis dan berkata ke Hyung Sun, anak itu minta aku menjaga kesehatanku, sampai saat terakhir hidupnya. Ia meninggalkan surat ini dengan semua kekuatan-nya.
Tapi aku..tapi aku..

Hyung Sun ikut sedih : Yang Mulia.
Raja : Dia pasti sangat kesakitan. Dia pasti menderita. Tulisan di akhir suratnya sangat tidak rapi dan lemah.

Raja minta Hyung Sun menyuruh orang untuk mencarikan surat dari Yeon Woo waktu itu. Ia tidak bisa ingat tulisan tangan Yeon Woo.

Ratu mendapat laporan dari mata-matanya kalau Raja setelah jalan-jalan malam itu, memerintah jimat hidupnya untuk tidak mendekati kamarnya.
Ratu heran, Raja jalan-jalan? Ditengah malam, mereka jalan-jalan?

Ratu ingin tahu apa yang terjadi. Tapi dijawab tidak ada lagi. Hanya Uibin mengunjungi Raja dan setelah itu Raja terlihat sedih, lalu minta salah seorang dayang membawakan kotak.
Ratu : Kotak?

Pelayan itu membenarkan, seperti kotak biasa, tapi diatasnya ada tulisan 'hujan'.
Ratu terkejut : Tadi..kau bilang hujan (woo)?

Woo or U or Yu in Chinese means : Rain

Raja membuka surat dari Yeon Woo yang dihias bunga2 itu, ia menangis. Tiba-tiba Raja mengambil surat yang ia terima dari Wol dan membandingkannya dengan tulisan tangan Yeon Woo.

Raja teriak ke Woon : Cepat bawa Wol kesini.bawa Wol kesini. Sekarang!

Wol jalan untuk menemui Raja. Tiba-tiba Yang Myung-gun menghentikannya dan menarik Wol, Apa kau mengenaliku?

Raja membandingkan dua tulisan tangan itu. Raja tampak yakin.
Tulisan tangan memang memiliki identitasnya sendiri, apa lagi tulisan hanja dan hangul.


The Moon [1], [2], [3], [4], [5], [6], [7], [8], [9]